Tuesday, June 21, 2016

WAJAH ALLAH

pertanyaan Umum yang biasa muncul :

Agar kita tidak salah arah, maka terlebih dahulu kita harus tahu persis Allah kita. Kita harus tahu Wajah-Nya. Karena dalam shalat kita katakana: “Ku hadapkan wajahku kepada Wajah Dia yang menciptakan langit dan bumi, lurus, tidak syirik kemana-mana”. Kalau tidak begini, maka saat kita memanggil Allah tersebut kita sedang mengarah kepada siapa…?, Saat kita mengucapkan subhanallah, alhamdulillah, laa ilaha illaallah, allahu akbar kita menghadap siapa??.

Maksud dan cara atau indikator tentang tulisan berhuruf tebal. Wajah-Nya kemana??? Kami belum paham karena bayangan kami masih bentuk materi.

=================================================================================

Jawaban :

Pertanyaan seperti di atas adalah sebuah pertanyaan paling fundamental sekali, the ultimate fundamental question, yang selalu ingin dicari jawabannya oleh seluruh umat manusia. Sebab setiap orang pastilah ingin menyandarkan kesadarannya kepada “Wajah Sesuatu” yang dianggapnya lebih dari apapun juga. Sebab tak peduli siapapun juga dia, maka pastilah dia punya alamat tempat dimana dia meletakkan kesadaran terakhirnya.

Mari kita lihat satu persatu.

Atheis…

Orang athies bisa saja tengah meletakkan kesadaran terakhirnya kepada “wajah” dirinya sendiri, bahwa hanya dirinya sendiri yang dia anggap punya kemampuan dalam segala hal di dalam hidupnya, sehingga dia merasa tidak perlu lagi, atau tepatnya menghambat kesadarannya, untuk bergerak kepada sesuatu diluar dirinya. Begitu juga saat seorang atheis melihat alam semesta ini, dia tidak mampu pula beranjak dari hanya kesadaran terhadap dirinya sendiri. Alam semesta itu tidak mampu menurunkan keangkuhannya terhadap keakuan dirinya sendiri. Bahkan dengan melihat alam semesta itu dia tidak sedikit pun mampu mengurai kesadarannya menuju Dzat Yang Meliputi alam semesta itu. Nah…, kesadaran yang seperti ini disebut sebagai kesadaran atheis.


Kepercayaan Serba Benda …

Kemudian mari kita lihat orang yang tidak atheis, dimana arah kesadarannya mulai beranjak dari hanya berpusat pada dirinya sendiri menuju kepada sesuatu yang bukan dirinya, diluar dirinya. Dengan kesadaran seperti ini, pada setiap ada kejadian yang menimpanya, maka seseorang akan mencari sandaran kesadarannya kepada, misalnya, pohon beringin yang sangat besar, kepada gunung, kepada kepada laut, kepada bulan, kepada matahari dan sebagainya. Jadi pada “suasana” seperti ini, ada perpindahan kesadaran bahwa sebuah kejadian disebabkan oleh pengaruh dari sesuatu di luar dirinya sendiri. Lalu sesuatu itu dihormati, dipuja, disembah, dan dimintai pertolongan oleh mereka.

Tidak jarang pula orang-orang seperti ini membuat sesuatu bentuk atau bangunan (OBJEK FIKIR) yang tujuannya adalah untuk mengangkat kesadarannya dari dirinya menuju sesuatu diluar dirinya. Candi Barobudur, candi INCA (untuk rakyat Indian Amerika), dan piramida di Mesir adalah beberapa contoh dari adanya bangunan tua dan megah yang dijadikan orang untuk mengantar kesadarannya keluar tubuhnya sendiri. Begitu mereka memandang, menyadari, dan menarok kesadarannya pada bangunan-bangunan itu, sebagai objek fikirnya, maka dia merasa seperti bisa melepaskan diri dari persoalan-persoalan hidup yang menimpanya. Setiap ada masalah, setiap ada permintaan, setiap ada kesulitan, maka dia mengarahkan kesadarannya kepada objek fikir yang dia pegang teguh itu, sehingga dia seperti punya pegangan untuk bersandar. Begitu orang bisa merasa punya tempat sandaran, maka dia akan mulai merasakan ketenangan. Dan luarbiasanya, siapapun yang mampu masuk dan berada pada wilayah ketenangan (hati dan fikiran), dimana mereka tidak was-was dan takut lagi, maka secara perlahan dan pasti mereka akan menemukan jalan-jalan keluar dari masalah mereka dengan sangat mengejutkan. Sehingga semakin kuatlah dia mengikatkan diri kepada objek fikir berupa candi, bangunan, ataupun fenomena-fenomena alam lainnya.

Kalau ada orang yang melarang, ataupun menyalahkan orang-orang dengan objek fikir seperti ini, maka mereka akan melawannya mati-matian. Sebab yang disalahkan dan dilarang adalah objek fikir dimana mereka bisa merasa tenang. Satu-satunya cara untuk melarang dan menyalahkan orang ini adalah dengan cara mengenalkan mereka dengan objek fikir yang lebih dari objek fikir yang telah pernah mereka punyai. Begitu objek fikirnya berubah kepada sesuatu yang baru, maka seketika itu pula orang itu telah meninggalkan objek fikirnya yang lama. Biarpun kita masih mengenalkan mereka dengan objek fikir mereka yang lama, maka itu sudah berpengaruh kecil kepada perasaannya. Karena dia sudah punya objek fikir baru yang lebih membuat otaknya ekstasis dan mengeluarkan enzim-enzim yang mengaliri pusat-pusat rasa nikmat yang berpengaruh keseluruh tubuhnya.

Kepercayaan Immaterial…

Pada tingkat yang lebih tinggi, ada orang yang merasa bahwa mengarahkan kesadaran kepada objek fikir berupa benda-benda itu ternyata sudah tidak cukup lagi baginya untuk memberinya rasa tenang dan terlepas dari segala permasalahan hidupnya. Oleh sebab itu dia mulai mencoba untuk mengarahkan kesadarannya kepada sesuatu yang bukan materi. Maka kemudian lahirlah konsep agama-agama dengan mengenalkan adanya “Suatu Dzat” yang mengendalikan seluruh alam semesta ini dan diri seluruh umat manusia. Sesuatu itu dikenal orang dengan sebutan Tuhan, yang dalam berbagai bahasa bisa saja dibaca dengan ungkapan God, Yohevah, Brahman, Tao, Bapa Di Syurga, Manitou, dan sebagainya. Di dalam agama islam dan kristen disebut juga dengan sebutan ALLAH (walau cara pengucapannya dalam islam dan kristen sangat berbeda).

Dari sekian banyak nama dan panggilan untuk Tuhan itu tadi, ada satu KONSEP yang sama yang untuk memaknai Tuhan itu, yaitu ciri-ciri dari Wajah Tuhan itu adalah bahwa “DIA tidak sama dengan apapun juga, Dia tidak di barat dan tidak di timur, Dia Esa, Dia tempat segala sesuatu bergantung dan bersandar”. Sebuah definisi yang sangat universal saja sebenarnya untuk menggambarkan sesuatu yang Immaterial, sesuatu yang tidak bisa dibayangkan dan dipersepsikan. Sampai disini masih tidak ada masalah sedikitpun tentang makna Tuhan bagi seluruh umat manusia. Semua mempunyai definisi yang sama tentang Tuhan, walau dengan nama yang berbeda-beda. Makanya Al qur’an mengatakan bahwa apabila kita tanya umat manusia itu, siapa Tuhannya, maka jawabannya adalah Tuhan Yang Esa…, dengan ciri-ciri seperti diatas.

Akan tetapi masalah besar baru muncul saat seseorang mau mengarahkan dan menarok kesadarannya kepada Tuhan yang tidak sama dengan apapun juga itu. Begitu dia merasa punya masalah, saat dia merasa khawatir dan takut, saat dia menginginkan jalan keluar dari problematika hidupnya, sehingga dia butuh tempat berpegang dan tempat bergantung, maka dia merasa kesulitan. Sebab alamat tempat dia berpegang itu adalah sesuatu yang IMMATERIAL. Sebuah ALAMAT yang tidak bisa dibayangkan. Padahal tidak bertemunya tempat kita berpegangan saat kita punya masalah adalah sebuah problem baru yang tidak kalah dahsyatnya. Kita bisa megap-megap, kita bisa kelabakan, kita bisa seperti layangan putus. Sehingga tidak jarang orang yang bermasalah seperti ini ada yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Tidak kuat menanggung derita soalnya…

Kalau sudah begini, walaupun seseorang sudah mempercayai adanya Tuhan, maka dia kemudian akan mencari-cari objek fikir baru yang lebih mudah. Dan itu biasanya adalah sesuatu yang bisa dia bayangkan. Sebab sesuatu itu berguna untuk menarok kesadarannya soalnya. Maka kemudian objek fikir immaterial itu berubah menjadi objek fikir MATERI. Adanya konsep ANAK TUHAN yang dilekatkan kepada YESUS KRISTUS di dalam agama kristen adalah buah dari kesulitan diatas. Jadi dengan memandang wajah dan wujud Yesus Kristus yang kemudian dipersonifikasikan dengan patungnya yang sedang disalib mampu membuat umat kristen menyandarkan segala permasalahan hidupnya kepada sebuah alamat yang dianggapnya sebagai Tuhan.

Begitu umat kristen punya masalah, lalu mereka ingin lari ke Tuhan, maka saat mereka menyebut nama Tuhan itu, fikiran dan kesadarannya berhenti di patung Yesus. Apapun yang disebutkannya tentang Tuhan, misalnya yang rahman, yang rahim, yang quddus, yang salam, maka kesadarannya akan terhenti diwajah Yesus Kristus yang memang dibuat begitu memelas dan menimbulkan rasa hiba dan hormat umat kristiani.

Nah…, kalau fikiran sudah berhenti, kalau kesadaran sudah diletakkan pada suatu alamat yang tetap, maka siapapun juga akan merasakan kedamaian dan ketenteraman. Dan orang yang merasa damai akan mudah pula mendapatkan hasil karya yang lebih dari orang-orang yang fikirannya kacau balau dan kesadarannya tak menentu. Makanya tidak jarang umat kristen, di acara-acara TV, bisa sembuh seketika dari sakitnya saat dia berdo’a atau di do’akan oleh seorang pendeta dihadapan patung yesus.

Begitu juga…, sangat mudah bagi umat kristiani untuk bisa menangis saat mereka melakukan kebaktian dan do’a di gereja. Apalagi kalau fikiran sudah berhenti di patung yesus, dan kesadarannya sudah dibawa untuk merasakan kesengsaraan Yesus dalam mengorbankan dirinya untuk umat manusia, ditambah lagi dengan adanya irama nyanyian paduan suara gereja dan piano yang melengking-lengking, maka tangis adalah sebuah keniscayaan saja sebenarnya. Sungguh sebuah pemandangan yang sakral sekali kalau kita melihat acara-acara do’a umat kristiani di TV-TV.

Begitu juga dengan agama-agama lain yang ada di dunia ini. Kesulitan umat Hindu dalam meletakkan kesadarannya kepada Brahman yang tidak bisa dibayangkan, mereka alihkan dengan menarok kesadarannya kepada sifat-sifat dari Brahman itu. Paling tidak ada tiga sifat Sang Brahman yang dipersonifikasikan oleh Umat Hindu, yaitu Syiwa, Wisnu, Brahma, yang merupakan sifat-sifat Tuhan yang merusak, memelihara, dan mencipta alam semesta dengan segala isinya. Lalu nama-nama dan sifat itu dibuatkan MATERI-nya berupa patung-patung sesuai dengan sifat-sifat tersebut. Dan kepada patung-patung itulah umat Hindu meletakkan kesadarannya kepada Tuhan saat mereka ingin keluar dari masalah kesehariannya dan saat berdo’a.

Umat budha pun demikian. Untuk menarok kesadarannya kepada Tuhan yang Immateril, maka mereka membuat personifikasi Shidarta Gautama (Budha) sebagai personifikasi Tuhan yang Material. Dan kepada patung budha inilah umat budha menarok kesadarannya ketika mereka beribadah. Seperti juga dengan umat kristiani dan umat hindu, dan umat-umat beragama lain yang punya cara yang sama dalam mempersinifikasikan Tuhan. Misalnya personifikai Tuhan dalam bentuk dewa-dewi, seperti dewi Kwan Im, Dewa Hujan, Dewa matahari dan sebagainya.

Jadi bagi agama-agama seperti diatas ada sebuah proses “perantara” sebelum umatnya bisa mengenal dan mencapai Tuhan. Sebab Tuhan tidak bisa dijangkau dengan fikiran, maka untuk menjangkau Tuhan itu lalu dilakukanlah sebuah “proses antara” yaitu dengan mereka mengarahkan kesadarannya kepada materi (patung-patung) yang dipersonifikasikan sebagai Tuhan. Namun disinilah kesulitan hebat mulai muncul. Umat-umat beragam diatas tidak akan pernah bisa menjangkau Objek Fikir Immaterial tersebut sampai kapanpun juga, tanpa adanya objek fikir lain yang melebihi objek fikir material tersebut yang mereka pegangsaat ini. Begitu umat kristen menyebut Tuhan, maka yang muncul adalah personifikasi Yesus sebagai Tuhan. Bagi umat hindu menyebut Bhrahman, maka yang muncul adalah Syiwa, Wisnu, Brahma sebagai personifikasi Barahman. Dan begitu umat budha menyebut Tuhan, maka wujud budha lah yang terpampang dalam kesadarannya. Walau semuanya itu berada dalam kesadaran naluri atau bawah sadar mereka, tetap saja itu membekas sangat dalam di dalam kesadaran mereka.

Lalu posisi kesadaran kita umat islam ini berada dimana…??.

Pertanyaan ini kalau dijawab secara verbal atau tertulis akan mudah. Bahwa umat islam tidak diperkenankan untuk memakai proses antara ketika kita ingin meletakkan kesadaran kita kepada Tuhan saat kita punya berbagai problem kehidupan. Kita diminta untuk langsung menghadapkan diri kita kepada Tuhan tanpa perantara apapun juga. Bahwa Tuhan kita adalah Allah yang tidak sama dengan apapun juga, yang sangat dekat, yang meliputi segala sesuatu. Gampang sekali definisi Tuhan umat islam ini. Bahkan definisi tentang Tuhan ini sama saja dengan definisi Tuhan pada agama-agama lainnya diatas.

Namun dalam praktek ibadah yang sesungguhnya muncullah masalah yang hampir sama dengan masalah umat-umat beragama lainnya tadi itu. Yaitu bagaimana caranya kita menghadapkan kesadaran kita kepada SESUATU yang tidak bisa dipersepsikan dengan apapun juga. Di dalam shalat, misalnya, umat islam diminta untuk melakukan proses “Ku hadapkan wajahku kepada Wajah Dia yang menciptakan langit dan bumi, lurus, tidak syirik kemana-mana”. Ada wajah kita yang menghadap Wajah Tuhan. Lalu Wajah Tuhan yang meliputi segala sesuatu itu seperti apa…?. Kita mulai bingung pula.

Makanya kemudian ada pula yang memakai proses yang sebenarnya mirip dengan proses yang terjadi pada pemeluk-pemeluk agama kristen dan agama lainnya diatas, yaitu adanya sebuah atau beberapa proses antara dalam usaha kita mengenal Tuhan.

Contohnya…, dalam dunia tarekat pada umumnya, seorang salik akan menarok kesadaran dan fikirannya terlebih dahulu kepada guru mursyidnya sebelum dia melakukan perubahan kesadarannya menuju kepada Allah (dzikrullah). Makanya seseorang dianggap tidak bisa bertarekat tanpa adanya seorang guru mursyid yang membimbingnya. Seseorang dianggap baru bisa mengenal Tuhan sampai makrifat kalau dia sudah masuk kedalam sebuah tarekat. Kalau tidak, maka jangan harap. Karena ilmu ma’rifat itu dianggap orang sebagai sebuah ilmu RAHASIA yang sangat tinggi dan sulit didapatkan tanpa dibantu oleh peran seorang guru mursyid tertentu. Hanya guru-guru mursyid yang punya SILSILAH ILMU sampai ke Rasulullah sajalah yang bisa menguasai ilmu Ma’rifat tersebut. Tanpa masuk kedalam lingkaran guru mursyid tersebut dengan cara berbai’at kepadanya, maka kita akan tidak pernah bisa mengenal Allah sampai tingkat ma’rifat.

Hambatan secara KEJIWAAN seperti inilah sebenarnya yang menghalangi seseorang untuk mampu mengarahkan kesadarannya kepada Allah. Setiap akan mencoba mengarahkan kesadarannya kepada Dzat yang tidak sama dengan apapun juga, maka jiwanya terhalang oleh rasa tidak bisanya, rasa sulitnya akibat dari dogma-dogma beragama yang kita dapatkan. Bahwa tidak mungkinlah kita meletakkan kesadaran kita kepada Allah. Itu adalah tingkatan untuk Rasulullah dan wali-wali Allah saja. Orang kebanyakan seperti kita ini tidak akan pernah bisa tanpa berbai’at kepada wali-wali Allah atau guru mursyid tertentu. Makanya, begitu kita mau berbai’at kepada seorang guru mursyid, maka kita seperti punya sarana untuk mengenal Tuhan. Dan saat itulah sebenarnya kita mulai sebuah proses ANTARA dalam mengarahkan kesadaran kita kepada Tuhan.

Sebelum berdzikir, seorang SALIK diminta dulu “membayangkan” wajah guru mursyid tertentu (proses washilah). Dengan cara itu, maka kita disugesti bisa terhubung dengan guru dari guru mursyid tersebut, seterusnya sambung menyambung sampai ke Rasulullah dan kemudian barulah ke Allah. Kalau afirmasi dan sugestinya sudah begini, maka sangat mudah sekali bagi seorang salik untuk jadi menangis, histeris, dan bahkan meronta-ronta dan tergetar dengan hebat.

Kenapa bisa…?. Karena begitu sang salik mulai membayangkan wajah guru mursyidnya, maka seketika itu juga kesadarannya “bergerak” dari segala problem dan kesulitannya sendiri menuju ke “wajah” sang guru mursyid tersebut. Secara otomatis pula, kesadarannya, walau hanya dalam bayangan sang salik saja, hanya tertuju kewajah sang guru mursyid. Dan dengan sentuhan kalimat kalimat dzikir yang memang punya daya yang sangat besar, sang salik bisa menangis histeris dengan hebat.

Lalu sejak saat itu semakin terikatlah jiwa seseorang dengan guru mursyid tersebut dalam perjalanannya mengantarkan kesadarannya kepada Allah. Dia tidak akan pernah bisa langsung mengarahkan kesadarannya kepada Allah tanpa melalui proses antara dengan membayangkan wajah guru mursyidnya. Artinya sebelum dia mengantarkan kesadarannya kepada alamat yang sebenarnya, yaitu Allah yang Immaterial, maka dia harus terlebih dahulu melalui proses antara dengan mengarahkan kesadarannya kepada wajah gurunya yang material dan terbayangkan. Jadi prosesnya mirip sekali dengan proses yang dilakukan oleh umat kristiani, hindu, dan budha seperti diatas.

Makanya kemudian ada aliran-aliran lain yang punya Objek Fikir Perantara pula dalam mengarahkan kesadarannya untuk mendapatkan kekhusyu’an dalam beribadah kepada Tuhan. Kelompok Ahmadiah, misalnya, punya foto-foto Mirza Ghulam Ahmad sebagai sarana untuk mengantarkan kesadarannya kepada Tuhan. Kelompok EDEN punya “sarana hidup” untuk mengarahkan kesadarannya kepada Tuhan, yaitu Lia Aminudin sendiri yang mengaku sebagai Malaikat Jibril. Ada juga kelompok-kelompok lain yang sengaja meletakkan foto guru mereka diruangan tempat mereka beribadah, sehingga dengan mudah mereka bisa mengarahkan kesadarannya keluar dari tubuhnya sendiri, sehingga dengan mudah bisa membuat mereka menangis dan khusyu’.

Yang lebih halus adalah kelompok syi’ah, yang punya objek perantara yang sangat unik dalam mengantarkan kesadaran mereka kepada Tuhan. Objek itu adalah Ahlul Bait Rasulullah SAW dengan segala penderitaan yang beliau-beliau itu hadapi. Dengan menyandarkan kesadaran kepada ahlul bait tersebut, penganut syi’ah mampu menaikkan kesadaran mereka sehingga seorang Syah Reza Fahlevi yang begitu kuatnya dapat tumbang dengan mudah ketika berhadapan dengan kekuatan masa syi’ah yang begitu solid. Pada tingkat yang ekstrim, umat syi’ah memperingati penderitaan Ahlul Bait tersebut dengan memukuli tubuh mereka sampai berdarah-darah sambil berjalan dan berzikir ramai-ramai di jalan raya. Ritual ini biasanya dilakukan untuk memperingati hari ‘Asyura, yaitu hari dimana cucu dan keluarga Nabi dibantai oleh sahabat-sahabat Nabi sendiri yang berseberangan politik dengan Ali Bin Abi Thalib Ra.

Untuk masalah proses antara ini, penganut syi’ah punya objek perantara lainnya yang tak kalah dahsyatnya, yaitu sebuah harapan yang sangat besar untuk kemunculan kembali IMAM MAHDI yang saat ini dipercayai mereka sedang GHAIB KUBRO. Imam Ahlul Bait ke 12 ini bersama-sama dengan Nabi Isa, dipercayai penganut paham Syi’ah dan sebagian penganut paham Sunni akan muncul kembali diakhir zaman nanti untuk memenangkan islam ketika terjadinya prahara sebelum kiamat. Penganut syi’ah sangat mempercayai bahwa Imam Mahdi saat ini tengah memainkan peran belaiu sebagai sosok yang sedang mengalirkan Rahmat Allah ke persada bumi ini. Berkat adanya Imam Mahdi inilah Allah masih mau memberkati bumi ini. Tapi walaupun begitu, ya sah-sah saja bagi siapapun juga untuk memakai paham yang seperti ini.

Selain dari semua itu, saat inipun sangat banyak bermunculan berbagai metoda untuk memudahkan seseorang dalam mengarahkan kesadarannya dari hanya sekedar ketubuhan saja ke kesadaran immaterial, yang dinamakan Tuhan. Sebutlah misalnya, dzikir bersama-sama, dzikir untuk pengobatan, do’a-do’a yang menghibakan dan menyentuh hati, metoda menggiring kesadaran orang dengan audio visual dan irama-irama musik yang mendayu-dayu berikut dengan dentuman suara bass yang sangat menggetarkan dada, sehingga banyak yang sampai bisa menangis tersedu-sedu. Namun dari berbagai macam cara itu, ada sebuah kesamaan yang samar untuk kesemuanya itu, yaitu adanya sebuah “proses antara” berupa “sentuhan emosional” yang kuat dari para pembimbingnya. Sentuhan emosional itu bisa berupa mengarahkan kesadarannya kepada dosa-dosa yang pernah dilakukan seseorang, atau kepada penderitaan ibunya yang membesarkannya, atau kepada keindahan alam, atau kepada seseorang yang pernah dia sakiti dulunya, atau kepada sakit yang telah dia derita sekian lamanya, dan sebagainya. Sungguh tak terhingga banyaknya proses antara yang bisa digunakan untuk memutar arah dari kesadaran seseorang keluar dari tubuhnya.

Nanti…, begitu kesadaran seseorang sudah tertuju kepada “objek fikir antara” berupa sentuhan emosional seperti itu tadi, lalu kemudian ditambahkan dengan untaian kalimat-kalimat thayyibah seperti tahmid, tahlil, takbir, dengan irama yang melengking tinggi maupun dengan menghiba-hiba, maka ribuan orang bisa dibuat menangis serempak. Saat menangis itulah seseorang akan merasa sangat dekat dengan Tuhan. Dia lalu akan berdo’a agar segala kesulitannya bisa berubah menjadi kemudahan, agar sakitnya bisa sembuh, agar perilaku buruknya berubah menjadi baik, agar segala problekatika hidupnya bisa terjawab setelah itu. Dan luarbiasanya lagi akibat adanya efek placebo yang menyentuh otaknya, seseorang seperti bisa mendapatkan apa yang dia inginkan. Penyakitnya sembuh, dadanya tenang dan bahagia, dan dia seperti merasa menjadi seseorang yang sangat dekat sekali kepada Tuhan. Dia merasa seperti telah berubah menjadi seorang yang sangat baik dihadapan Tuhan. Ya…, dia telah merasa menjadi seorang spiritualis sejati. Sungguh menakjubkan…

Lalu dengan cara seperti semua diatas, pertanyaan tentang Wajah Tuhan seperti apa dan berada dimana, tempat kemana kita harus mengarahkan kesadaran kita saat kita shalat dan dalam keseharian kita sudahkah terjawab…?. Bisakah semua proses diatas tadi membawa kita kealamat yang tepat tanpa syirik dan tanpa ada berbagai proses antara sedikitpun…?.

Untuk menjawabnya mari kita lanjutkan pembahasan ini sedikit lagi…

Wajah Tuhan itu ternyata adalah sangat sederhana sekali. Sebuah realitas saat mana semua “objek fikir antara” itu bisa kita buang jauh-jauh-jauh menjadi tiada, laa ilaha illallah…, dan seketika itu pulalah:

Wajah Tuhan MENYATA (AZH ZHAAHIRU),
Wajah Tuhan DISINI (Laa Syarkiyyah wala Gharbiyyah)
Wajah Tuhan SAAT INI (Tidak Ada awal Tidak Ada Akhir).
Lalu pancarkanlah semua sembah puja, do’a, dan harapan kita ke Wajah-Nya…

Kalau tidak begini, kalau masih ada “objek fikir antara” itu yang menghalangi, maka seketika itu pulalah:

Wajah Tuhan TERSEMBUNYI dan TERHIJAB (AL BATHIIN))
Wajah Tuhan DI ARASY (Dilangit ketujuh)
Wajah Tuhan NANTI (di Akhirat)

Namun HATI-HATILAH, karena saat Wajah Allah menjadi Tersembunyi (al Bathin), maka kita akan SANGAT MUDAH SEKALI menjadi TERSASAR (Syirik). Ya…, kita mudah sekali tersasar, sehingga semua sembah puja, do’a, dan harapan kita mampir dan tersasar dulu ke wajah sebuah objek fikir perantara…, walau pada saat yang sama kita masih menyebut Nama Allah….

Pilih yang mana…????. Semua sungguh tergantung kepada kita belaka dalam memilihnya…!!!, dan dengan pasti, seketika itu pula Allah akan mendorong kita untuk menjalani pilihan kita itu, destiny kita…!. Sehingga segala akibatnyapun kita sendiri pula yang akan menanggungnya dan merasakannya.

Wallahu a’lam

No comments :

Post a Comment