Neraka pun 'Diakses' dari Bumi.
Sebagaimana Surga, Neraka juga berada di Bumi. Namun demikian, efek yang terjadi bukan hanya di langit pertama (Dunia), melainkan sampai ke langit ke tujuh (Akhirat). Karena itu, Neraka juga digambarkan bertingkat-tingkat, sesuai dengan besar kecilnya dosa seseorang. Sesuai dengan kemampuan mengakses langit-langit yang lebih tinggi itu.
Beberapa ayat Al Qur'an menegaskan bahwa Neraka memang 'berada' di Bumi. Diantaranya digambarkan dalam keadaan-keadaan sebagai berikut.
1. Neraka adalah tempat yang rendah, dan digambarkan sebagai jurang yang banyak mengandung kobaran api, yang mengandung leburan leburan batu sangat panas seperti lava pijar gunung-gunung berapi. QS. At Tahriim (66) : 6 “Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api Neraka, yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.”
QS. Al Furqaan (25) : 13
"dan apabila mereka dilemparkan ke tempat yang sempit di Neraka itu dengan dibelenggu; mereka di sana mengharapkan kebinasaan."
QS. Shaad (38) : 59
"(Dikatakan) : ini adalah suatu rombongan yang masuk berdesak-desak bersama kamu (ke Neraka)..."
2. Disana juga digambarkan ada oksigen. Sehingga mereka menarik dan mengeluarkan nafas di dalamnya.
QS. Huud (11) : 106
"Adapun orang-orang yang celaka tempatnya di dalam Neraka, di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas".
3. Di wilayah Neraka itu terdapat pohon yang tumbuh dan dasarnya, yang disebut sebagai pohon Zaqqum. Pohon tersebut berduri dan tidak mengenyangkan saat dimakan.
QS Ad Dukhaan (44) : 43 – 46
"Sesungguhnya pohon zaqqum itu makanan orang yang banyak dosa. Bagaikan kotoran minyak yang mendidih di dalam perut, seperti mendidihnya air yang sangat panas."
4. Mereka juga membutuhkan air. Tapi ternyata airnya sangat panas, mendidih. Namun demikian ternyata di Neraka juga ada air yang sangat dingin. Dan azab lain yang serupa itu.
QS. Shaad (38) : 56 – 58
"Neraka jahannam, yang mereka masuk ke dalamnya, maka amat buruklah jahannam itu sebagai tempat tinggal. Inilah, biarlah mereka merasakannya, air yang sangat
panas dan air yang sangat dingin. Dan azab lain yangserupa itu berbagai macam."
5. Ada angin yang sangat panas, air mendidih dan asap
hitam yang tebal.
QS. Al Waqi’ah (56): 42 – 43
“Dalam angin yang amat panas dan air panas yang mendidih. Dan dalam naungan asap yang hitam.”
6. Mereka tinggal di sana berabad-abad lamanya
QS. An Naba' (78) : 23
"mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya"
Begitulah gambaran Neraka, dimana semua bakal terjadi di permukaan Bumi. Di antaranya disana digambarkan betapa Neraka itu tempat tinggal yang buruk. Bagaikan jurang yang berisi api, air mendidih, asap hitam yang tebal, dan angin yang sangat panas.
Namun, demikian juga digambarkan bahwa di sana mereka masih bisa bernafas, meskipun terasa berat. Bahkan mereka juga masih mencari makan dan minum. Sayangnya, makanan yang tersedia cuma pohon Zaqqum yang berduri dan mendidihkan isi perut mereka. Sedangkan minumannya, air mendidih atau air yang sangat dingin. Rupanya, wilayah Neraka adalah wilayah yang sangat ekstrim kondisi alamnya.
Yang menarik, ternyata antara penduduk Surga dan penduduk Neraka bisa melakukan interaksi atau setidak-tidaknya saling berkomunikasi. Misalnya, ternyata penduduk Neraka bisa meminta air kepada penduduk Surga.
QS. Al A’raaf (7) : 50
“Dan penghuni Neraka menyeru penghuni Surga: “limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah dirizkikan Allah kepadamu”. Mereka (penghuni Surga) menjawab: "Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu atas orang-orang kafir”
Sebaliknya, penduduk Surga sering membicarakan keadaan orang-orang yang tersiksa di dalam Neraka itu. Bahkan digambarkan meninjau salah seorang temannya (di dunia) yang kini masuk Neraka karena kekafirannya.
QS. Ash. Shaffat (37) : 54 – 55
"Berkata pulalah ia : maukah kamu meninjau (temanku itu)? "Maka ia meninjaunya, lalu dia melihat temannya itu di tengah-tengah Neraka menyala-nyala."
QS. An Naba' (78) : 21 – 23
“Sesungguhnya Neraka jahannam itu ada tempat (untuk) pengintai. Lagi menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas. Mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya.”
Dan lebih menarik lagi, ternyata 'wilayah' Surga dan Neraka itu memiliki batas tertentu. Selain keduanya terpisah, ada lagi satu wilayah di luar Neraka dan di
luar Surga.Tempat itu disebut sebagai Araaf Atau tempat yang tinggi di antara Surga dan Neraka.
Orang-orang yang berada di A’raaf ini adalah orang yang tidak (Atau belum) masuk ke Surga Atau ke Neraka. Sebab memang masuk ke Surga maupun ke Neraka itu tidak
dalam waktu yang bersamaan. Mereka 'digiring' dalam kelompok-kelompok besar. Ada yang lebih dulu sampai, ada juga yang lebih akhir.
QS. Al A’raaf (7) : 46
“Dan di antara keduanya (penghuni Surga dan Neraka) ada batas, dan di Atas A'raaf itu ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan
tanda-tanda mereka. Dan mereka menyeru penduduk Surga:" Salaamun 'alaikum" Mereka belum lagi memasukinya, sedang mereka ingin segera (memasukinya).
QS. Al A’raaf (7) : 47
"Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni Neraka, mereka berkata: "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang yang zalim itu"
QS. Az Zumar : 71 – 72
“Orang-orang kafir dibawa ke Neraka jahannam berombong-rombongan. Sehingga apabila mereka sampai ke Neraka itu, dibukakanlah Pintu-pintunya dan berkatalah kepada mereka penjaga penjaganya:…” “Dikatakan kepada mereka, masukilah pintu-pintu Neraka jahannam itu, sedang kamu kekal di dalamnya. Maka Neraka jahannam itulah seburuk buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri”
QS. Shaad (38) : 59 – 60
“(Dikatakan kepada mereka): "Ini adalah suatu rombongan (pengikut pengikutmu) yang masuk berdesak-desak bersama kamu (ke Neraka)". (Berkata
pemimpin-pemimpin mereka yang durhaka): "Tiadalah ucapan selamat datang kepada mereka karena sesungguhnya mereka akan masuk Neraka” "Pengikut-pengikut mereka menjawab: "Sebenarnya kamulah. Tiada ucapan selamat datang bagimu, karena kamulah yang menjerumuskan kami ke dalam azab, maka amat buruklah Jahannam itu sebagai tempat menetap".
QS. Shaad (38) : 64
“Sebenarnya yang demikian itu pasti terjadi, (yaitu) pertengkaran penghuni Neraka.”
Begitulah kondisi Neraka. Secara fisik digambarkan sebagai tempat yang mengerikan. Namun, tingkat kengerian itu sebenarnya semakin besar diakibatkan oleh hati mereka yang telah 'terbuka' untuk bisa mengakses tingkatan langit yang lebih tinggi, tetapi dalam skala negatif.
Alam semesta ini berpasang-pasangan. Ada siang ada malam. Ada Atas ada bawah. Ada baik ada buruk. Maka, dalam pernahaman.Neraka dan Surga ini, kita juga mengenal hal seperti itu. Surga adalah pasangan Neraka. Surga melambangkan kondisi positif. Sedangkan Neraka adalah kondisi negatif. Jika keduanya dipertemukan dalam satu titik, maka segala eksistensi ini bakal lenyap.
Surga menempati langit positif, sedangkan Neraka di langit negatif. Keduanya bisa diumpamakan sebagai deret bilangan. yaitu, di bagian kiri adalah deret bilangan negatif menuju pada tak berhingga. Di sebelah kanannya adalah deret bilangan positif juga menuju pada tak berhingga. Sedangkan, di tengah antara keduanya adalah bilangan Nol alias 'kosong'.
Deret bilangan negatif adalah 'alam Neraka'. Sedangkan deret bilangan positif adalah 'alam Surga'. Namun secara fisik, mereka tetap berada di permukaan Bumi, ‘terikat’ pada wilayah Surga dan Neraka. Secara kejiwaan manusia bisa melihat, mendengar dan merasakan sekaligus, dengan 'indera' hati terhadap alam negatif dan alam positif tersebut.
'Penglihatan' lewat hati inilah yang meningkatkan kualitas Neraka dan kualitas Surga yang diterima seseorang pada hari Akhir. Sehingga Allah mengatakan, bahwa Neraka itu akan naik sampai ke hati mereka.
QS. Al Humazah (104) : 5 – 7
"Dan tahukah kamu apa Huthamah itu? Api Allah yang dinyalakan. Yang sampai ke hati."
ALAM FANA DAN ALAM BAQA
Secara umum kita mengenal 2 macam alam, yaitu Alam Fana danAlam Baqa. Alam Fana digambarkan sebagai alam Dunia, yang suatu ketika akan mengalami kehancuran. Sedangkan Alam Baqa adalah alam yang kekal abadi, tidak akan pernah mengalami kehancuran lagi.
Pendapat ini berkembang sudah sedemikian lama, sehingga seakan-akan sudah dianggap sebagai kebenaran dan kenyataan. Akan tetapi dalam hal ini ada beberapa bagian yang 'janggal' dan kurang bisa dipertanggungjawabkan secara logika ilmiah.
Untuk itu, saya mencoba membahasnya dari dua sisi. Yang pertama dari sisi logika agama Islam, yang bersumber pada Al Qur'an. Dan yang kedua, adalah logika ilmiah, yang bersumber pada pernahaman empiris ilmu Astronomi. lnsya Allah keduanya akan.memberikan pemahaman yang lebih komprehensif.
(Sebenarnya saya kurang 'senang' menggunakan istilah logika agama dan logika ilmiah, karena seakan-akan Agama kita tidak ilmiah, dan sebaliknya ilmu-ilmu pengetahuan tidak agamis. Bagi saya, sebenarnya keduanya adalah satu kesatuan yang menggambarkan ke-ESA-an Allah. Akan tetapi, karena kebanyakan kita terkutub ke pemikiran seperti itu, maka saya 'terpaksa, mengikuti pola tersebut. Tetapi Insya Allah keduanya akan bermuara sama dalam pembahasan ini.)
LOGIKA AGAMA
Ada beberapa logika yang perlu kita kembangkan untuk memahami persoalan Akhirat. Logika-logika ini kita kembangkan dengan bersumber pada pemikiran Islam sendiri. Karena itu saya menyebutnya sebagai logika agama. Padahal, sebenarnya Allah tidak membeda-bedakan cara berpikir dalam memahami eksistensiNya. Dari sudut pandang mana pun kita berpikir, selama kita jujur untuk mencari Allah, maka kita pasti akan 'bertemu' denganNya.
Dari sisi penciptaan, kita mengenali bahwa eksistensi ini hanya bisa dikelompokkan ke dalam dua pihak. Pihak pertama adalah Pencipta alias Khaliq. Dan pihak kedua adalah Makhluk alias 'yang diciptakan'.
Nah, dalam konteks Alam Akhirat ini kita juga bisa membaginya ke dalam dua 'kutub' itu. Sebagai Pencipta pastilah Allah adanya. Karena logika agama kita tidak memberikan alternatif lain dalam memahami masalah penciptaan ini.
Dan kemudian, karena Allah adalah Sang Pencipta, maka 'Alam Akhirat' mau tidak mau adalah makhluk ciptaan Allah. Ini sebagai konsekuensi bahwa Sang Pencipta hanya satu, yaitu Allah saja.
Inilah konsep ketauhidan di dalam agama kita. Adalah tidak masuk akal kalau ada dua Pencipta. Mereka pasti akan 'berebut' ciptaan. Dan sangat boleh jadi akan ‘bertengkar’ untuk menonjolkan ciptaan masing-masing. Karena itu, Allah berfirman di dalam Al Qur'an tentang hal itu.
QS. Anbiyaa' (21) : 22
"Sekiranya ada di langit dan di Bumi Tuhan-Tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai Arsy daripada apa yang mereka sifatkan."
Jadi, menurut logika tauhid kita, hanya Allah saja yang layak menjadi Sang Pencipta. Selebihnya adalah makhluk. Siapa dan apa sajakah makhluk yang diciptakan Allah itu? Tentu saja, semuanya. Pokoknya, yang selain Allah.
Manusia ciptaan Allah. Jin dan malaikat juga ciptaan Allah. Setan, Surga dan Neraka pun ciptaan Allah. Alam dunia dan alam Akhirat, ya ciptaan Allah. Ruang, waktu, sistem nilai sosial, politik dan seluruh tatanan hukum di alam semesta ini tidak lain adalah ciptaan Allah.
Nah, karena semua itu ciptaan Allah, maka suatu ketika di zaman dulu, mereka itu pernah tidak ada. Kemudian diadakan olehNya. Dan karena pernah tidak ada, maka logika agama mengatakan bahwa suatu ketika kelak, mereka juga akan kembali tidak ada, alias lenyap. Inilah yang di dalam agama kita dikenal sebagai sifat Fana alias bisa rusak, dan suatu ketika akan lenyap. Lawannya adalah Baqa alias kekal dan tidak bisa rusak.
Problemnya, adalah ketika kita berbicara tentang Akhirat. Begitu banyaknya ayat Al Quran menyatakan bahwa kehidupan Akhirat adalah kekal abadi di antaranya adalah ayat-ayat di bawah ini. Padahal, kita meyakini kalau Akhirat tersebut adalah makhluk. Dan, sebagai makhluk, pastilah ia fana alias tidak kekal. Yang kekal tidak bisa lain hanya Allah saja.
QS. Al Baqarah (2) : 25
“Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan Surga-Surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam Surga-Surga itu, mereka mengatakan: "Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu." Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan Mereka kekal di dalamnya.”
QS. Al Baqarah (2) : 39
"Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni Neraka; mereka kekal di dalamnya."
QS Ali Imran (3) : 107
"Adapun orang-orang yang putih berseri mukanya, maka mereka berada dalam rahmat Allah (Surga); mereka kekal di dalamnya.
QS At Taubah (9) : 100
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka Surga-Surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.
QS. Huud (11) : 23
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh dan merendahkan diri kepada Tuhan mereka, mereka itu adalah penghuni-penghuni Surga mereka kekal di dalamnya."
Dan masih banyak lagi ayat tentang kekekalan Surga, Neraka, Atau Ahirat itu. Tak kurang dari 110 ayat yang menggambarkan, betapa Akhirat, Surga dan Neraka itu kekal.
Di sinilah muncul kontradiksi. Kenapa Akhirat sebagai makhluk kok dikatakan kekal abadi. Yang manakah yang salah? Apakah pemahaman kita yang salah Ataukah informasi tersebut yang keliru.
Dalam hal ini, pasti kita tidak akan mengambil kesimpulan nomor dua. Tidak mungkin informasi Al Qur'an salah. Jadi, hanya ada satu kemungkinan saja, yaitu pemahaman kitalah yang keliru atau setidak-tidaknya kurang tepat.
Dimanakah kurang tepatnya, padahal secara eksplisit Al Qur'an jelas-jelas mengatakan bahwa Akhirat itu kekal selama-lamanya?
Kondisi ini, sebenarnya mirip dengan informasi tentang Kiamat. Ketika Allah mengatakan bahwa Kiamat itu sudah dekat, maka kita langsung saja mengambil kesimpulan bahwa yang dimaksud dekat itu pasti tinggal beberapa tahun saja.
Padahal sebagaimana kita ketahui, dan telah kita bahas di depan bahwa sejak zaman rasulullah sampai sekarang, waktu sudah berjalan hampir 1.500 tahun, tetapi kiamat itu belum juga terjadi. Maka, dimanakah kesalahan pernahaman kita? Hal ini sudah saya jelaskan di depan bahwa ternyata ada relativitas waktu yang harus kita perhitungkan dalam proses penafsiran kita.
Selain, itu agar kita tidak terjebak kepada pemahaman sebagian, Atau parsial, maka sebaiknya kita jangan menafsirkan ayat-ayat tersebut hanya dari satu atau dua ayat saja. Sebisa mungkin kumpulkan ayat sebanyak-banyaknya. Sebab, meskipun banyak ayat mengatakan A, jika ada salah satu ayat lainnya mengatakan B, maka kita harus membuat pertimbangan yang lain. Dengan demikian, kita bisa membuat penafsiran secara menyeluruh dan komprehensif. Karena itu, dalam kajian ini saya sengaja mengutip demikian banyak ayat-ayat Al Qur'an. Tak kurang dari 250 ayat!
Begitulah, ketika kita berbicara tentang pemahaman Akhirat. Marilah kita kumpulkan ayat -ayat yang terkait sebanyak-banyaknya. Dan ternyata dari sekian banyak ayat tentang 'kekekalan' Akhirat itu ada yang memberikan 'tanda-tanda' berbeda. Di antaranya adalah yang terdapat di surat Huud.
QS. Huud (11) : 106 – 108
"Adapun orang-orang yang celaka, maka tempatnya adalah di dalam Neraka, di dalamnya mereka menarik dan mengeluarkan nafas."
"Mereka kekal di dalamnya selama ada Langit dan Bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki"
"Ada pun orang-orang yang bahagia tempatnya adalah di dalam Surga, mereka kekal di dalamnya selama ada Langit dan Bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain), sebagai karunia yang tiada putus putusnya.”
Ayat di Atas bercerita tentang keadaan penduduk Neraka dan penduduk Surga. Dikatakan oleh Allah, bahwa mereka itu akan kekal di dalam Surga Atau Neraka, selama ada langit dan Bumi.
Informasi ini, sungguh sangat menggelitik logika kita. Kenapa demikian? Sebab ternyata kekekalan Surga dan Neraka itu menurut ayat ini tergantung kepada kondisi lainnya, yaitu keberadaan langit dan Bumi alias alam semesta.
Dengan kata lain, Akhirat itu akan kekal jika langit dan Bumi Atau alam semesta ini juga kekal. Sehingga, kalau suatu ketika alam semesta ini mengalami kehancuran, maka alam Akhirat juga bakal mengalami hal yang sama, kehancuran.
Tentu, hal ini membuat kita agak shock. Sebab ini telah ‘menggoyang’ apa yang sudah kita pahami selama ini. Bahwa yang namanya Akhirat itu adalah alam baka. Alam yang kekal abadi, dan tidak akan pernah mengalami kiamat lagi. Dan itu telah dikatakan berulang-ulang di dalam Al Qur'an.
Akan tetapi, apakah kita tidak percaya kepada firman Allah di Atas, bahwa Surga dan Neraka itu kekalnya adalah sekekal langit dan Bumi? Tentu saja, kita juga nggak berani untuk tidak percaya, sebab kalimat-kalimat di Atas demikian gamblangnya : Khaalidiina fiiha maadaamatis samaawati wal ardhi... (kekal di dalamnya selama ada langit dan Bumi... ).
Alam semesta ini -menurut perhitungan astronomi- memang tidak kekal. Sebagaimana saya ceritakan di bagian depan, alam semesta ini dulu pernah tidak ada, dan suatu ketika bakal tidak ada tagi. Meskipun, hal itu akan terjadi dalam kurun waktu yang masih sangat sangat lama, sekitar 18 miliar tahun lagi.
Justru di sinilah kunci pemahamannya. Pertama, bahwa Akhirat tersebut sesungguhnya memang tidak kekal. Akan tetapi, ketidak kekalan itu bukan berarti 'meringankan' arti dari informasi-informasi sebelumnya yang mengatakan: Khaalidiina fiiha... (kekal di dalamnya…). Dan di ayat yang lainnya lagi seringkali ditambahkan kata ‘abada’ (abadi, selama-lamanya). Miliaran tahun!
Karena Kekal yang dimaksudkan tersebut memang bukan kekal yang tidak berbatas. Akhirat adalah makhluk. Karena itu ia pasti memiliki awal dan memiliki akhir.
Dan, yang kedua, sesuai dengan pembahasan di depan, bahwa Alam Akhirat memang berada di dalam alam semesta. Bukan di luar alam semesta. Karena itu, ia bergantung sepenuhnya kepada keberadaaan alam semesta itu sendiri.
Langit yang ketujuh, dimana alam Akhirat berada, adalah suatu alam yang satu paket dengan alam semesta. Langit Dunianya ada di langit yang pertama, sedangkan Alam Akhiratnya berada di langit ke tujuh.
Seluruh eksistensi ciptaan Allah yang diceritakan di dalam Al Qur’an adalah eksistensi di dalam alam semesta tersebut. Tinggal pilih langit pertama, atau kedua, atau ketiga dan seterusnya sampai ke tujuh. Sehingga, dalam perjalanan Isra' dan Mi'raj, Rasulullah saw, melihat Surga dan malaikat Jibril itu di langit yang ke tujuh. Itulah langit yang tertinggi. Dan di sanalah letak alam Akhirat.
Jadi, sangatlah jelas sekarang, alam Akhirat berada di langit ke tujuh. Dan, langit ke tujuh itu berada di dalam alam semesta. Dan, alam semesta itu suatu ketika akan mengalami kehancurannya.
Maka, menjadi logis bahwa Akhirat yaitu Surga dan Neraka keberadaannya bergantung pada keberadaan alam semesta. Jika alam semestanya, lenyap, maka lenyap pulalah alam Akhirat tersebut. Tentu saja, berikut Surga dan Nerakanya. Itulah informasi yang terkandung di dalam QS. Huud (11) : 106 – 108!
Kesimpulan tersebut menjadi lebih mantap, kalau kita menggunakan logika ketiga. Saya khawatir, di kalangan kita ada, yang berpendapat bahwa Alam Akhirat itu 'ada terus' bersama Allah. Artinya, jangan-jangan kita berpikir bahwa Allah itu berada di dalam Alam Akhirat.
Kesan ini saya tangkap dari berbagai kalangan, disebabkan oleh pemahaman yang parsial. Misalnya, ada kesan bahwa Allah itu 'hanya bisa' kita temui di Akhirat nanti. Saya juga khawatir, pengertian semacam itu dipengaruhi oleh konsep agama lain yang mengatakan bahwa Allah itu berada di dalam Surga. Dan Surga itu berada di alam Akhirat.
Sehingga tanpa kita sadari kita terpengaruh, dan menganggap bahwa Allah swt itu bertempat tinggal di dalam Akhirat. Bahkan tinggal di Surga. Dan sebagian lagi, juga berpendapat mirip itu, dengan mengatakan 'Arsy Allah' itu juga terdapat di alam Akhirat.
Ini sungguh sebuah pemahaman yang keliru. Dan berakibat fatal terhadap persepsi kita kepada Akhirat. Kita memandang alam Akhirat itu lantas identik dengan keberadaan Allah. Padahal, sama sekali tidak! ALLAH TIDAK BERADA DI ALAM AKHIRAT. Apalagi di dalam Surga. Sungguh Surga dan alam Akhirat terlalu kecil untuk 'mewadahi' eksistensi DZAT Nya.
Salah persepsi tentang Allah dan Alam Akhirat inilah yang kemudian membuat kita menganggap bahwa alam Akhirat itu kekal adanya. 'jika tidak kekal dan Surganya juga lenyap nanti Allah bertempat tinggal dimana?!! "Begitulah kira-kira pikiran kita. Sungguh, ini sangat konyol…!
Allah tidak berada di Surga Atau pun alam Akhirat. Demikian besarnya Dzat Allah itu, sehingga justru Surga, Neraka, dan alam Akhirat itulah yang terdapat di dalam Allah.
Kalau kita masih juga ragu untuk mengatakan bahwa alam Akhirat itu tidak kekal. Atau dengan kata lain, masih juga berpendapat bahwa Akhirat adalah kekal adanya, maka marilah kita melakukan test terakhir, yaitu menguji pendapat tersebut dengan pertanyaan berikut ini : kekal manakah Alam Akhirat dengan Allah?
Pertanyaan tersebut 'memaksa' kita untuk memilih salah satu. Ini konsekuen dengan pembahasan kita sebelumnya, bahwa Allah bukanlah Akhirat, dan Akhirat bukanlah Allah. Allah adalah Sang Pencipta, sedangkan Akhirat adalah yang diciptakan. Karena itu, tidak bisa ada kedua-duanya selama-lamanya.
Maka, jawaban kita cuma satu, yaitu : Pastilah Allah lebih Kekal. Jawaban tersebut memberikan kesimpulan yang tuntas. Seberapa pun hebatnya Alam Akhirat. Dan seberapa pun lamanya kehidupan Akhirat, suatu ketika ia akan berakhir juga. Kapankah itu? Nah, disinilah logika-logika ilmu pengetahuan yang bersifat empiris berperan untuk mengkaji dalam melakukan rekonstruksi lebih lanjut ...
LOGIKA SAINS
Sebagaimana logika agama, logika ilmiah juga berkesimpulan bahwa alam semesta ini bakal lenyap. Ada dua hal yang menyebabkan lenyapnya alam semesta. Yang pertama adalah bertemunya 'langit positif' dan 'langit negatif'. Sedangkan yang kedua, adalah 'menciutnya' alam semesta setelah mengalami kondisi berkembang selama 15 miliar tahun, sehingga lenyap di pusat alam semesta.
Telah saya singgung di depan, bahwa alam semesta ini memiliki pasangan- pasangan. Dan Allah menciptakan eksistensi langit juga secara berpasangan. Secara umum, dikatakan bahwa alam terbentuk dari materi dan energi.
Materi bisa berubah menjadi energi, dan energi bisa berubah menjadi materi, sebagaimana telah dirumuskan oleh Einstein. Sehingga seakan-akan materi adalah pasangan energi. Sesungguhnya tidak demikian. Materi bukanlah pasangan energi, meskipun keduanya bisa saling berubah.
Energi memiliki pasangannya sendiri, yaitu energi positif dan energi negatif. Yang satunya diserap oleh struktur alam, sedangkan yang lainnya dipancarkan. Sedangkan materi, memiliki pasangan yang disebut antimateri.
Energi positif jika dipertemukan dengan energi negatif akan menjadi nol. Demikian pula, materi jika dipertemukan dengan antimaterinya akan menjadi nol. Jadi yang disebut pasangan adalah jika keduanya dipertemukan akan menjadi nol atau 'setimbang'. Seperti Atas Bawah, Siang Malam, Kiri Kanan, Dulu dan Masa depan, dan lain sebagainya.
Maka Surga dan Neraka adalah sebuah pasangan. Satunya berada di langit positif dan lainnya berada di langit negatif. Surga memancarkan energi, sedangkan Neraka menyerap energi. Surga berada di alam 'materi' dan Neraka berada di alam 'anti materi'.
Karena itu, Kebahagian Surga selalu digambarkan sebagai kehidupan yang 'penuh pemberian'. Berupa apa saja yang menyebabkan rasa bahagia dalam kehidupan kita di alam Akhirat. Apa saja yang kita inginkan, di sana tersedia.
Sebaliknya, Neraka digambarkan sebagai kehidupan yang penuh kesengsaraan dan 'memakan' energi. Demikian banyak siksaan yang mengerikan. Dan semuanya 'menghabiskan' energi.
Kenapa, bisa demikian? Ternyata ini ada kaitannya dengan aktivitas kita selama di dunia. Jika kita berbuat baik, maka kita terus memancarkan energi positif selama di dunia. Memang berat, karena kita harus menghasilkan energi positif terus-menerus. Akan tetapi ini, ternyata menyebabkan terakumulasinya energi positif di langit positif yang menjadi wilayah Surga.
Dan pada saat hidup di alam Akhirat nanti, energi positif itu memancar untuk kita. Kenapa? Sebab hukum alam telah berjalan terbalik. Jika di dunia kita banyak memberi, maka di Akhirat nanti kita akan banyak menerima.
Sebaliknya, kalau di dunia kita banyak menyerap energi positif alias menghasilkan energi negatif. Maka, pada saat di Akhirat nanti kita bakal banyak 'menyerap' energi negatif berupa 'siksaan-siksaan', yang setimpal dengan energi dosanya.
Itulah yang terjadi pada saat kita di Neraka. Bayangkan, selama di dunia. kita banyak 'mengambil' hak (menyerap energi) orang lain : berupa harta, kekuasaan, seksualitas, dan lain sebagainya. Maka, ketika alam berjalan terbalik (di Neraka Akhirat) kita harus mengembalikan energi itu secara berlipat ganda.
Itulah yang. digambarkan oleh Allah di dalam Neraka orang yang banyak dosanya harus dibakar habis-habisan. Kenapa? Supaya dia memperoleh energi positif, untuk melunturkan energi negatif yang 'ngendon' di dalam dirinya, baik secara fisik maupun secara kejiwaan.
Semakin besar dosa-dosanya, maka semakin besar pula energi negatifnya. Sehingga dia membutuhkan energi dari api Neraka yang semakin besar, untuk menetralkannya. Maka adalah benar adanya ketika Allah mengatakan bahwa dosa-dosa yang kita perbuat selama di dunia ini sebenarnya adalah beban bagi kita ketika berada di Akhirat.
QS. Thahaa (20) : 101
"mereka kekal di dalam keadaan itu. Dan amat buruklah dosa itu sebagai beban bagi mereka di hari kiamat ".
QS. Al Ankabuut (29) : 13
“Dan sesungguhnya mereka akan memikul beban (dosa) mereka, dan beban-beban (dosa yang lain) di samping beban-beban mereka sendiri, dan sesungguhnya mereka
akan ditanya pada hari kiamat tentang apa yang selalu mereka ada-adakan.”
Nah, beban itu harus 'dilepaskan' satu per satu, selama di Neraka tersebut. Hal itu berlangsung sampai dengan lunturnya dosa-dosa. yang telah di perbuatnya. Maka suatu ketika dosa-dosa, itu akan menjadi Nol, seiring usia Akhirat. Akan tetapi mereka tidak akan pernah bisa keluar dari Neraka itu. Seperti difirmankan Allah di bawah ini.
QS. Al Infithaar (82) : 16
“Dan mereka sekali-kali tidak dapat keluar dari Neraka itu.”
Sebaliknya orang-orang yang di Surga, mendapatkan balasan energi positif terus-menerus. Jumlahnya berlipat-lipat dibandingkan dengan apa yang diperbuatnya selama di dunia. Itu disebabkan oleh efek 'bunga berganda' yang dimiliki alam semesta. Sampai kapankah? Sampai energi positif yang dihasilkannya sebagai 'pahala' menjadi Nol., Dan mereka juga tidak akan dikeluarkan dari Surga itu.
QS. Al Hijr (15) : 48
“Mereka tidak merasa lelah di dalamnya dan mereka sekali-kali tidak akan dikeluarkan daripadanya.”
Jadi, orang yang berada di Neraka akan selamanya di Neraka. Sedangkan yang di Surga akan selamanya di Surga. Tidak ada satu ayat pun yang mengatakan bahwa orang yang di Neraka, suatu ketika bisa pindah ke Surga ke jika dosa-dosanya sudah habis. Pemahaman ini agaknya cuma berupa 'harapan' semata. Allah mengatakan bahwa mereka akan kekal selama-lamanya, baik yang di Surga maupun yang di Neraka. Sampai dosa dan pahala mereka menjadi nol.
Kapankah pahala dan dosa mereka itu menjadi nol'? Ketika.alam semesta sudah tidak memiliki selisih energi lagi. Dalam konteks ini, artinya, Langit Positif (Surga) dan Langit Negatif (Neraka) telah bertemu di satu titik. lbarat deret bilangan, angka-angka positif maupun negatifnya telah ditarik bersatu menuju pusatnya : titik Nol.
Itulah saat-saat kita semua kembali kepada 'Ketiadaan Mutlak'. Atau sebaliknya, menjadi 'Keber-Ada-an Mutlak'. Pada waktu itu, segala urusan telah kembali kepada KehendakNya semata, seperti firmanNya di QS. 11: 106 - 108. (khaalidiina fiiha maadaamatis samaawati wal ardhi illa bimaasyaa’).
Tetapi dalam logika Sains, berapa lamakah kehidupan Akhirat bakal berlangsung? Akhirat akan berlangsung selama langit dan Bumi masih ada! Akan tetapi, apakah
alam semesta akan ada terus? Tidak, karena pada periode Akhirat itu alam semesta sedang bergerak menciut menuju pusatnya!
Maka Allah mengatakan, pada waktu itu Dia menggulung langit Atau alam semesta ini seperti menggulung lembaran-lembaran kertas menuju kejadian semula. Artinya, bertitik tolak dari tempat yang sama, dulu Allah menggelar lembaran-lembaran itu, dan kini menggulungnya kembali menuju titik yang sama pula.
QS. Anbiyaa’ (21) : 104
"yaitu pada hari Kami menggulung langit bagaikan menggulung lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama begitulah Kami akan mengulangnya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati. Sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakan."
Berapa lamakah proses penggulungan langit itu terjadi? Diperkirakan sekitar 15 miliar tahun, yaitu selama periode Akhirat. Logika yang dipakai adalah : jika alam semesta berkembang dari kondisi awal (Big Bang) sampai berhenti membutuhkan waktu 15 miliar tahun, maka waktu yang diperlukan untuk menciut dari kondisi berhenti menuju titik awal juga selama 15 miliar tahun.
Sungguh sebuah periode yang bukan main lamanya. Karena itu, sangat masuk akal kalau Allah sangat sering menggunakan kata 'Kekal' dan 'Abadi' untuk menggambarkan lamanya periode Akhirat itu. Kalau dibandingkan dengan kehidupan manusia yang Cuma puluhan tahun di dunia, memanglah kehidupan Akhirat yang miliaran tahun itu bagaikan sebuah kehidupan yang Kekal dan Abadi.
Tapi toh demikian, Allah terus menggulung alam Semesta, bergerak menuju pusatnya. 'Ruang' dan 'Waktu' terus mengecil, mengecil, dan mengecil. Sehingga pada suatu saat nanti, sekitar 18 miliar tahun dari sekarang, alam semesta ini akan lenyap kembali seperti awal mulanya. Yang Ada hanya Allah, Sang Maha Perkasa Sumber Segala Kedamaian di Alam Semesta ...
QS. Al Qashash (28) : 88
"Janganlah kamu sembah disamping Allah, Tuhan apa pun yang lain. Tidak ada Tuhan melainkan Dia. Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali WajahNya (saja). Baginyalah segala penentuan, dan hanya kepadaNya lah kamu dikembalikan."
No comments :
Post a Comment