Sunday, June 19, 2016

PENGKHIANAT TUHAN ( Bag 2 )

Kalau digambarkan "pergerakan" itu kira-kira adalah sebagai berikut:
AKU
(punya kehendak)
¯
GERAK TUNGGAL
(yang membawa kehendak : hidup, melihat, mendengar, merasa, tahu)
¯
Ujung Materi
¯
Unsur-Unsur, Partikel, Saripati Tanah
¯
Diri (Nafs)
(punya tubuh, indra, otak)
¯

SHIBGHATULLAH
¯
Hidup
¯
Melihat, Mendengar, Merasa, Berfikir
¯
Tahu
(peran dan maqam tempat kembali)
¯

Diri Yang Tenang ( Nafsul Muthmainnah)

¯

AKU (Allah)



Disini ada sebuah “PERGERAKAN” yang tidak bisa ditahan oleh siapa pun dan oleh apapun. GERAK (pada diagram diatas ditulis dengan huruf besar) itu menggerakkan SUBSTANSI (pada diagram diatas ditulis dengan huruf besar & kecil) apapun yang selalu hanya bisa ikut tanpa reserve atas apa-apa kemauan Sang Bergerak itu. Ya…, substansi apapun namanya, maka kalau kita perhatikan dengan hening, maka substansi itu semata-mata nyata bersandar dan bergantung kepada “Gerak” itu. “Gerak” itu meliputi segala sesuatu. Dan semua substansi itu bersandar dan bergantung kepada Sang Bergerak secara kekal dan abadi. Pada tatanan manusia, maka substansi yang bersandar kepada gerak kolosal yang abadi itu disebut juga sebagai Sang Nafs (diri Manusia).
Allah kemudian menerangkan lebih detail bahwa cikal bakalnya Sang Manusia (sang NAFS) ini adalah dari saripati tanah yang kemudian dialiri “Gerak” yang di dalamnya sudah terkandung “muatan” berupa HIDUP, MELIHAT, MENDENGAR, MERASA, TAHU. Muatan gerak itu berguna bagi sang NAFS sebagai fasilitas atau sarana untuk melakukan perannya sebagai KHALIFAH di muka bumi. Dalam istilah Al Qur’an mengalirnya GERAK yang bermuatan hidup, melihat, mendengar, merasa, tahu ini kepada Sang Nafs disebut juga dengan ditiupkan MIN-RUHI (RUH-KU) oleh ALLAH. Atau disebut juga Sang Nafs telah mengalami celupan Allah (shibghatullah).
Gerak itu dengan telaten, tanpa henti, mengantar Sang Nafs melakukan perannya (amal) sebagai Duta Istimewa Allah di alam dunia ini. Betapa tidak, untuk sekedar mengangkat tangan saja, Sang Nafs tidak akan bisa jika “Gerak” itu ngambek mengaliri tangan si manusia itu. Tidak dialiri “Gerak” di tangan itu dalam istilah manusianya disebut sebagi “si lumpuh tangan”.
“Gerak” itu juga yang akan mengantarkan manusia melakukan peran sebagai Gatotkaca, Bima, Yusdeka, Presiden, rakyat jelata, petani, dan sejuta peran lainnya. Untuk menyadari “Gerak” ini pada pribadi-pribadi yang diserahi peran itu, coba perhatikan aktivitas sebuah pasar dari arah ketinggian. Misalnya berdirilah dibalkon ITC MANGGA DUA. Alihkanlah pandangan ke kerumunan manusia yang berada di lantai dasar balkon itu. Perhatikanlah bagaimana ratusan nafs seperti bergerak hilir mudik, kiri kanan, dengan teratur, tidak bertubrukan satu dengan yang lainnya. Walaupun arah gerak itu tidak sama, tetapi tidak terjadi tumbukan antar nafs di lantai dasar itu. Sebenarnya yang terjadi adalah Sang Nafs hanyalah DIGERAKKAN. Titik !.
Gerak itu juga mengantarkan RASA kepada Sang Nafs tentang apa-apa yang mereka lakukan, mereka lihat, mereka dengar, dan mereka ketahui. Dengan rasa itulah sang Nafs punya indikator sebagai alat deteksi dini atas peran yang sedang di jalin oleh sang Nafs dalam rantai kehidupan di dunia ini. Sehingga dengan aliran rasa itu, sang Nafs bisa melakukan “switching” seperlunya apabila GERAK itu mengalirkan rasa yang tidak enak kedalam dada sang Nafs. Tapi ada juga sang Nafs yang sudah TIDAK dialiri lagi dengan RASA ENAK oleh Sang GERAK itu. Dalam istilah agamanya, sang Nafs yang sudah tidak punya indikator rasa ini disebut sebagai si nafs yang rasanya mati, hatinya mati, hatinya gelap, hatinya keras, dan sebagainya.
Gerak itu juga mengolah denyut jantung, membawa darah melalui pembuluh darah ke seluruh sel tubuh. Gerak itu juga memasukkan nafas dan mengeluarkan nafas dari paru-paru Sang Nafs. Gerak itu menumbuhkan dan mengganti sel-sel tubuh Sang Nafs yang sudah rusak agar bisa berfungsi dengan baik. Gerak itu tiada henti dalam kesibukan menyempurnakan Sang Nafs.
Ya…, Sang Nafs tadi dihantar oleh Sang Gerak Kolosal itu untuk merangkai amal (peran) dan menenun kehidupan tanpa henti-hentinya sampai Sang Nafs menemukan posisi akhirnya (maqam) yang akan tidak berubah lagi. POSISI ABADI. Posisi akhir ini seharusnya adalah pada posisi “Diri yang Universal” (Nafsul Muthmainnah). Karena memang Sang Gerak itu selalu punya kecenderungan (gharizah) untuk mengantar Sang Nafs mengarah kepada suasana Diri yang Universal seperti Universalnya suasana GERAK KOLOSAL itu sendiri.
Akan tetapi dalam perjalanan menghantar Sang Nafs menemukan posisi akhirnya (maqam) yang seharusnya universal, kadangkala GERAK itu seperti terhenti di tengah jalan. Gerak itu adakalanya tertahan oleh kuatnya tarikan ketubuhan (hawa un nafs) dan berubah menjadi posisi yang rendah dan terkotak-kotak. Ada nafs yang hanya sanggup mencapai suasana diri yang ammarah, ada yang sampai ke wilayah diri yang lawwamah. Semua pencapaian maqam ini sangat tergantung pada seberapa jauh kita menyadari dan membiarkan Sang Gerak itu membawa diri kita dari satu suasana ke suasana lain yang lebih universal. Dalam istilah agamanya disebut sebagai bertambah dan bertambahnya keimanan kita saat kita diperdengarkan dengan ayat-ayat Tuhan.
Kalaulah Gerak itu hanya bisa menghantar Sang Nafs sampai ke suasana diri ammarah ataupun diri lawwamah, suasana yang serba tidak menentu, dimana saat di posisi ini Sang Nafs mengaku-ngaku atas perannya, lalu diri (sang Nafs) itu keburu dipindahkan ke alam akhirat, maka hampir bisa dipastikan pula bahwa suasana diri yang ammarah ataupun lawwamah itu akan terbawa ke alam akhirat. Dan suasana tidak menentu itu pun akan dialirkan terus oleh Sang Gerak kepada sang Nafs yang sudah berpindah alam ke alam akhirat itu. Dalam istilah agamanya Sang Nafs ditarok ditempat yang penuh siksa (neraka). Dan Gerak itu mengalirkan rasa tersiksa yang tidak menentu tersebut secara Abadi kepada Sang Nafs. KEKAL, SELAMA-LAMANYA. Hum fiha abada.
Akan tetapi sebaliknya, jika dalam menguntai kehidupan sewaktu di alam dunia Sang Nafs berhasil mengikuti hantaran Sang Gerak sampai ntek…!!, untuk menemukan posisinya yang HAKIKI, yaitu posisi Diri Universal (Nafsul Muthmainnah), lalu dalam posisi diri universal itu Sang Nafs dipindahkan oleh Sang Gerak ke kehidupan alam akhirat, maka sungguh beruntunglah Sang Nafs itu. Karena pada suasana diri universal itu sudah tidak ada lagi ketakutan dan kekhawatiran. Suasana diri yang berada di maqam yang tidak ada takut dan khawatir ini disebut dalam istilah agamanya sebagai suasana SYURGAWI. Ya…, sang Nafs lalu dihantar oleh Sang GERAK meniti hari-harinya yang abadi untuk merasakan suasana syurgawi. Sang Gerak itu menghantar Sang Nafs dalam mengarungi suasana yang dia untai semasa sang Nafs hidup di alam dunia menjadi sebuah kehidupan syurgawi selama-lamanya. ABADI, KEKAL. Hum fiha abada.
Tapi rentang waktu untuk menemukan posisi abadi ini sangatlah terbatas. Proses menenun kehidupan ini hanya terjadi selama diri (Sang Nafs) yang terbuat dari saripati tanah masih belum sempurna pembentukannya. Selama saripati tanah itu masih disempurnakan di sana-sini, masih disembuhkan setelah sakit, masih diganti sel-selnya yang rusak, masih diemplek-emplek oleh Sang Gerak menuju yang lebih sempurna, maka hanya pada saat itulah kita punya kesempatan untuk merenda kehidupan kita menuju posisi Diri Universal sebagai bekal untuk kehidupan abadi di akhirat. Karena kalau saripati tanah itu sudah sempurna, sehingga tidak ada lagi yang perlu dipermak, tidak perlu lagi sel-selnya yang rusak untuk diganti, maka saripati tanah itu sudah tidak diperlukan lagi. Maka Sang Gerak itu mengambil kembali satu persatu aliran-aliran yang pernah dialirkan Sang Gerak kepada Sang Nafs yang berupa saripati tanah itu. Sang Gerak itu tidak lagi mengalirkan rasa melihat, rasa mendengar, rasa tahu, dan yang terakhir rasa hidup kepada saripati tanah itu. Lalu sang Nafs secara kehidupan dunia dikatakan MATI. Dan kemudian saripati tanah yang tadinya dibentuk dalam bentuk tubuh manusia itu diurai melalui gerak pembusukan, pelelehan oleh Sang Gerak untuk kembali menjadi unsur-unsur tanah.
Akan tetapi ada sebuah rahasia maha besar yang tersimpan dalam rentang waktu menenun kehidupan selama hidup di dunia itu. Kita tidak tahu kapan Sang Gerak itu memutuskan bahwa peran saripati tanah itu sudah sempurna dan lalu sang Gerak itu akan berhenti mengalirkan aliran Melihat, Mendengar, Tahu, dan Hidup kepada saripati tanah yang sedang merajut peran itu. Kita tidak tahu rahasia itu. Bisa jadi sepuluh tahun lagi, atau bisa juga besok, atau bahkan beberapa menit lagi peran saripati tanah itu sudah dianggap sempurna oleh Sang Gerak, sehingga saripati tanah itu lalu dimatikan. Dan dalam ketidaktahuan kita itulah kita harus berpacu dengan waktu untuk merenda hari agar bisa mencapai posisi Diri yang Universal yang dampaknya akan abadi di kehidupan akhirat nantinya. Sebuah perjudian hidup yang sangat besar sebenarnya tengah kita jalani tanpa kita sadari.
Makna Spiritualitas
Spiritualitas tak lain dan tak bukan adalah adalah sebuah pergerakan kesadaran (INGAT=DZIKIR) substansi manusia (NAFS = DIRI, JIWA) untuk patuh, tunduk, dan takluk terhadap KEHENDAK ZAT yang merupakan SUMBER dari sebuah GERAK KOLOSAL yang membentuk, menghidupkan, mematikan, menggerakkan, dan mencerdaskannya selama waktu yang telah ditentukan untuknya. Selama dalam proses kreatif, dari awal pembentukan sampai dia mati kembali, saat dia di-emplek-emplek, dirombak, lalu disempurnakan kembali, dan akhirnya dimatikan, maka substansi Nafs itu harus disadarkan bahwa dirinya hanyalah bentuk qodrat Tuhan. Jantung adalah qodrat Tuhan, tubuh adalah qodrat Tuhan, sudur (dada) adalah qodrat Tuhan, otak adalah qodrat Tuhan. Artinya semua atribut dari Nafs itu hanyalah tempat Tuhan berkreasi, tempat Tuhan berbuat keramaian, tempat Tuhan menciptakan peradaban bagi kepentingan Nafs itu sendiri.
Dengan munculnya kesadaran ingat (dzikir) pada Nafs (diri, jiwa) bahwa Sang Nafs itu hanyalah bentuk dari qodrat Tuhan, maka saat itu pulalah Sang Nafs bisa mengikuti sebuah Gerak Universal yang sangat KOLOSAL dengan tanpa hambatan bisa menemukan jalan kembali kepada Pemiliknya. Dalam istilah agamanya Gerak Universal yang kolosal itu disebut sebagai Sang MIN-RUHI (ruh-Ku) atau disebut juga RUH yang cenderung membawa apapun untuk kembali mengarah kepada Sang Pemiliknya. Ya…, Sang Ruh ini tidak lagi tersangkut oleh “gravitasi sifat dan bawaan” Nafs (hawa un nafs) atau tarikan alam-alam rendah lainnya seperti jin, syetan, iblis, harta, tahta, dsb. Sang Ruh akhirnya mampu saling berinteraksi dengan Sang Pemiliknya, yaitu AKU (Allah). Sehingga akibatnya Sang Nafs ikut menjadi objek yang menerima pencerahan demi pencerahan, karena Sang Nafs itu sudah tidak punya pengakuan lagi. Hanya tinggal satu Aku yang hakiki yang mengaku-ngaku, yaitu Aku (Allah).
Proses perjalanan kesadaran (INGAT) untuk TUNDUK, PATUH, dan TAKLUKnya NAFS kepada kehendak (qodrat) Tuhan, dan proses KEMBALINYA MIN-RUHI kepada Sang Pemiliknya setiap saat inilah yang disebut dengan peristiwa spiritual yang merupakan FITRAH, atau SUNNAH (Sunatullah) bagi setiap makhluk ciptaan-Nya tak terkecuali bagi manusia, Sang Duta Istimewa.
Jadi dalam proses spiritual itu ada 3 aktivitas besar yang terjadi berbarengan pada saat yang sama:
a. Proses perjalanan kesadaran bahwa diri manusia, otak manusia hanyalah bentuk qodrat (kehendak) Tuhan, maka kehendak Tuhan itu lalu menghadap (patuh, takluk, tunduk) kepada Sunnah Tuhan (Sunnatullah).
b. Proses perjalanan kesadaran bahwa ruh manusia (atau kadang-kadang di sebut juga oleh Pemiliknya dengan sebutan Aku, Bashirah = Yang Tahu) itu adalah Min-Ruhi (Ruh-Ku), ruh milik Tuhan, ruh Tuhan, maka lalu ruh itu dengan kehendak Tuhan kembali kepada Tuhan (Innalillahi wa inna ilaihi rajiuun = Aku adalah milik Tuhan, dan Akupun kepada Tuhanku Kembali)

c. Proses perjalanan rasa ingat Tuhan menghadap kembali kepada Tuhan. Yusdeka tidak bisa membuat RASA INGAT.

Qodrat Allah kembali kepada Allah…!!
Min-Ruhi (Ruh milik Allah) kembali kepada Allah …!!.
Rasa ingat Allah kembali kepada Allah …!!
Maka saat itu sirnalah nama-nama
Lenyaplah pandangan dan pendengaran
SirnalahYusdeka
TIADA LAGI PENGAKUAN …!!!.
Sirna…, sirna….
Tiada…, tiada…
Lenyap…, lenyap…
KOSONG…!!!
Yang ada adalah Yang Ada…,
Yang Ada…,
YANG ADA…!!!
Yusdeka fana, tiada,
dan yang ada hanyalah Yang ADA…!!!
Yang ADA adalah AKU yang bening yang lepas dari tarikan grafitasi NAFS dan terhindar dari pengaruh Alam-alam RENDAH lainnya..
Yang ADA adalah AKU yang bening dan jernih yang selalu mendapatkan NUR dan BURHAN (pencerahan, enligthment) dari Tuhanku.
AKU…, AKU…, AKU…, AKU…,
INGSUN…, INGSUN…,
SANG HIDUP…,
SANG TAHU…,
SANG MATA KEHIDUPAN…,
Maka apabila AKU telah bernyata:
"…Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar..." (Al Anfaal 17).
"…Maka Aku merupakan pendengaran yang ia gunakan, Aku merupakan penglihatan yang ia gunakan, Aku merupakan tangan yang ia gunakan untuk menyerang, dan Aku merupakan kaki yang ia gunakan untuk berjalan…” (Hadits Qudsy, HR Bukhari)
Jadi SPIRITUALITAS adalah sebuah proses PEMBEBASAN AKU dari pengaruh hisapan dan jebakan gravitasi-gravitasi NAFS (Hawa Un NAFS) yang berupa Pikiran dan Rasa. Sehingga Sang NAFS secara otomatis juga akan terbebas dari tarikan alam-alam rendah (jin, syetan, iblis, dan NAFS-NAFS lainnya). AKU lalu kembali kepada FITRAH-KU dengan menjadi substansi yang MERDEKA, yang selalu mengarah, memancar kepada TUHAN-KU sehingga AKU selalu mendapatkan arahan dan pancaran NUR dari TUHAN-KU setiap saat. Sesuai dengan tugas-KU sebagai Duta Istimewa, maka AKU lalu menjadi menjadi KUSIR atas NAFS-KU untuk mengelola dan memakmurkan dunia ini sesuai dengan Sunnah Tuhan-Ku (sunatullah) ... !!!
Kalau tidak sampai mendapatkan AKU yang bening dan merdeka seperti ini, maka posisi itu namanya adalah diri yang tersekat, tersasar, yang dalam istilah agama disebut dengan SYIRIK… !!!. Perilaku syirik inilah yang menjadikan manusia itu disebut sebagai PENGKHIANAT TUHAN. Sang Duta Istimewa yang mbalelo terhadap Tuhan yang mengutusnya.

4. Kerancuan sistematika berfikir yang sangat luar biasa juga telah terjadi dalam memahami Sunnah (Al Qur’an dan Al Hadits).

Kerancuan Dalam memahami Al Qur’an-1:
Secara sistematis Al Qur’an telah menjadi sebuah kitab kosong yang hanya tinggal sebatas dibaca, dihafal, dan dilombakan. Ada memang upaya dilakukan untuk penafsiran ayat-ayatnya secara kontekstual, akan tetapi sayang tafsirannya itu masih terkesan ragu-ragu dan malu-malu dan nyaris selalu dibawa mundur dan mundur ke alam budaya dan pengertian zaman Salafus Shalih sekitar seribu tahunan yang lalu.
Padahal Al Qur’an itu adalah sebuah kunci pembuka sebuah gudang penyimpan senjata pusaka yang sangat ampuh bagi bekal kehidupan umat manusia. Allah menyatakan di dalam Al Qur’an bahwa ada senjata pusaka di sebuah gudang penyimpanan rahasia yang diperuntukkan bagi umat Islam sebagai pewaris dan penerima peta wasiat tempat penyimpanannya. Akan tetapi kunci itu secara tidak sengaja ternyata telah dibuang oleh umat Islam dan telah beralih tangan kepada umat yang tidak beragama Islam. Sehingga mereka berhasil mendapatkan senjata pusaka yang ternyata memang sangat ampuh untuk bekal mengelola dunia ini. Bahkan sangat ampuh untuk menghadapi dan mengalahkan umat Islam itu sendiri.
Hal ini persis seperti kejadian dalam cerita silat Kho Ping Hoo, dimana seorang Pendekar Sakti meninggalkan pusaka berupa sebuah kitab silat dan Pedang Penakluk Naga. Di akhir hayatnya, Pendekar itu menyepi mencari jalan Tuhan di dalam sebuah gua tersembunyi sampai matinya. Si Pendekar masih sempat menuliskan sebuah pesan singkat (peta menuju Gua Rahasia itu) sebelum nafasnya berhenti:
“Peta ini akan menuntun bagi siapapun yang menemukan peta ini untuk menuju gua tempat menyimpan kitab dan pedang sebuah ilmu silat yang sangat hebat. Semoga ilmu ini tidak berpindah tangan kepada orang-orang yang jahat, sebab kalau ilmu ini dipegang oleh orang jahat, maka dunia persilatan akan mengalami kekacauan dahsyat…”.
ttd.
Pendekar Sakti
Singkat kata, melalui sebuah peristiwa “kebetulan”, kitab dan pedang pusaka sakti itu duluan jatuh ke tangan seseorang yang mempunyai karakter jahat dan angkara murka. Tak lama kemudian tersiarlah kabar ke seantero negeri bahwa seorang pendekar jahat telah turun gunung malang-melintang di dunia persilatan menebar bencana.
Gua itu telah kosong, kitab dan senjata pusakanya telah berpindah ke tangan yang salah. Walaupun suatu saat nanti ada pendekar baik-baik yang menemukan gua itu, maka dia tidak akan menemukan apa-apa lagi. Tinggallah dunia persilatan yang mayoritas berisikan orang-orang baik menjadi bulan-bulanan si pendekar jahat. Sementara itu si pendekar baik hanya termangu menyadari keterlambatannya.
Untuk dapat mengalahkan ilmu si pendekar jahat yang sakti itu, maka diperlukan pula kitab dan senjata pusaka lain yang seimbang. Butuh berbilang tahun kemudian untuk munculnya seorang pendekar sakti yang baik sebagai lawan yang seimbang bagi si pendekar jahat itu. Bahkan mungkin harus berganti generasi dulu baru dunia persilatan untuk kembali aman dan damai….!!
Hal yang serupa juga terjadi dalam realitas perjalanan agama Islam. Pada awalnya penyebarannya, umat Islam telah dibekali dengan sebuah peta yang akan membawa penganutnya untuk menemukan sebuah pusaka untuk mengelola dan memakmurkan dunia. Peta itu adalah Al Qur’an yang telah dengan baik dipakai oleh Rasulullah Muhammad SAW untuk mendapatkan senjata pusaka yang cocok untuk menghadapi segala problematika hidup di zaman Beliau. Akan tetapi berbilang zaman kemudian, peta itu telah dipakai dan direalisasikan oleh orang lain, dan mereka berhasil mendapatkan senjata pusaka yang sangat ampuh. Sedangkan bagi umat Islam, yang tersisa tinggallah peta kosong yang nyaris tidak bermanfaat apa-apa, selain hanya untuk mendapatkan pahala dalam membaca dan menghafalnya.
Ya…, akibatnya, fungsi Al Qur’an yang tertinggal bagi umat Islam (dengan paradigma berpikir seperti sekarang ini) boleh dikatakan hanyalah sebatas gudang yang sudah kosong melompong. Isinya telah duluan diambil oleh umat non muslim. Dengan senjata itu pulalah mereka mengalahkan dan mengebiri umat Islam hampir di seluruh dunia. Tinggallah umat Islam bisanya hanya sebatas meratapi nasib dan memaki-maki sana-sini. Memaki Amerika, memaki Yahudi, memaki Barat… !!!.
Walaupun Barat telah menemukan senjata pusaka itu, akan tetapi ternyata Barat tidak mampu memanfaatkan pusaka itu dengan utuh. Ada jurus-jurus dan amunisi yang tertinggal. Dan yang tertinggal itu ternyata adalah bagian pamungkas dari rangkaian ilmu dalam pusaka yang telah tercuri itu. Akibatnya Barat gagal memanfaatkan pusaka itu untuk kemakmuran dunia. Alih-alih memakmurkan dunia, malah Barat terperosok kepada penghancuran dunia dengan peradaban manusia di dalamnya.
Lengkap sudah sarana untuk penghancuran peradaban manusia itu tersedia saat ini. Di satu pihak umat Islam sudah tidak punya pusaka apa-apa lagi sebagai bekal untuk membangun peradaban itu. Dipihak lain umat non muslim (baca Barat) berhasil mendapatkan pusaka itu, akan tetapi sayangnya bagian terpenting dari pusaka itu yang berfungsi sebagai sebagai langkah penutup atau langkah pamungkas malah mereka tinggalkan. Yaa…, beginilah dunia jadinya…!!!
Apa bentuk senjata pusaka yang telah dicuri orang itu..??.
Nanti akan saya bahas lebih dalam pada artikel “Rekonstruksi Berfikir” sub bagian “Al Qur'an Adalah Teropong Kauniah”.

Kerancuan Dalam memahami Al Qur’an-2:

Kerancuan pemahaman Al Qur’an yang lainnya adalah dalam hal memahami DUALITAS yang terkandung di dalam ayat-ayatnya. Dalam artikel “Menggabung Kutub Dualitas”, saya sudah singgung secara cukup detail, bahwa di dalam Al Qur’an seperti ada dua kutub sikap yang sepintas “kelihatannya” saling berlawanan (bertentangan) bagi manusia dalam menjalani kehidupan ini, yaitu KUTUB RASIONALIS dan KUTUB FATALIS. Kedua kutub ini difasilitasi keberadaannya oleh Al Qur’an:
Kutub RASIONALIS difasilitasi paling tidak oleh ayat berikut:
"....Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia". (Ar Ra'du 11)
Kutub FATALIS diwakili secara umum oleh ayat berikut:
"...Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu". (At Thalaaq 2-3)
Nah…, dengan paradigma kerancuan berfikir seperti sekarang ini, jarang sekali umat Islam yang mampu menggabungkan kedua kutub tersebut menjadi sebuah harmoni dalam kehidupan, seperti harmoninya panas dan dingin di permukaan bumi yang telah menghasilkan angin, awan, dan hujan. Umumnya, orang hanya masuk ke dalam sebuah kutub saja dan menafikan kutub yang lainnya.
Misalnya, orang yang hanya berada pada posisi kutub RASIONALIS, maka segala sesuatunya yang mereka hadapi akan diukur dengan meteran RASIONAL atau TIDAK-nya. Namun sayangnya meteran yang dipakai untuk mengukur itu seringkali adalah file yang tersimpan di dalam otaknya. Dan alat masukan datanya juga hanya sebatas pada bacaan, melihat, dan mendengar atas objek yang sedang diamatinya.
Dalam posisi kutub ini ALLAH seperti berlepas tangan terhadap apa-apa yang akan dicapai oleh manusia. Dari ayatnya, manusia di fasilitasi untuk mengembangkan diri tanpa batas.
“Kau rubah kehidupanmu sendiri…”
“Kau tentukan masa depanmu sendiri…”
“AKU tidak ikut-ikut untuk merancang masa depanmu…”
Luar biasa sekali fasilitas yang diberikan Tuhan ini, bahkan nyaris bisa membawa orang untuk bersikap ATHEIS. Dan dengan fasilitas begitu bebasnya, telah lahir berbagai pengetahuan tentang kealaman seperti fisika, kimia, matematika, biologi, ekonomi dan ilmu-ilmu lainnya. Semuanya ilmu itu ternyata memang bermanfaat untuk mengantar peradaban manusia meniti zaman.
Akan tetapi, karena mereka hanya mementingkan faktor rasionalitas belaka, tak jarang yang terjadi adalah munculnya generasi yang pada satu sisi mereka memang mampu menangkap bahasa Tuhan yang berada pada setiap ciptaan Tuhan, akan tetapi di sisi lain mereka merasakan kekeringan RASA di dalam JIWA-nya. Akibatnya untuk mencari kekeringan JIWA itu, maka praktek-praktek mengasah dan menghidupkan rasa itu sangatlah digandrungi mereka. Di Barat sana, yang digandrungi orang dan berkembang dengan pesat saat ini adalah praktek-praktek tasawuf, meditasi, psychic, psychology trance personal/transcendental, yang tentu saja dengan OBJEK FIKIR yang berbeda-beda pula.
Pembimbing kami pernah ajukan pertanyaan kepada seseorang dari Perancis, saat dia datang ke Indonesia mencari tasawuf: “Kenapa anda ingin masuk ke tasawuf, bukannya mencari Islam atau Kristen..?. Jawabnya: “Saya nggak mau Islam, saya nggak mau Kristen, karena dua-duanya suka berantem dan senang gontok-gontokan..”. Duh kasihan sekali agama-agama ini... !!.
Penyebab dari kekeringan jiwa ini kalau ditelusuri dari bunyi ayat Ar Ra’du 11 diatas, maka bagi yang manusia yang arif akan dapat menangkap pokok permasalahannya, yaitu karena sang manusia telah berkhianat terhadap Tuhan. Manusia yang walaupun kelihatannya mampu sedemikian rupa untuk mengembangkan peradaban dan pengetahuannya sampai “keujung ilmu”, mereka ternyata kebanyakan lupa bahwa pada hakikinya (yang sebenarnya) Tuhanlah yang merubah peradaban manusia. Tuhanlah yang menciptakan ilmu, Tuhanlah yang berkreasi, Tuhanlah yang menata peradaban manusia itu. Awal ayat diatas menyiratkan: “nanti Ku rubah dan Ku ikuti seperti apa maumu…”. Ya…, pada hakekatnya Tuhanlah yang berkehendak, yang mengatur peradaban manusia melalui “aliran tahu, aliran cerdas, aliran kuasa” yang menyusup mengisi sel-sel otak manusia. Jadi HANYA KELIHATANNYA saja manusia itu bisa, manusia itu tahu, manusia itu kuasa, dan sebagainya, padahal semua itu adalah fasilitas MILIK ALLAH yang diberikan buat manusia untuk mengemban amanat sebagai Duta Istimewa Tuhan di dunia ini.
Ya…, masalahnya ternyata hanya sederhana saja. Sang Duta Istimewa telah lupa, lalai, tidak ingat (nisyan) bahwa semua fasilitas itu harus didudukkan pada tempat yang sebenarnya. Untuk dengan kerelelaan dan kesadaran penuh MENGEMBALIKANNYA kembali kepada ALLAH.
Ya…, PENGEMBALIAN… !!!!.
(Uraian lebih lengkap tentang sikap pengembalian ini akan saya berikan dalam artikel “Rekonstruksi Berfikir” juga jawaban saya atas pertanyaan Sdr. Danan Wijanarko - "Aku Bening".
Pada kutub yang berlawanan, yaitu kutub FATALIS, hal yang sebaliknya terjadi. Pada kutub ini kalau dilihat secara sepintas seakan-akan sudah islami sekali. Sedikit-sedikit omongan yang keluar dari mulut kaum fatalis ini adalah taqwa, tawakkal, beriman, syurga, ketinggian derajat Islam, dan segudang yang baik-baik lainnya. Semua disampaikan dengan sangat FASIH sekali, saking hafalnya. Atribut Islam lain pun seperti melekat erat dengan kutub ini, misalnya kitab-kitab kuning, kitab Arab gundul. Konsep-konsep kenegaraan dan kepemimpinan islami pun muncul, walaupun pada tatanan atau pola yang masih berupa ide-ide lama yang diberikan sedikit sentuhan istilah-istilah terkini. Akan tetapi pada kenyataannya, “jalan keluar (makhraja) dari setiap permasalahan, begitu juga pencukupan dari segala kebutuhan” seperti yang dijanjikan Tuhan dalam surat At Thalaaq ayat 2-3 sepertinya masih jauh panggang dari api kalau tidak mau dikatakan gagal total.
Walaupun nyaris tanpa hasil seperti tadi, namun masih ada hal-hal positif yang bisa diambil sebagai keunggulan para pengamal kutub fatalis ini. Yaitu ketakutan mereka akan neraka, siksa kubur, dan sekaligus juga harapan mereka yang sangat besar untuk dapat mencicipi nikmat syurga dan melihat wajah Tuhan langsung nantinya di AKHIRAT, telah membuat mereka bisa mampu bersikap, berperilaku dan bertindak sesuai dengan karakter atau simbol-simbol kebaikan, walau dengan hati yang tertatih-tatih. Kerisauan dan pertanyaan panjang akan ketiadaan hasil dalam wujud materi (pengetahuan dan uang) itu kemudian berhasil mereka redam dengan memakai ayat:
Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu". (At Thalaaq 2-3).
Sekilas…, bersandar kepada ayat ini kelihatan sangat qur’ani sekali. Allah telah mengatur segala sesuatunya buat manusia, manusia tinggal bertakwa, bertawakkal, beriman saja, dan hasilnya Allah yang akan menentukan segala sesuatunya buat si manusia. Akan tetapi dengan hanya bersandar kepada ayat inilah kemudian yang memuculkan KEJUMUDAN pemikiran di dalam mayoritas umat Islam. Umat Islam kehilangan RASIONALITASNYA dalam kehidupan beragamanya. Yang muncul adalah sebuah praktek agama dengan karakter penganutnya berpola fikir doktrinasi. Doktrin…, doktrin…, dan doktrin…, sehingga melahirkan generasi TAKLID terhadap buah karya ulama-ulama terdahulu. Dan ulama lalu jadi tersegmentasi menjadi hanya sekedar sekelompok orang yang hafal, yang fasih dengan ayat-ayat Al Qur’an, Al Hadits, dan istilah-istilah agama lainnya.
Sedangkan mengenai tanda-tanda Tuhan yang bertebaran di alam semesta, di langit dan di bumi, sang ulama fatalis ini hanya bisa terbengong-bengong tidak tahu apa yang akan diucapkan. Sang ulama hanya berpuisi tentang alam semesta itu.
Oh langit, ada apakah gerangan yang ada padamu ??.
Oh bumi…, kandungan apa yang ada diperutmu ???.
Oh waktu dhuha, alangkah indahnya kamu…!!!.
Yang ada hanya puisi…, puisi, dan itu dilagukan dengan suara yang sangat mendayu-dayu.
Allah sendiri “bingung” menghadapi orang fatalis seperti ini. Allah berkali-kali mengatakan, bahwa Dia menciptakan apa-apa yang ada di langit dan di bumi ini untuk dikelola, untuk dimanfaatkan oleh manusia untuk kemakmuran mereka. Bahkan Allah ingin menciptakan alat transportasi melalui otak manusia.
Allah ingin menciptakan obat-obatan yang menyembuhkan melalui otak manusia.
Allah ingin menciptakan peradaban demi peradaban melalui otak manusia.
Allah menciptakan pesawat terbang dan kapal laut melalui otak manusia.
Allah menciptakan bom atom melalui otak manusia.
Sama halnya dengan Allah menciptakan oksigen lewat fotosintesis dunia tumbuh-tumbuhan. Begitulah seterusnya. Allah mencipta “KUN” dan dengan sebuah proses lalu jadilah “FA YAKUN”.
Tapi sang manusia fatalis hanya bisa berperilaku dan bersikap :
Saya cukup bertakwa saja.
Saya cukup bertawakal saja.
Saya cukup berdo’a saja.
Saya cukup sama dengan ulama-ulama dulu kala saja. Biar umat lain yang menciptakan pesawat, obat-obatan, dan peradaban baru.

Saya cukup zuhud saja.
Saya cukup ikhlas saja.
Saya cukup mencintai Tuhan saja.
Saya tidak perlu dunia ini, saya adalah umat yang mementingkan kehidupan akhirat saya saja, saya hanya ingin syurga saja ….!!!!.

Duh Gusti …, yakin benar mereka bisa masuk ke syurga…!!!
Lebih jauh lagi…, bahkan Allah menciptakan manusia dengan perantara otak manusia. Allah ciptakan rasa enak pada manusia saat mereka berhubungan antara suami-istri. Rasa enak itu termemori di otak mereka, sehingga pada waktu-waktu tertentu memori itu muncul kembali untuk dipuaskan kembali. Jadi Allah “bingung” melihat kalau ada manusia yang tidak mau untuk menikah. Tapi… eiiiit tunggu dulu, ternyata dalam usaha membantu Tuhan untuk menciptakan manusia inilah manusia fatalis dapat tersenyum dengan sumringah. Karena mereka sangat hapal dengan ayat Al Qur’an bahwa mereka boleh menikahi wanita sampai empat. Sehingga mereka lalu dengan bangga mengatakan bahwa mereka ikut sunnah Nabi, mereka ikut anjuran Al Qur’an. Ah…, Anda ini…!!
Lengkap sudah fasilitas pengkhianatan duta istimewa Tuhan itu. Sudahlah berpecah dan saling hantam yang dimulai sejak tumbuhnya cikal bakal peradaban Islam, yaitu dimulai oleh perselisihan mertua dengan menantu (Aisyah dengan Ali bin Abi Thalib) yang kemudian ini membidani lahirnya perseteruan abadi antara Mahzab Sunni dengan Mahzab Syi’ah. Kemudian ditambah lagi munculnya pengkristalan kutub RASIONALIS dan FATALIS di zaman RUSYDI dan GHAZALI. Dimana RUSYDI boleh dikatakan sebagai bidan yang melahirkan kutub RASIONALIS, sedangkan GHAZALI membidani lahirnya kutub FATALIS. Dimana antar mahzab besar, dan antar kutub di atas terjadi pertentangan dan penyesatan antara para pihak yang terkristal itu.
Padahal melalui otak kedua orang inilah (RUSYDI dan GHAZALI) Tuhan berkreasi untuk menempatkan tonggak pergerakan peradaban dunia, terutama pasca pencerahan agung yang misterinya berhasil dikuak oleh Muhammad SAW. Pada awalnya keduanya adalah pribadi-pribadi yang lengkap. Keduanya adalah manusia rasionalis dan sekaligus juga fatalis. Keduanya berkembang sedemikian rupa sehingga pada suatu waktu dimana keduanya mulai dilanda oleh problema keakuan masing-masing. Sampai suatu saat Ghazali menghujat Rusydi melalui bukunya yang terkenal Tahafut al Falasifah (kerancuan atas logika berfikir). Kemudian Rusydi pun membalasnya dengan tak kalah sengitnya dalam Tahafut al Tahafut (kerancuan atas kerancuan). Dan daya perseteruan kedua orang ini memancar sampai ke zaman sekarang ini, yang kemudian bermuara dengan pengharaman ijtihad (kebebasan berfikir rasional atas setiap problematika kehidupan manusia) di wilayah Islam (timur). Sejak itulah mulai zaman kejumudan pemikiran (fatalis) dalam perjalanan Islam mulai ditanamkan.
Akibatnya, bangunan Islam yang kokoh yang pernah dibangun dengan susah payah oleh Nabi Muhammad SAW, kemudian berubah menjadi sebuah bangunan yang di dalamnya menyimpan bara api yang siap menyambar dan membakar orang-orang yang ada di dalamnya, orang-orang yang kelihatannya saja sama tapi pada kenyataannya adalah berbeda. Bangunan Islam jadinya seperti sebuah aliran air sungai yang kelihatannya saja tenang, tapi ketenangan itu sanggup menyapu bersih apa-apa yang ada di atasnya tanpa sisa.
Dalam perjalanannya, karakter Ghazalian (fatalis) ini kemudian menyebar ke belahan bumi bagian timur. Dengan memanfaatkan DOKTRIN yang ketat terhadap pengikutnya, maka ciri-ciri fatalis ini kemudian diadopsi dan dipakai oleh kedua mahzab besar (Sunni dan Syiah) dalam mengembangkan sayap mereka. Jadi pada hakekatnya, Islam yang diwakili oleh peradaban TIMUR itu, tidak lain dan tidak bukan adalah kelanjutan dari pemikiran-pemikiran fatalis Al Ghazali yang kemudian disesuaikan dengan karakter dari sub-usungan yang akan dipasarkan oleh penganutnya. Dalam hal ini penyebaran agama Kristen juga sangat terpengaruh dengan karakter Ghazalian ini. Hal ini disebabkan karena wilayah Timur memang sangat dekat keberadaannya dengan peradaban yang lebih tua, yaitu peradaban Hindu, Budha dan Persia. Peradaban tua ini kemudian ikut mewarnai penyebaran kebudayaan Islam ke arah timur. Walaupun usungannya berbeda, tetap saja ada benang merah yang bisa ditarik dengan karakter yang sama untuk masing-masing sub usungan itu, yaitu TAKLID BUTA, TERIKAT KUAT DENGAN DOKTRIN, dan manfaatnya untuk membangun peradaban dunia pada zamannya nyaris tidak ada.
Di lain pihak, karakter RUSYDIAN (rasionalis) berjaya memunculkan berbagai ilmu pengetahuan dan filsafat di kota Cordoba, yang saat itu merupakan wilayah yang begitu mencorong dengan peradaban Islam dan perkembangan teknologinya. Sampai saatnya, kemudian peradaban Islam di Cordoba ini dihancurkan oleh umat Kristen dalam peperangan demi peperangan. Buku-buku pengetahuan yang sangat berharga, waktu itu diboyong habis ke pelosok-pelosok Eropa dari Cordoba oleh pasukan Kristen sebagai pemenang perang. Cordoba lalu tinggal menjadi sejarah. Hebatnya, untuk umat Islam, yang disisakan hanyalah kitab-kitab sastra Arab, seperti kitab ilmu balaghah, ilmu fiqih, ilmu nahu sharaf, ilmu tasawuf, ilmu hadits, ilmu tafsir Al Qur’an, dan sebagainya. Umat Islam lalu sibuk atau disibukkan dengan sastra Arab itu yang kemudian hanya pengetahuan sastra Arab inilah yang dianggap sebagai Islam, bahkan sampai saat ini sekali pun masih seperti ini. Hasilnya adalah sebuah bangunan Islam yang cenderung berkarakter FATALIS.
Masyarakat Eropa kemudian mengadopsi kejayaan kaum Rasionalis ini yang ujung-ujungnya adalah terbukanya kunci-kunci pintu ilmu pengetahuan. Lalu bermunculanlah penemuan-penemuan baru di bidang teknologi, kedokteran, fisika, kimia, biologi, kedokteran, ekonomi, dan tak terkecuali kebudayaan. Kunci-kunci ilmu inilah kemudian yang merupakan cikal bakal yang melahirkan dan membawa peradaban Barat sampai seperti saat sekarang ini. Sebuah peradaban yang berkarakter RASIONALIS. Tentang kunci-kunci ilmu ini akan saya uraikan lebih dalam pada artikel “Rekonstruksi Berfikir” sub bab “Al Qur'an Adalah Teropong Kauniah”.
Yang menarik adalah, bahwa kunci-kunci ilmu itu juga ternyata bersinggungan dengan keyakinan gereja yang kalau dilihat karakter pengajarannya juga bersifat FATALIS. Gereja pada umumnya juga memelihara doktrin-doktrin yang lebih sering bertentangan dengan rasionalitas berfikir. Saat itu pernah terjadi “pengharaman” ilmu pengetahuan. Bahkan terjadi juga pembunuhan terhadap ilmuan yang mempunyai pendapat yang bertentangan dengan gereja. Persinggungan itu mencapai puncaknya tatkala kaum rasionalis memproklamirkan posisi untuk memisahkan diri dari gereja. Pemisahan posisi gereja (agama Kristen) dari ilmu pengetahuan dan teknologi (rasionalitas) itulah yang sekarang disebut sebagai gerakan SEKULERISASI. Jadi kaum sekuler itu adalah sekelompok orang yang keluar dari karakter ajaran gereja yang FATALIS dan DOKTRINASI menuju kepada sebuah gerakan yang mengutamakan karakter RASIONAL dan KEBEBASAN BERFIKIR dalam menyikapi peradaban. Dan ternyata gerakan sekuler ini berhasil menancapkan peradaban modern sampai kepada kita saat ini.
Kalau dilihat dengan hati yang jernih, gerakan sekuler ini adalah sebuah pergerakan orang untuk meninggalkan gereja menuju satu sisi karakter Islam yang dimotori oleh RUSYDI, yaitu Rasional. Jadi Sekuler itu adalah sebuah gerakan keluar dari gereja untuk kembali kepada Islam….!!!. Any comments..??.
Dan perkembangan peradaban ISLAM mengarah kemana…????.
5. Menjadikan Agama Sebagai Kuda Tunggangan
Umat Islam dengan modal sastra Arab yang tersisa, kemudian seperti berjalan meniti buih dalam menghadapi zaman demi zaman. Ratusan tahun kemudian (bahkan sampai saat ini pun) cahaya Islam seperti padam, atau paling tidak seperti lampu teplok yang kehabisan minyak. Umat Islam lebih sibuk dengan doktrin-doktrin fatalis yang muncul bak cendawan di musim hujan. Perseteruan Aisyah dengan Ali bin Abi Thalib dengan doktrin semangat serba akhirat dipelihara dengan gigih oleh kelompok-kelompok dan aliran-aliran yang terkristal menjadi Sunni disatu sisi dan Syiah di sisi lainnya. Walaupun sekilas terlihat berbeda, akan tetapi keduanya adalah bentuk yang sangat mirip, kalau tidak mau dikatakan sama dan sebangun. Yaitu keduanya adalah penerus karakter yang dibentuk oleh GhazaliI. Fatalis saja sebenarnya kedua aliran ini. Fatalis dengan “objek fikir dan objek pemujaan” yang berbeda. Ya…, hanya objek “mind binding” nya saja yang berbeda. Sunni binding dengan objek “Al Qur’an dan As Sunnah”, sedangkan Syiah binding dengan objek “Al Qur’an dan Ahlul Bait”. Kedua macam kalimat sakti ini kemudian sama-sama di klaim oleh masing-masing aliran sebagai “pesan terakhir” Nabi Muhammad SAW sebelum beliau wafat.
Dari perbedaan dasar berpijak ini, kemudian lahirlah pertentangan “politik” antar Fatalis itu sendiri. Ulasan tentang As Sunnah di satu sisi versus uraian tentang keistimewaan Ahlul Bait di sisi lain begitu menggelorakan semangat pengusung Sunni dan Syiah ini. Sampai-sampai Al Qur’an sendiri pun ikut jadi korban. Ya…, Al Qur’an pun lalu ditafsirkan sesuai dengan muatan usungan masing-masing. Sehingga jadilah agama hanya sebagai kuda tunggangan “politik” mereka. Duh…, kasihan sekali Rasulullah…. Jerih payah Beliau mengaktualisasikan Al Qur’an selama hidupnya telah diacak-acak nggak keruan oleh penerus-penerus tongkat estafet kepemimpinan Beliau hanya dalam berbilang tahun pasca kewafatan Beliau…
Dalam perjalannya, kemudian dari dua aliran mainstream Islam ini telah lahir ratusan varian yang dinisbatkan kepada pencetusnya, misalnya:
· Mu’tazilah dengan tidak kurang dari 12 aliran berbeda seperti washiliyyah, hudzailiyyah, bisyriyyah,…, dsb.
· Jabariyyah
· Shifatiyyah
· Khawarij
· Murji’ah,
· Sedangkan Syi’ah sendiri pecah menjadi tidak kurang dari 30 cabang, misalnya Imamiyyah, Rizamiyyah, Ismailiyyah al waqifah, …, dsb.
· Ahmadiyah,
· Di zaman modern sekarang, terutama di Indonesia, varian aliran ini juga sangatlah ramai. Hah…, biarin sajalah…
Hampir 1400 tahun kemudian yang tersisa bagi umat Islam maupun masyarakat dunia hanyalah buah yang disemai semasa pertikaian Ali dan Aisyah berikut dengan pengikut-pengikut dan penerus Beliau masing-masing itu. Namun sayangnya buah itu sudah berbau tidak enak kalau tidak mau dikatakan “busuk”. Sedangkan jejak pohon kehidupan yang menyiratkan rahmat bagi alam semesta yang ditanam oleh Rasulullah dengan susah payah nyaris tidak berbentuk lagi. Akibatnya umat Islam yang bilangannya di dengung-dengungkan berjumlah milyaran orang itu benar-benar hanyalah berupa BUIH seperti yang pernah di ungkapkan oleh Rasulullah. Buih yang tidak sanggup memberi manfaat bahkan untuk dirinya sendiri sekali pun.
Ah…, mana ada penemuan-penemuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bermanfaat bagi umat manusia yang terjadi di negara-negara Islam dari dulu sampai sekarang ini. Yang ada hanyalah nostalgia semu tentang keberhasilan pemikiran kaum Rusydian (Rasionalis) dulu kala dalam meletakkan dasar-dasar pengetahuan modern yang dengan cerdik sudah diambil alih oleh masyarakat Barat, bahkan oleh Cina sekali pun. Padahal ilmu pengetahuan sebagai hasil dari pengamatan perilaku alam (sunatullah) tempat manusia hidup ini adalah senjata pusaka pamungkas yang diperlukan manusia itu sendiri untuk memikul tanggung jawabnya sebagai khalifah, Sang Wakil Tuhan dalam mengelola dunia. Namun senjata pamungkas itu disia-siakan oleh umat Islam itu sendiri. Sehingga entah sampai kapan ujungnya, umat Islam tak ubahnya hanya sebagai kerbau dicocok hidungnya berhadapan dengan pihak Barat.
Namun untuk menghibur diri maka beberapa tahun yang lalu pemikir-pemikir Islam mencetuskan slogan bahwa abad sekarang adalah Abad Kebangkitan Islam. Abad dimana Islam mulai menggeliat untuk bangkit merebut kembali “suasana” kejayaan Islam tempo dulu. Tapi itulah…, senjata pusaka untuk bekal kejayaan itu sudah hilang dari tangan orang-orang Islam, dan beralih tangan kepada orang-orang yang tidak beragama Islam, tapi anehnya mereka bersikap dan bertindak secara islami. Sedangkan bagi orang-orang yang beragam Islam, bahkan kunci untuk masuk ke gudang pusaka itu pun sudah dibuang entah kemana. Memang kita itu ibarat “harapkan burung terbang tinggi, punai ditangan dilepaskan pula…”. Habislah sudah….

No comments :

Post a Comment