Dulu paling tidak saya harus menjalani (sebagai salik) 4 tingkatan dzikir, 6 tingkatan muraqabah, dan 7 maqam sebelum saya bisa berma’rifat kepada Allah, yaitu:
Dzikir Tingkat-1 à Dzikir Ismu Zat;
Dzikir Tingkat-2 à Dzikir Lataif;
Dzikir Tingkat-3 à Dzikir Nafi Isbat;
Dzikir Tingkat-4 à Dzikir Wuquf.
Muraqabah Tingkat-1 à Muraqabatul Itlak (muthlak):
Muraqabah Tingkat-2 à Muraqabatul Ahdyatul Af’aal;
Muraqabah Tingkat-3 à Muraqabatul Ma’iyyah;
Muraqabah Tingkat-4 à Muraqabatul Aqrabiyyah;
Muraqabah Tingkat-5 à Muraqabatul Abdiyyatuzzat;
Muraqabah Tingkat-6 à Muraqabatuzzzaati sharf wal bahri;
Kalau sudah KHATAM 4 tingkat dzikir dan 6 tingkat Muraqabah diatas, barulah akan diberi Allah Maqam sbb:
Maqam Tingkat-1 à Maqam Musyahadah;
Maqam Tingkat-2 à Maqam Muqabalah;
Maqam Tingkat-3 à Maqam Mukasyafah
Maqam Tingkat-4 à Maqam Mukafahah
Maqam Tingkat-5 à Maqam Fanaafillah;
Maqam Tingkat-6 à Maqam Baqaabillah
Maqam Tingkat-7 à Tahlil lisan (lidah) 7 khatam.
Detail dari dzikir, muraqabah, dan maqam ini tidak akan dibahas disini. Tapi esensi yang akan saya sampaikan adalah bahwa dengan tingkatan-tingkatan yang demikian rumitnya, siapa yang tahu maqam saya pada suatu ketika….?. Guru mana yang bisa mengajar saya untuk menjalani maqam-maqam itu…?. Lalu sampai kapan saya baru bisa untuk mencapai maqam orang yang berma’rifat kepada Tuhan…?. Sementara boleh jadi besok, atau beberapa menit lagi nyawa saya diambil oleh Allah. MATI. Ya…, saya sedang berjudi dengan nyawa saya. Lalu kalau saya MATI sekarang juga, saya bisa mati di level mana…?. Padahal kalau saat nyawa saya diambil saya tidak berhasil LURUS kembali kepada Allah, maka semua yang ada nantinya adalah siksa semata. Lalu saya sibuk mengejar target agar mencapai level ma’rifatullah. Akan tetapi semakin saya kejar level ma’rifatullah itu dengan berbagai cara dan mujahadah, rasanya kok semakin tidak saya dapatkan level itu. Saya rasanya makin menjauh dari berma’rifat kepada Tuhan.
Belum lagi berbagai riyadah yang harus saya lakukan untuk mengenal diri saya. Saya sibuk mau mengenal siapa diri saya, saya sibuk mau mengenal hati saya, saya sibuk mau mengenal jiwa saya, saya sibuk mau mengenal ruh saya, saya sibuk masuk ke dalam qalbu saya dan membersihkannya, saya sibuk masuk ke dalam lathaif-lathaif saya dan menyucikannya, saya sibuk dengan fenomena-fenomena yang terhampar di lathaif-lathaif itu. Semakin saya ingin mengenal diri saya, justru yang terjadi adalah saya semakin tidak kenal akan diri saya itu. Apalagi mau kenal dengan Tuhan. Juaauuuh sekali. Karena saya sibuk untuk ingin mengenal siapa diri saya, maka semakin lama “saya semakin ada”, semakin ada, semakin ada. Ooo… ada saya…!!!. Walaupun saya saat itu sedang berwirid menyebut nama Allah, tapi saat itu fokus saya ternyata masih tetap kepada diri saya sendiri. Karena saat itu saya memang sedang mencari kenal terhadap siapa saya ini. Lalu mana bisa saya mampu untuk kenal dengan Allah…??. Wong saya sendiri bingung untuk mengenal diri saya sendiri.
Lalu akhirnya saya menyerah…!. Suatu saat di awal tahun 2001 saya berdo’a dengan sangat sederhana sekali: “Ya Allah…, saya NYERAH…!. Saya NGGAK MUNGKIN bisa untuk berma’rifah kepada-Mu tanpa BIMBINGAN dari-Mu. Bimbing saya dengan ketidaktahuan saya. Tuntun saya dengan kebodohan saya. Beri sinar saya dengan kegelapan hati saya”. Dan saya lalu diam…, tidak melakukan apa-apa. Saya menunggu tuntunan itu.
Nah…, sekarang mari kita mulai saja dengan menguliti shalat yang sangat-sangat dekat dengan keseharian kita.
Mungkin memang banyak orang tidak siap menganalogikan shalat dengan “Makan Pisang”. Bagaimana tidak..., sesuatu yang disakralkan orang selama ini sepertinya dianggap sedemikian sederhananya. MAKAN PISANG. Kenapa.. dan ada apa dengan makan pisang...?.
Ya..., saat kita makan pisang itu ada kegiatan berbarengan dari awal sampai akhirnya. Paling tidak ada kegiatan mengupas kulit pisang, mengunyah pisang, merasakan rasa manis atau sepatnya buah pisang, dan kemudian merasakan kenyangnya makan pisang. Hilang saja salah satu dari kegiatan dan suasana di atas, maka itu bukanlah lagi disebut makan pisang. Tapi mungkin bisa disebut teori makan pisang, atau mencontohkan mengupas pisang, atau mencontohkan mengunyah pisang lalu pisangnya diludahkan kembali.
Begitu juga dalam shalat. Sudah sangat umum beredar di masyarakat bahwa ada 2 kutub ekstrim orang-orang dalam memahami praktek agama, misalnya tentang shalat ini. Pada kutub ekstrim pertama, orang shalat itu baru dianggap sebatas shalat dalam level syariat saja. Biasanya yang mengatakan seperti ini adalah orang yang merasa sudah bershalat pada level ekstrim berikutnya yaitu kutub shalat pada level ma'rifat, atau yang biasa juga disebut dengan istilah “spiritualis”. Sedangkan kelompok yang dikelompokkan lawannya dengan label kutub syariat di atas, lalu melabeli pula kutub ekstrim ma’rifat dengan label kelompok yang mengada-ada yang dalam istilahnya disebut dengan kelompok pengusung BID’AH.
Belum lagi kalau dimasukkan pengelompokan “kutub antara” Tarekat dan Hakekat yang berada diantara dua ujung kutub ekstrim syariat dan ma'rifat di atas. Orang yang mengaku berada di kutub tarekat meyakini bahwa menjalani tarekat bisa menggerek pemrakteknya naik dari kutub syariat menuju kutub hakekat dan akhirnya bertemu dengan kutub ma'rifat. Jadi semacam ada tingkatan-tingkatan untuk mencapai shalat yang sebenarnya. Tanpa tarekat, maka mereka meyakini tidak akan pernah sampai kepada tingkatan kutub ma’rifat. Padahal banyak juga orang yang tahu ilmu syariat, malah tidak shalat, seperti juga banyaknya orang yang merasa telah mencapai taraf ilmu ma’rifat yang tidak mau lagi untuk shalat.
Kondisi pengkutuban agama (shalat) dengan kutub syariat dan kutub ma’rifat seperti inilah yang membuat sebagian besar umat Islam merasa serba canggung sekarang ini. Karena kita telah mempersulit-sulit shalat atau agama seperti kejadian yang telah menimpa kaum Yahudi saat mereka diperintahkan Allah untuk menyembelih seekor sapi betina (lihat surat Al Baqarah 67-71). Karena mereka mempersulit diri mereka dengan berbagai persyaratan yang mereka buat-buat sendiri, sehingga hampir-hampir saja mereka tidak mampu melaksanakan perintah Tuhan itu. Begitu juga dengan kita, karena kita mempersulit-sulit shalat, maka hampir-hampir saja kita tidak mampu melaksanakan shalat itu kalaulah shalat itu tidak DIWAJIBKAN oleh Rasulullah. Hanya karena diwajibkan dan ditakut-takuti dosa dan siksa yang pedih bagi yang melalaikan shalat sajalah yang membuat kita masih mau untuk melaksanakan shalat. Seakan-akan shalat itu adalah untuk Allah. Padahal Allah berkali-kali mengatakan bahwa bahwa shalat itu adalah untuk kita sendiri. Shalat hanyalah sarana atau cara kita untuk minta tolong (isti’anah) kepada Allah seperti yang selalu kita baca dalam surat Al Fatihah dalam shalat.
Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu`, (Al Baqarah 45)
Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (Al Baqarah 153)
Mursyid Al Qur’an…
Mungkin sedikit sekali dari kita yang bisa menyadari bahwa tingkat kepercayaan kita kepada Al Qur’an sebenarnya sudah sangat rendah sekali. Betapa tidak…, berkali-kali Allah menyatakan sendiri bahwa: Al Qur’an itu adalah KITAB yang tidak ada keraguan bagi orang BERTAQWA (Al Baqarah-2); dan diberbagai awal surat-surat lainnya Allah juga menyatakan bahwa Al Qur’an itu sebagai petunjuk yang nyata, sebagai pembeda yang hak dan yang bathil, sebagai penerang dari kegelapan, sebagai peta yang terang bagi orang-orang yang beriman, dan sebagainya. Allah sampai berkali-kali dan berulang-ulang mengingatkan itu. Semua itu diulang-ulang agar kita tidak lupa, agar kita mau kembali kepada Al Qur’an.
Akan tetapi itulah…, yang kita lakukan tetaplah kebandelan demi kebandelan yang akhirnya mengecoh diri kita sendiri. Kita selalu lupa atau malah sengaja melupakan Al Qur’an. Dan alasannya sungguh masuk akal sekali. Sangat logik sekali keterkecohan kita itu. Sangat kental anggapan di tengah-tengah masyarakat bahwa untuk bisa memahami Al Qur’an kita harus melihat Al Hadits. Al Hadits itu pun tidak boleh sembarang hadits, akan tetapi haruslah hadits yang kualitasnya shahih, hasan, mutawatir, dan sebagainya. Lalu kita pun sibuklah mengutak-ngatik Al Hadits. Padahal kalau kita mau menjalankan Al Qur’an sesuai dengan kemampuan kita (seperti kata Al Qur’an itu sendiri), pasti hasilnya tidak akan berbeda dengan Al Hadits.
Begitu pula untuk menafsirkan Al Qur’an itu. Kita ditakut-takuti bahwa untuk bisa menafsirkan Al Qur’an diperlukan banyak syarat atau ilmu yang harus kita punyai, misalnya nahwu, sharaf, asbabun nuzul, balaghah, badi, dan sebagainya. Haruslah KOMPETEN katanya. Lalu kitapun sibuk dengan semua persyaratan untuk mencapai taraf kompetensi itu. Lalu kemudian ada yang merasa bahwa hanya kelompok merekalah yang berhak untuk menafsirkan Al Qur’an itu. Sebentuk keangkuhan baru sebenarnya tengah dibentuk oleh kita sendiri. Keangkuhan “Hak Penafsiran Al Qur’an”.
Lalu jadilah kita-kita, yang tidak punya modal seperti di atas, minder menghadapi Al Qur’an. Kita jadi jauh sekali dari Al Qur’an, karena kita tidak punya otoritas apapun untuk menafsirkannya buat diri kita sendiri. Padahal Al Qur’an itu akan berbicara secara pribadi-pribadi kepada setiap orang. Pribadi sekali bahasa Tuhan itu. Sehingga Al Qur’an juga disebut sebagai BAHASA UNIVERSAL manusia. Lalu bahasa universal itu kita coba batasi dengan bahasa si ahli tafsir Qur’an, dan kita diharuskan pula setuju dengan bahasa sang ahli tafsir itu sehingga kemudian bahasa universal itu berubah menjadi bahasa terkotak-kotak.
Duh kasihan sekali nenek saya yang nggak punya semua ilmu itu…. Nenek saya (almarhumah) tidak mengerti Al Qur’an. Beliau hanya sekedar bisa baca Al Qur’an dengan irama yang sangat biasa-biasa saja. Tapi sampai sekarang saya masih bisa merasakan saat-saat dulu beliau bersimpuh membaca Al Qur’an, saya sangat menikmatinya, begitu menenangkan diri saya. Suatu saat mata beliau tidak dialiri rasa melihat. Beliau lalu bersimpuh, dan berbicara dengan Allah: “Ya Allah ambillah semua yang ada pada saya, tapi jangan ambil melihat saya untuk hanya sekedar bisa baca Al Qur’an”. Dan do’a beliau dikabulkan Allah. Beberapa hari kemudian beliau bisa kembali membaca Al Qur’an yang bertahan sampai akhir hayat beliau beberapa tahun yang lalu. Ya Allah…, mohon rahmat-Mu buat nenek dan kakek saya itu…
Begitulah, semakin lama kita dibawa untuk menjauh dari Al Qur’an. Tapi justru yang menjauhkan kita adalah orang-orang yang mengerti akan arti dan tafsiran dari Al Qur’an itu sendiri. Kita seperti sengaja dibawa jauh dari Al Qur’an walaupun semboyan yang kita pakai adalah “mengikuti Al Qur’an dan As Sunnah”. Karena kita selalu dibawa untuk tunduk saja kepada penafsiran yang datang dari sang ahli tafsir. Sehingga kita binding dan mengikatkan diri pula dengan pendapat mereka. Setiap kita mau memahami ayat Al Qur’an, hampir secara otomatis kita memalingkan wajah kita kepada kitab Al Hadits dan pendapat-pendapat ulama yang mengaku paham akan ayat Al Qur’an itu.
Padahal hampir di semua tempat, ayat-ayat Al Qur’an itu memperingatkan dan menyadarkan kita untuk SELALU menghadapkan wajah kita kepada Allah, mengadu kepada Allah tentang semua kesulitan dan kebodohan kita. Saat kita tidak mengerti tentang Al Qur’an kita diingatkan bahwa ada Allah yang siap untuk Memberi Pengertian, Memberi Pengajaran. Karena Dia adalah Sang A’lim, Sang Murabbi, Sang Waliyyam Mursyida. Karena memang yang paling mengerti akan Al Qur’an itu HANYALAH Allah sendiri. Tapi hampir selalu pula kita mengabaikan peringatan Al Qur’an itu. Kita selalu saja berpaling ke wajah lain untuk meminta pengajaran. Padahal kita banyak yang tahu bahwa:
Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Qur’an), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. (Az Zukhruuf 36).
Inilah bentuk kecemburuan Allah terhadap keberpalingan kita dari pengajaran-Nya yang ada di dalam Al Qur’an. Apalagi keberpalingan dari Wajah-Nya. Tuhan itu sangat pencemburu. Al Qur’an mengisyaratkan agar kita tidak berpaling dari Allah. Akan tetapi begitu kita berpaling dari Allah, maka Allah langsung menarok syaitan ke dalam dada kita. Dan dada kita akan menjadi MATI dan KERAS membatu, sehingga dada kita tidak lagi mampu untuk menerima sentuhan peringatan-peringatan Allah yang SANGAT LEMBUT. Dan akibatnya adalah seperti kita umat Islam sekarang ini. Kita telah menjadi anai-anai dan buih yang tidak ada artinya sama sekali.
Kalau kita ber-mursyid-kan Al Qur’an, maka tidak akan ada pertentangan diantara kita, karena Al Qur’an itu datangnya dari Waliyyam Mursyida, Sang Ahad. Akan tetapi tatkala kita bermursyidkan manusia, maka lalu kita akan terbagi-bagi menjadi kelompok-kelompok sesuai dengan mursyid kita itu. Diantara mursyid itu malah ada yang mengharamkan kita untuk mengikuti mursyid dari kelompok lainnya. Sehingga muncul lagi keangkuhan diantara kelompok-kelompok itu.
TAREKAT SHALAT…
Nah..., untuk bisa minta pertolongan kepada Allah, ayat di surat Al Baqarah di atas mengarahkan kita untuk menghadap minta pertolongan kepada Allah dengan SABAR Dan SHALAT.
Lalu kita lihat Al Qur’an, ada nggak SABAR itu diterangkan oleh Al Qur’an sendiri. Jadi kita cari ayat Al Qur’an yang menerangkan ayat Al Qur’an lainnya. Ternyata ada ayatnya:
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, "Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun" (Al Baqarah 155-156)
Ternyata saat kita menjumpai berbagai masalah, masalah apa pun, kita kembali diingatkan untuk MENGHADAP KEPADA ALLAH dengan TAWADHU’. Jadi bukan hanya dengan sekedar mengucap “innalillahi wainna ilaihi rajiun” seperti orang kagetan dan latahan. Kualitas seperti inilah yang disebut Allah sebagai orang yang sabar. Lalu saya lihat hadits tentang sabar ini. Banyak hadits yang berbicara sama dengan Al Qur’an diatas, supaya kita kembali menghadap ke Allah, mengadukan kepada Allah. Dan dibanyak hadits juga ada diterangkan CIRI-CIRI orang yang sabar itu (silahkan cari sendiri hadits-hadits itu dan sharing-kanlah di sini).
Alih-alih kita kembali menghadap kepada Allah saat kita didera masalah, malah banyak diantara kita yang tersangkut di pengajaran tentang CIRI-CIRI orang sabar itu. Jadi sebangsa ILMU SABAR begitulah. Sehingga kita dibawa untuk menahan-nahan diri dari suasana tidak sabar agar kemudian sama dengan ciri-ciri orang sabar. Suasana tidak sabar itu kita coba bunuh dengan usaha menyabar-nyabarkan diri. Dan anehnya semakin kita mencoba untuk sabar, justru yang menggumpal adalah munculnya ketidaksabaran yang sewaktu-waktu bisa tumpah dengan kekuatan yang sangat mengherankan kita. Dahsyat pisan.
Dan ternyata sabar ini sangat akan berbeda hasilnya kalau kita ikut apa maunya Al Qur’an. Saat kita ditimpa setiap masalah kita menghadap dan mengadukannya kepada Tuhan. Kita minta dibimbing (isti’anah) oleh Allah untuk bisa sabar. Karena yang tahu sabar itu adalah Allah sendiri. Maka pada saatnya sabar itu DITAROK di dada kita oleh Allah. Lalu kita tinggal memakai sabar itu sebagai PAKAIAN kita. Tatkala kita bisa bersyukur dengan “pakaian sabar” itu, maka Allah akan menambah dan menambah sabar itu bagi kita. Lalu kita tinggal menjadi si penikmat sabar itu sendiri. Dan percaya atau tidak, ternyata ciri-cirinya sama dengan yang diterangkan Rasulullah di dalam hadits-hadits beliau.
Lalu kita perhatikan cara lain untuk minta pertolongan kepada Allah seperti yang diterangkan ayat diatas, yaitu dengan cara SHALAT. Ya…, tarekat shalat saja sebenarnya. Lalu saya lihat di dalam Al Qur’an bagaimana cara shalat itu. Oooo, ternyata caranya tidak diterangkan secara detail di dalam Al Qur’an. Kemudian saya cari tahu bagaimana CARA Rasulullah bershalat. Ada…!. Semua tertera di dalam Al Hadits. Walau dalam Al Hadits itu shalat diterangkan dengan berbagai gerakan fisik dan bacaan yang kadangkala berbeda dengan sangat signifikan, ya nggak masalah. Walaupun nanti dari berbagai gerakan dan bacaan itu lahir pula mahzab-mahzab yang saling bertentangan dan saling angkuh pula dengan mahzabnya, ya nggak masalah. Kita ambil saja satu gerakan dan bacaan yang kita yakini benar. Lalu kita lakukan gerakan-gerakan shalat itu.
Oppsss….!, ayat 45 dari surat Al Baqarah tadi telah nyata-nyata menerangkan bahwa shalat itu SUNGGUH sangatlah BERAT dan SULIT. Dan di ayat-ayat lain juga diterangkan ciri-ciri bahwa shalat itu juga bisa mencegah kita dari mengerjakan yang mungkar, bahwa shalat itu mampu membawa kebahagiaan bagi kita.
Lalu saat saya shalat, lho…, lhoo.., kok saya ketemu dengan realitas ayat Al Qur’an bahwa shalat itu BERAT dan SULIT disatu sisi, dan di sisi lain saya tidak bertemu dengan suasana tercegahnya saya dari perbuatan mungkar seperti juga tidak tercapainya rasa bahagia bagi saya. Jadi dalam shalat kok yang muncul ciri-ciri negatifnya saja…?. Lalu saya periksa lagi ayat itu, agar ciri-ciri negatif itu berganti dengan ciri-ciri positif sebagai buah yang pasti dari shalat kita. Ooo… Ternyata shalat itu tidak akan BERAT dan SULIT bagi orang yang KHUSYU’.
Lalu saya cari pengertian khusyu’ itu didalam Al Qur’an. Ooo… ada..!.
Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu`, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka (ketika shalat itu) menemui Tuhannya, dan bahwa mereka (ketika shalat itu) kembali kepada-Nya. (Al Baqarah 45-46)
Lalu bagaimana ini caranya agar saya bisa bertemu dan kembali kepada Tuhan saat shalat itu. Saya coba lihat kalau-kalau ada hadits tentang khusyu’ itu. Dari sekian hadits yang saya ketahui, ternyata yang diterangkan adalah bagaimana CIRI-CIRI tentang khusyu’ dan apa hasil dari khusyu’ itu, yang sebenarnya tak lain adalah ILMU tentang KHUSYU’. Lalu saya coba ikuti ILMU KHUSYU’ itu. Akan tetapi semakin saya berusaha untuk khusyu, yang muncul malah ketidakkhusyu’an yang lebih parah lagi dari sebelumnya. Semakin saya berusaha untuk khusyu’, malah saya semakin bingung. Karena shalat itu tetap menjadi pekerjaan berat dan sulit bagi saya. Dan shalat saya juga tidak mampu mencegah saya dari perbuatan yang keji dan mungkar, dan tidak mampu pula menanamkan kebahagiaan di hati saya.
Lalu ada aliran TAHU yang DITAROK ke dalam dada saya. Bahwa yang tahu khusyu’ itu ya…, Allah sendiri. Yang tahu bagaimana cara bertemu dan kembali kepada Allah itu ya…, Allah sendiri. Sedang saya tidak sedikit pun tahu. Lalu dengan MODAL TIDAK TAHU itulah saya memohon kepada Allah agar Allah menarok aliran TAHU itu di otak dan di dada saya. Jadi kembali lagi kita memohon untuk dibimbing oleh Allah sendiri. Sebab tatkala saya mencoba dengan usaha saya sendiri untuk bertemu dan kembali kepada Allah…, eh… malah yang muncul rasa terpisah dan rasa jauh dengan Allah. Semakin saya ingin bertemu dengan Allah, maka yang mucul justru rasa keterpisahan, sehingga rasanya saya ingin bersatu dengan Tuhan. Begitu juga semakin saya mau kembali kepada Allah, eee…, yang muncul justru rasa makin menjauh, dan menjauh dari Allah. Masih ada dua “ada” soalnya. Ada “ada” yang mau menyatu dengan ”ADA”. Sakit dan tersiksa sekali yang mengaku “ada” itu.
Lalu “Sang ADA” yang sangat Pengasih dan Penyayang itu menarok pengertian kepada “sang ada” agar “sang ada” itu bisa lepas dari siksaan:
“…Kullu man 'alaihaa faanin, wa yabqa wajhu rabbika ..., Semua yang ada akan binasa, FANA, Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu… (Al-Rahman:26-27);
Kullu syai’in haa likun illa wajhahu…, …tiap-tiap sesuatu pasti binasa, FANA, kecuali Wajah Dia. (Al-Qasas: 88.)”
Lalu…, saya buang semua “modal saya” yang saya kira bisa membawa saya untuk mengenal Allah. Saya buang semua “tahu saya” yang saya kira bisa untuk mengenal Allah, saya buang semua “bisa saya” yang saya kira bisa membawa saya untuk mengenal Allah. Saya buang semua….!!. Karena semua kira-kira itu tadi ternyata hanyalah sekedar pengakuan saja. Lalu saya bersimpuh saja dihadapan Allah dengan merunduk sujud menyiapkan otak dan dada saya untuk dialiri kehendak dan ilmu dari-Nya.
Lalu saya menetapkan untuk melepaskan pengakuan, fana…, fana…, tiada…, tiada…!. Saya tiada…!!!. Lalu Sang ADA itu bersabda: “Akulah Allah…!!!”. dan kusahuti pula dengan merendah-rendah: “Engkaulah Allah…, Engkaulah Pelindungku… Maulaya”.
Lalu Sang Pelindungku menarok sabda-Nya:
“Hamba-Ku..!, Tidaklah dapat dibenarkan saling bertutur kata, melainkan yang satu berkata dan yang lain diam. Akan tetapi hendaklah engkau diam dan dengarkan tutur kata-Ku”:
“Hai hamba-Ku..!, Manakala engkau bermohon, hendaklah engkau berdiri menghadap kepada-Ku, niscaya engkau Ku-beri; Jangan sekali-kali engkau berdiri menghadap kepada “permohonanmu”, yang demikian membuatmu terhijab dan Ku-tolak”.
“Hai hamba-Ku..!, Huruf itu adalah huruf-Ku, dan ilmu itu adalah ilmu-Ku, sedang engkau adalah hamba-Ku, bukan hamba huruf-Ku, bukan pula hamba ilmu-Ku”.
“Hai hamba-Ku..!, Jangan engkau berdiri dipersimpangan, niscaya engkau akan diarahkan kepelbagai jurusan, dan janganlah engkau berdiri di dalam ilmu, niscaya engkau akan diarahkan kepelbagai pengetahuan-pengetahuan…”.
“Hai hamba-Ku..!, Jika dirimu menentangmu, maka laporkanlah tantangannya kepada-Ku”.
“Hai hamba-Ku..!, Ucapkanlah: aku selalu menaati-Mu, menuruti seruan-Mu, dan kebaikan itu adalah dengan-Mu, daripada-Mu, kembali kepada-Mu dan di kedua tangan-Mu”.
“Hai hamba-Ku..!, Bila engkau ditimpa suatu persoalan, maka katakanlah: “Tuhanku!, Tuhanku!, Tuhanku !, niscaya Ku-jawab: Labbaik !, Labbaik !, Labbaik..!!”.
“Hai hamba-Ku..!, Maka temuilah Aku, dan jangan membawa serta amal perbuatan, lemparkan semua itu…!. Jangan engkau mengucapkan… “aku telah mengamalkan…, aku telah beramal”. Hendaklah engkau masuk kepada-Ku tanpa daya tanpa upaya, tanpa tenaga tanpa kekuatan, kecuali dengan-Ku. Dengan demikian engkau benar-benar menjadi seorang arif…”.
Lalu…, Lalu…, semua mengalir begitu saja…,
Lalu…, Lalu…, saya begitu menikmatinya…,
Lalu…, Lalu…, saya begitu memetik manfaatnya (paling tidak buat saya dan keluarga saya)…,
Lalu…, apakah saya ini sudah sabar…?. Ya…, ndak tahu…!. Biar Tuhan-ku sajalah yang tahu itu.
Lalu…, apakah shalat saya ini sudah khusyu’…?. Ya…, ndak tahu juga...!. Biar Allah-ku sajalah yang tahu itu.
Kalau pun kehendak dan ilmu dari-Nya itu saya tangkap berbeda dengan apa yang sebenarnya dan seharusnya, maka saya sadari saja bahwa itu adalah kehendak dan ilmu yang tercampur dengan kehendak dan ilmu dari nafsu saya. Dan saya tinggal minta ampun saja kepada Allah saya.
Lalu dimana ilmu syariat itu…?, Lalu dimana ilmu tarekat itu…?, Lalu dimana ilmu hakekat itu…?, dan lalu dimana ilmu ma’rifat itu…?, Ternyata semuanya itu lebur menjadi SATU SUASANA (MAQAM) yang tak bisa dipisah-pisahkan lagi, yaitu KEBIJAKSANAAN (kearifan). Kebijaksanaan berketuhanan yang akan melahirkan pula kebijaksanaan berkemanusiaan.
Sedangkan shalat…, ya tinggal kita dirikan saja dengan kualitas SHALAT yang DIHAYATI, yaitu kualitas shalat orang-orang yang bijaksana dihadapan Tuhan. TAREKAT SHALAT saja sebenarnya itu…!!!. Ya…, seperti makan pisang yang saya terangkan di atas itulah.
Subhanallah….
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa’alaa ali Muhammad.
No comments :
Post a Comment