Monday, June 20, 2016

TENTANG IMAN

Berbicara tentang iman, percaya, dan istilah-istilah lainnya itu saya kira dulu itu adalah sebuah istilah yang sangat baku dalam agama Islam. Kalau iman itu secara doktrinasi ya begitu itu, kita paham atau tidak, maka kita dipaksa untuk beriman kepada sesuatu yang wajib kita imani itu. Misalnya beriman kepada Allah, beriman kepada Malaikat, dan seterusnya. Karena dipaksa, maka seringkali iman kita hanya sekedar iman ikut-ikutan saja.

Tapi sekarang pemahaman saya tentang iman kepada Allah itu menjadi sangat sederhana
sekali (tapi memahaminya haruslah dengan kedewasaan). Bahwa sekarang saya malah tidak perlu lagi untuk beriman atau percaya kepada Allah. Duukkk…!, kalimat ini membentur dasar-dasar otak siapa pun juga dengan keras…

Ya…, Allah sudah tidak perlu lagi saya imani…!. Karena memang ternyata Dia begitu NYATA bagi saya. Nyata…!, Ada…!, Ini…!. Dan saat saya menghadapkan wajah saya kemana pun juga, ternyata hanya semata-mata Wajah-Nya saja yang balas memandang kepada saya. Karena Dia NYATA itulah saya lalu hanya bisa menjadi seorang penyaksi (SYAHID) saja lagi kepada-Nya. Lalu sayapun bersyahadah, Asyhadu an laa ilaha illallah…

Selanjutnya…, saya tinggal “duduk” dihadapan-Nya, saya tinggal “pandang memandang” dengan-Nya, saya tinggal mengamati kemahasibukkan-Nya mengatur semua ciptaan-Nya. Dan…, saya tinggal berdialog saja lagi dengan-Nya, sebab Dia memang tidak pernah mengingkari ayat-Nya sendiri bahwa “… Ujibu da’watadda’I idza da’aani, Aku akan akan menjawab semua panggilan-panggilan, doa, harapan, rintihan, pujaan, penghormatan, persembahan hamba-hamba-Ku apabila dia sampaikan semuanya itu kepada-Ku…”, dan “Fadzkuruunii adzkurkum…, sadari sajalah Aku ini dengan penuh, nanti sadarmu itu akan Ku-balas dengan sadar dari-Ku sendiri dengan penuh…”.

Lalu saya coba, walau dengan tertatih-tatih sekalipun, untuk selangkah demi selangkah mulai memandang-Nya, berdialog dengan-Nya dalam ta’zim:

Saat berdiri, atau saat duduk, maupun saat berbaring, saya coba berkata kepada-Nya dengan merendah-rendah: “Ya Allah…”, lalu Dia guncangkan tubuh, kulit, dan bahkan dada saya dengan kelembutan yang amat sangat.
Saat saya puja Dia dengan ungkapan sederhana: Subhanallah…, lalu Dia sujudkan saya serendah-rendahnya, dia tuntun saya menghadap tepat (hanief) ke-Wajah-Nya.
Saat saya berkata kepada-Nya: Alhamdulillah…, Dia alirkan dengan deras rasa nikmat yang amat sangat kedalam dada saya. Utuh sekali rasa nikmat itu mengalir di setiap sudut dada saya.
Saat saya teguhkan penerimaan saya terhadap-Nya: Laa ilaha illallah…, Dia sambut ungkapan saya itu dengan berlari. Dan dengan keteguhan yang amat sangat Dia pun membalasnya pula: “Ana Allah…, Laa ilaha illa ana fa’dudni, memang Aku lah Allah, tiada Tuhan selain dari Aku, maka sembahlah Aku …”.
Saat dengan ta’zim saya mengucapkan: Allahu Akbar…, Dia bawa otak dan dada saya untuk bergerak lepas tak terbatas, jauh melampaui bumi, jauh melampaui matahari, jauh melampaui bintang-bintang. Jauh…

Saat saya coba pandang tubuh saya, ternyata tubuh saya sudah terurai, tubuh saya telah melebur dalam Cipta Rasa.
Saat saya coba berjalan bersama rasa suka dan duka, ternyata saya telah berada diatas semua rasa.
Saat saya coba mendengarkan dendang dan tabuhan bebunyian, yang terdengar malah suara tanpa bunyi.
Saat saya coba menangkap ungkapan-ungkapan dan kata-kata, yang terlihat malah kata tanpa huruf dan tanda.
Saat saya coba mencari sumber cahaya yang menyilaukan cakrawala, yang terlihat malah api tanpa nyala.
Saat saya coba menjangkau Wujud Yang Maha Meliputi, yang terlihat malah Wujud Tanpa Rupa, Wujud Tanpa Warna.
Dan sayapun lalu dituntun dan didudukkan dalam ketentraman, dalam kelanggengan, dekat dengan Ketenteraman Abadi, dekat dengan Yang Maha Langgeng.

(Alhamdulillah saya dipahamkan tentang beberapa syair lagu gubahan ustadz Abu Sangkan diatas)

Lalu Sang Maha Langeng menyambut dengan sebuah sapaan keangkuhan-Nya: Alastu birabbikum…, bukankah Aku ini Tuhanmu, dan sayapun merendah-rendah menyampaikan kesaksian: Balaa syahidna…, Asyhadu an laa ilaha illallah… Benar, saya bersaksi bahwa Engkaulah Tuhan-ku. Wa asyhadu annaa Muhammadan Rasulullah, dan langsung pula saya membenarkan bahwa Muhammad adalah Rasulullah. Tidak bisa tidak…

Buat sejenak, saya seperti didudukkan dalam suasana JEDA. Ya…, saya seperti DIJEDAKAN dari hiruk pikuknya dan kerumitan berbagai aliran paham, dari berbagai macam pemikiran, dari berbagai macam dalil dan doktrin, dari berbagai karakter manusia, dari berbagai macam aksara dan suara. Semua itu sepertinya hanya mengalir begitu saja membentuk sebuah harmoni yang padu.

Ahh…, ternyata memang indahnya sebuah taman yang ditanami dengan berbagai macam pepohonan yang tinggi dan rindang adalah tatkala taman tersebut masih menyisakan ruangan kosong untuk tumbuh dan berkembangnya rerumputan, tatkala ruangan itu masih menyisakan “ruangan jeda” untuk kita bisa sejenak memandang indahnya warna-warni bebungaan dan pendar pelangi dari sinar matahari.

Dari kejedaan itu, saya coba mengamati kemahasibukan Tuhan dalam mengalirkan segenap ilmu-Nya, segenap Daya dan Gerak-Nya, segenap Kehendak-Nya, segenap Kekuatan dan Kekuasaan-Nya, segenap Hidup-Nya, segenap Melihat dan Mendengar-Nya kesemua penjuru alam. Alam apapun juga, semua dialiri dan diliputi oleh Wujud-Nya berikut dengan segala atribut dan kehebatan-Nya. Sungguh sibuk sekali Dia. Sangat mengagumkan sekali. Betapa tidak:

Saat saya coba memandang berbagai masalah, woow… dengan sangat mencengangkan saya disadarkan bahwa ternyata bersamaan dengan masalah itu sekaligus juga sudah tersedia pula solusi-solusinya. “Kuciptakan semuanya berpasang-pasangan”, tegas-Nya dengan pasti.


Masalah beserta berbagai alternatif solusinya itu bergulung-gulung seperti berpadunya gelombang dan ombak dilautan. Sebab dan akibat atas sebuah peristiwa bergerak beriringan laksana gumpalan awan diterik cahaya matahari. Kejadian-jawaban-kejadian-jawaban…, semuanya datang teratur beriringan seperti jatuhnya untaian titik-titik air hujan dari langit. Semua berpalun menjadi satu, bergulir silih berganti. IM-YANG. Dan kita tinggal memunguti saja solusi-solusi itu saat kita menemukan masalah yang menjambangi kita.

Saat kita sakit, pasti ada obatnya. Dan obat yang paling puncak adalah MATI, sehingga kita tidak direpotkan lagi oleh jaringan-jaringan tubuh kita. Saat kita bingung, pasti tersedia pencerahannya. Saat kita lapar dan haus pasti ada makanan dan minuman lezat yang tersedia. Saat kita harus bepergian, pasti ada alat transportasi yang akan mengantarkan kita tersedia.

Bahkan untuk urusan budi dan pakerti pun ada pula pasangan abadi yang tak terpisahkan, yaitu FUJUR dan TAQWA. Saat kita gelisah, tersedia solusinya berupa tenang. Saat kita marah, tersedia solusinya berupa sabar. Saat kita menderita, tersedia solusinya berupa bahagia. Saat kita iri, tersedia solusinya berupa ridha. Saat kita diliputi kekafiran (TUTUP, COVER), tersedia pula solusinya berupa dzikir (SADAR, INGAT, UNCOVER).

Begitu juga sebaliknya, saat kita sedang sabar, siap-siaplah bahwa diujung sabar itu ada marah yang sedang menanti. Saat kita sedang berbahagia, hati-hatilah bahwa dipuncak bahagia itu sedang menganga pula jurang untuk berbagai penderitaan kita. Saat kita dzikir sekalipun, ada pula berbagai COVER yang siap menunggu kita.

Semuanya itu ternyata bisa menjambangi kita silih berganti. Sehingga kitapun terheran-heran saja dibuatnya. Kita kok seperti orang yang sedang naik-turun gunung. Silih berganti, kita terbolak balik antara senang-bahagia-senang-bahagia…, dan seterusnya. Si QALBU kata Al Alqur’an…

Oleh sebab itulah dalam shalat kita selalu berdoa: ihdinash shiraathal mustaqim, agar kita bisa ditarok Allah disuasana seperti Rasul-rasul dan orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Tuhan bersikap, yaitu kita berada diatas si Qalbu itu, sehingga kita bisa menjalani saja naik dan turun gunung itu dengan tidak merasa tersika sedikitpun. Kita jalani saja hari-hari kita itu dalam suasana: “laa khaufun ‘alaihim walahum yah zanun…, nggak ada khawatir, nggak ada takut”.

Saat saya mencoba memperhatikan banjir di Jakarta diminggu pertama Februari 2007 yang sangat hebat itu, saya melihat betapa Tuhan tengah memperlihatkan bahwa Dia memang tidak akan pernah merubah hukum-Nya. Dan siapapun yang tidak berhukum dengan hukum Allah, maka pastilah Dia akan sengsara.
Hukum Tuhan itu sudah pasti, bahwa AIR, dalam perjalanannya kembali ke laut, akan selalu mencari jalan melalui tempat-tempat yang rendah. Kalau tempat-tempat yang rendah itu, seperti situ dan danau, sudah dipakai untuk keperluan lain, misalnya dengan membangun MAL dan PERUMAHAN, maka air tersebut akan meluber kemana-mana. Saat sungai sudah diisi dengan sampah dan bangunan liar, maka air akan mengalah. Sang air lalu mencari tempat-tempat lain untuk membuktikan kepatuhannya kepada Tuhan. Saat tanah tidak lagi bisa disusupi oleh sang air, lalu sang air akan mengalir deras menyapu liar bangunan dan manusia yang berada di sekitarnya. Saat hutan yang penuh pepohonan sudah berganti dengan rimba beton, sehingga air tidak bisa lagi mencari jalannya dibawah permukaan tanah, maka dengan dahsyat air tersebut akan menghanyutkan apapun yang menghalangi jalannya dipermukaan tanah untuk menuju kembali ke laut. Saat sebuah kota yang padat tidak pernah dipersiapkan untuk mempunyai gorong-gorong dan saluran drainase yang besar serta bersih dari sampah, maka kota pun saat musim hujan datang akan berubah menjadi danau kagetan. Banjir dimana-mana. Tidak berhukum dengan hukum Tuhan sih…, jadinya begitu.

Karena memang air itu akan selalu begitu. Dia selalu patuh mengikuti hukum Tuhan. Dalam kepatuhannya itu, sang air selalu dialiri daya yang sangat hebat pula oleh Tuhan agar dia bisa kembali menuju lautan luas. Maka tatkala kita umat manusia ini tidak mampu mengikuti fitrahnya AIR yang begitu patuhnya kepada Tuhan, maka artinya pada saat yang sama kita sekaligus juga sudah tidak patuh lagi kepada Tuhan. Kitapun lalu “dilanyau” (disapu bersih) oleh daya hancurnya yang tak tertahankan. Ya…, kita tidak patuh terhadap kehendak air itu sama saja sebenarnya dengan kita tidak patuh kepada Tuhan. Kita ini sengsara sendiri toh akibatnya??.

Pada saat yang sama, ternyata Tuhan juga sedang mengalirkan Kehendak-Nya untuk menolong, menyelamatkan, dan memberikan bantuan kepada para korban banjir itu. Kehendak itu mengalir kedalam dada setiap umat manusia. Ya…, saat itu sebenarnya Tuhan juga telah memberikan SPK (Surat Perintah Kerja) kepada orang-orang yang tidak ikut kebanjiran agar mereka segera pula siap dan bersedia menjadi wakil Tuhan untuk membantu para korban banjir tersebut.

Wow…, pada saat itupun saya dialiri pula sebuah kesadaran tentang bagaimana proses yang terjadi didalam dada umat manusia ketika menangkap Kehendak Tuhan itu. Ada dada yang keras dan membatu, sehingga dada itu tidak mampu menangkap Kehendak Tuhan tadi. Akibatnya dari dalam dada yang keras dan membatu itu tidak ada sedikitpun muncul kehendak untuk membantu orang-orang yang sedang menderita akibat dilanggarnya sebuah sunatullah, sunatullah air. Mereka ada disekitar daerah bencana, apalagi jauh dari wilayah bencana tersebut, tapi mereka seperti tidak punya kehendak dan daya untuk membantu sesama manusia. Tegasnya mereka tidak dipakai oleh Allah sebagai “alat-Nya” untuk beraktifitas.

Dan ternyata kalau sebuah sunatullah telah dilanggar, maka yang mengalami akibatnya juga ternyata tidak pilih-pilih bulu. Semua orang akan bisa merasakan akibatnya. Tidak peduli apakah dia beriman kepada Allah atau tidak, dia rajin shalat, dia rajin beribadah dan bersedekah atau tidak. Siapapun, kalau dia berada didaerah yang dialui oleh jalan pintas air tersebut menuju kelaut, maka mereka akan mengalami akibat yang sama. Kesengsaraan Lahiriah. Dan nanti yang akan membedakan orang yang dekat dengan Allah dengan yang tidak itu adalah sikapnya dalam menghadapi bencana itu.

Bahwa orang-orang yang selalu mendekatkan dirinya ke Allah akan merasakan sebuah sikap yang tenang, “laa kahufun ‘alaihim walaahum yah zanuun, tidak ada khawatir dan takut sedikitpun”. Mereka seperti terpisah dengan bencana itu, walaupun bencana itu tetap menimpa mereka.

Sebaliknya bagi orang-orang yang jauh dari Allah atau tidak sadar kepada Allah, maka dia seperti berada di dalam sergapan wilayah bencana itu, walau kadangkala dia sebenarnya jauh dari daerah bencana sendiri. Perasaan dan fikirannya seperti diombang-ambingkan oleh bencana itu. Dia seperti berada dalam pusaran bencana itu. Sehingga dia akan kalang kabut, dan tersiksa tentunya.

Disamping dada-dada yang keras tadi itu tadi, ternyata banyak pula orang-orang yang dadanya sudah lembut, luas, dan halus sehingga Kemahalembutan dan Kemahahalusan Kehendak Tuhan untuk menolong hamba-hambanya yang lain yang tengah menderita itupun berhasil ditangkap oleh dada-dada yang lembut, luas, dan halus itu. Akibatnya sungguh mengherankan. Mereka berlomba-lomba membantu, menyelamatkan, memberi makan dan minum, memberi obat-obatan, dan berbagai pertolongan lainnya. Mereka seperti didorong oleh sebuah KEHENDAK yang tak tertahankan. Mereka seperti dihantar oleh sebuah DAYA yang maha dahsyat. Sehingga sesulit apapun medan yang mereka hadapi, mereka seperti mempunyai kehendak dan daya juang yang kokoh yang tidak dimiliki oleh orang-orang lainnya.

Lhaa…, ternyata kemudian orang-orang, yang sedang dibuat sibuk oleh Allah dengan aliran Kehendak dan Daya untuk menolong sesama manusia yang sedang ditimpa musibah itu, hanya berbeda satu dengan yang lainnya dalam hal alamat tempat mereka mengembalikan rasa syukurnya saja. Ya…, setiap orang yang sibuk itu hanya berbeda satu sama lainnya dalam hal kesadaran mereka untuk menyandarkan rasa terima kasihnya. Sedangkan pekerjaan yang mereka lakukan sama saja, yaitu membantu orang lain yang sedang membutuhkan pertolongan.

Benar bahwa, Kehendak dan Daya yang mereka pakai sama saja, itu-itu juga, yaitu Kehendak dan Daya dari Tuhan. Dan setiap orang juga akan menjawab hal yang sama, kalau ditanya, bahwa mereka hanya menjalankan perintah dari Tuhan untuk menolong sesama manusia. Ya jawabannya tidak jauh-jauh dari Tuhan. Cuma saat mereka mengatakan kata Tuhan itu, setiap orang akan dinilai berdasarkan alamat tempat kesadarannya berada saat itu.

Ketika seseorang menyebut nama Tuhan, misalnya Allah, dan saat itu kesadarannya berada di atribut atau profile Yesus, maka dia disebut sebagai seorang yang beragama Kristen. Lalu dia mengira bahwa semua Kehendak dan Daya untuk menolong orang-orang itu tadi asalnya adalah karena adanya kuasa Yesus. Lalu dia akan menyampaikan sebisanya ungkapan apapun tentang Yesus kepada orang-orang yang telah dia tolong. Dia akan merasa sebagai seorang yang sedang mewakili Yesus, sebagai orang yang sedang meneruskan kehendak Yesus, sebagai orang yang sedang bekerja atas nama Yesus. Wajar saja sebenarnya, karena saat itu memang file diotaknya mengenai Tuhan hanya memuat berbagai atribut dan profile tentang Yesus.

Begitulah seterusnya, orang yang menarok kesadarannya di atribut atau profile Budist saat dia mengucapkan terima kasih kepada Tuhan, maka dia disebut sebagai umat beragama Budha. Sehingga pada akhirnya setiap orang akan mengakui dirinya bertuhankan kepada Tuhan yang profile dan atributnya ada dialam otaknya masing-masing. Makanya ada yang Hindu, ada yang Konghucu, ada yang Shinto, ada yang animisme, dan sebagainya.

Bagi orang orang yang tidak punya profile apa-apa tentang Tuhan disebut juga sebagai orang yang atheis. Sebab dicari bagaimanapun juga file didalam otaknya tentang Tuhan, ya nggak bakalan ketemu. Karena memang file tentang Tuhan tidak pernah disimpan disana. Bahkan tidak jarang pula saat ini ada orang yang menurut penilaian orang lain adalah seorang atheis, tapi dia ternyata sudah mempunyai kesadaran yang jauh melampaui kesadaran orang-orang lain kebanyakan yang mengaku menganut sebuah agama dalam hal objek fikir ketika menarok kesadarannya.

Dari sekian banyak objek fikir untuk menarok kesadaran akhir yang tersedia, Nabi Muhammad SAW berhasil melakukan sebuah revolusi yang sangat radikal ditengah-tengah kerumitan yang ada saat itu. Beliau berhasil keluar dari segala keruwetan objek fikir menuju sebuah alamat yang sangat sederhana. Alamat yang sangat memudahkan siapapun juga ketika hendak menarok kesadaran akhirnya. Alamat itu adalah Wujud Yang Maha Meliputi segala sesuatu. Apapun juga tidak akan pernah bisa melepaskan diri dari Liputan Wujud-Nya. Dan Wujud Tunggal Yang Maha Meliputi tersebut tidak sama dengan apa-apa yang diliputi-Nya, Laisa kamistlihi syai’un.

Nah…, sebenarnya apapun ajaran Beliau, apapun ayat-ayat Al qur’an yang Beliau sampaikan, hulu atau awalnya adalah untuk menyadarkan kita tentang kemahahebatan Wujud Tunggal tersebut, yaitu Allah. Dan beradalah segera, berlarilah masuk kedalam suasana kedekatan dengan Wujud Tunggal tersebut. Barulah dari wilayah kedekatan dengan Tuhan ini kita diperintahkan Beliau untuk memulai segala aktivitas kita untuk membangun peradaban umat manusia di dunia ini. Sebab kalau kita tidak memulai aktivitas kita dari wilayah ketuhanan (spiritual) ini, maka biasanya diantara kita akan banyak pertentangan, akan banyak kesimpangsiuran persepsi, yang akan membawa kita pula masuk kedalam suasana kekacauan dan masalah-masalah yang rumit.

Dari wilayah kedekatan dengan Tuhan inilah kita lalu diperintahkan Beliau Beliau untuk saling berlomba-lomba menuju kebaikan, fastabiqul khairat. Bebas saja. Kita bebas melakukan apapun juga tentang kebaikan. Apa saja tentang kebaikan, maka kita diperintahkan beliau untuk melakukannya. Karena memang kita diutus Tuhan untuk itu, sebagai khalifah Tuhan, wakil Tuhan dalam membangun dunia ini.

Akan tetapi, karena kita hidup di alam dunia, maka untuk melaksanakan kebaikan tersebut kita perlu pula mengisi otak kita dengan segala macam ilmu yang kita perlukan untuk mengolah dunia ini. Ya…, mengolah dunia ini ternyata bukan dengan SIM SALA BIM. Tapi untuk membangun peradaban butuh sebuah PROSES. Kita butuh melakukan sebuah aksi untuk menimbulkan reaksi. Kita butuh sebab untuk menimbulkan akibat. Kita butuh sunatullah untuk menghasilkan sunatullah-sunatullah lainnya. Dan ILMU untuk menjalankan proses itu ternyata sudah ditarok Allah pula melimpah ruah memenuhi alam semesta ini bersamaan dengan sabda KUN FA YAKUN, saat Kehendak-Nya untuk menciptakan makhluk-Nya mengalir memenuhi jagad raya ini. Dan kita sebenarnya tinggal memunguti saja ilmu-ilmu itu dengan bebas. Siapa saja bebas mengambil ilmu itu. Semakin banyak seseorang bisa mengambil ilmu untuk membangun dunia itu, maka akan semakin memimpinlah dia dalam membangun peradaban manusia. Sebab apapun juga didunia ini tidak diciptakan Tuhan dengan sia-sia. Semua ada manfaatnya.

Sehingga kitapun bebas pula untuk mencari dan menggali (bukan menghafal) semua ilmu tentang keduniaan itu bahkan sampai ke negeri China (kalau sekarang sih sampai ke Jepang, ke Amerika, ke Eropa, dan negara-negara maju lainnya). Lalu dengan berbekal ilmu itulah kita mulai membangun peredaban kita dizaman kita sendiri. Dan peradaban yang kita bangun itu akan menjadi batu pijakan pula bagi generasi berikutnya dalam membangun peradabannya sendiri. Makanya kalau kita membangun peradaban yang salah dizaman kita, maka akibatnya akan ikut dipikul pula oleh generasi anak dan cucu-cucu kita.

Oleh sebab itu, agar kita tidak salah-salah dalam melangkah, kita selalu ditunjukkan oleh Rasulullah untuk sering-sering berterima kasih, bersyukur, berdo’a di alamat yang tepat, di ruangan yang tepat, ruangan yang dekat dengan Yang Maha Langgeng, yaitu Allah. Begitulah siklus itu seterusnya berputar. Al qur’an mengisyaratkannya sebabagi berikut:

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”, (Ali Imran 190-191).

Pada awal-awal masa kerasulan, sangat mudah sekali Beliau mengantarkan sahabat-sahabat Beliau untuk berjalan seirama dengan ayat diatas. Beliau berhasil mendudukkan sahabat-sahabat Beliau diruangan berketuhanan, ruangan yang dekat dengan Tuhan. Sehingga sahabat-sahabat Beliau itu hanya mengucapkan, “oya yah…”, yang dalam bahasa arabnya: “saya bersaksi, syahid, sami’na wa ata’na, dan sebagainya”. Dan mudah pula bagi Beliau untuk merubah peradaban sahabat-sahabat Beliau yang sebelumnya adalah peradaban jahiliyah menjadi peradaban yang sangat mencorong dan cemerlang dizaman Beliau hidup. Beliau berhasil menanamkan dasar-dasar yang kokoh agar ilmu pengetahuan juga berkembang dengan baik. Sehingga apapun hasilnya sahabat-sahabat tidak keliru lagi dalam mengucapkan terima kasihnya. Sebab semua saat itu sudah berada dalam ruangan yang tepat untuk memulai segala aktifitasnya, yaitu Ruangan yang dekat dengan Tuhan (Ruang Spiritual atau Ruhani).

Namun sayang sekali, tidak lama setelah Beliau wafat, banyak diantara sahabat-sahabat Beliau mulai keluar dari Ruang Spiritual tersebut. Akibatnya sungguh ramai sekali. Ramai dengan pendapat, ramai dengan klaim, ramai dengan persepsi. Dan setiap keramaian itu lalu dijadikan BAJU oleh masing-masingnya. Maka akhirnya sahabat-sahabat dan penerus-penerus Beliau saling bangga dengan bajunya masing-masing. Ada baju Syiah, ada baju Sunni, ada baju jabariyah, qadariyah, ada baju Syafi’iyah , Hambaliyah, Malikiyah. Sungguh baju yang sangat beragam…

Alhamdulillah…, ternyata dengan hanya mengamati peristiwa banjir di Jakarta tersebut, Allah telah mengalirkan kepahaman yang sangat mengejutkan saya tentang perjalanan sunatullah air dan juga sejarah perjalanan sunatullah umat Islam secara ringkas.

Subhanallah…, ternyata pula Allah tidak akn pernah berhenti untuk mengajari umat manusia ini. Sebenarnya tugas kita sudah menjadi sangat sederhana, yaitu masalah mau atau tidaknya kita menerima pengajaran Tuhan.

Nah…, sebenarnya apapun ajaran Beliau, apapun ayat-ayat Al qur’an yang Beliau sampaikan, hulu atau awalnya adalah untuk menyadarkan kita tentang kemahahebatan Wujud Tunggal tersebut, yaitu Allah. Dan beradalah segera, berlarilah masuk kedalam suasana kedekatan dengan Wujud Tunggal tersebut. Barulah dari wilayah kedekatan dengan Tuhan ini kita diperintahkan Beliau untuk memulai segala aktivitas kita untuk membangun peradaban umat manusia di dunia ini. Sebab kalau kita tidak memulai aktivitas kita dari wilayah ketuhanan (spiritual) ini, maka biasanya diantara kita akan banyak pertentangan, akan banyak kesimpangsiuran persepsi, yang akan membawa kita pula masuk kedalam suasana kekacauan dan masalah-masalah yang rumit.

Dari wilayah kedekatan dengan Tuhan inilah kita lalu diperintahkan Beliau Beliau untuk saling berlomba-lomba menuju kebaikan, fastabiqul khairat. Bebas saja. Kita bebas melakukan apapun juga tentang kebaikan. Apa saja tentang kebaikan, maka kita diperintahkan beliau untuk melakukannya. Karena memang kita diutus Tuhan untuk itu, sebagai khalifah Tuhan, wakil Tuhan dalam membangun dunia ini.

Akan tetapi, karena kita hidup di alam dunia, maka untuk melaksanakan kebaikan tersebut kita perlu pula mengisi otak kita dengan segala macam ilmu yang kita perlukan untuk mengolah dunia ini. Ya…, mengolah dunia ini ternyata bukan dengan SIM SALA BIM. Tapi untuk membangun peradaban butuh sebuah PROSES. Kita butuh melakukan sebuah aksi untuk menimbulkan reaksi. Kita butuh sebab untuk menimbulkan akibat. Kita butuh sunatullah untuk menghasilkan sunatullah-sunatullah lainnya. Dan ILMU untuk menjalankan proses itu ternyata sudah ditarok Allah pula melimpah ruah memenuhi alam semesta ini bersamaan dengan sabda KUN FA YAKUN, saat Kehendak-Nya untuk menciptakan makhluk-Nya mengalir memenuhi jagad raya ini. Dan kita sebenarnya tinggal memunguti saja ilmu-ilmu itu dengan bebas. Siapa saja bebas mengambil ilmu itu. Semakin banyak seseorang bisa mengambil ilmu untuk membangun dunia itu, maka akan semakin memimpinlah dia dalam membangun peradaban manusia. Sebab apapun juga didunia ini tidak diciptakan Tuhan dengan sia-sia. Semua ada manfaatnya.

Sehingga kitapun bebas pula untuk mencari dan menggali (bukan menghafal) semua ilmu tentang keduniaan itu bahkan sampai ke negeri China (kalau sekarang sih sampai ke Jepang, ke Amerika, ke Eropa, dan negara-negara maju lainnya). Lalu dengan berbekal ilmu itulah kita mulai membangun peredaban kita dizaman kita sendiri. Dan peradaban yang kita bangun itu akan menjadi batu pijakan pula bagi generasi berikutnya dalam membangun peradabannya sendiri. Makanya kalau kita membangun peradaban yang salah dizaman kita, maka akibatnya akan ikut dipikul pula oleh generasi anak dan cucu-cucu kita.

Oleh sebab itu, agar kita tidak salah-salah dalam melangkah, kita selalu ditunjukkan oleh Rasulullah untuk sering-sering berterima kasih, bersyukur, berdo’a di alamat yang tepat, di ruangan yang tepat, ruangan yang dekat dengan Yang Maha Langgeng, yaitu Allah. Begitulah siklus itu seterusnya berputar. Al qur’an mengisyaratkannya sebabagi berikut:

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”, (Ali Imran 190-191).

Pada awal-awal masa kerasulan, sangat mudah sekali Beliau mengantarkan sahabat-sahabat Beliau untuk berjalan seirama dengan ayat diatas. Beliau berhasil mendudukkan sahabat-sahabat Beliau diruangan berketuhanan, ruangan yang dekat dengan Tuhan. Sehingga sahabat-sahabat Beliau itu hanya mengucapkan, “oya yah…”, yang dalam bahasa arabnya: “saya bersaksi, syahid, sami’na wa ata’na, dan sebagainya”. Dan mudah pula bagi Beliau untuk merubah peradaban sahabat-sahabat Beliau yang sebelumnya adalah peradaban jahiliyah menjadi peradaban yang sangat mencorong dan cemerlang dizaman Beliau hidup. Beliau berhasil menanamkan dasar-dasar yang kokoh agar ilmu pengetahuan juga berkembang dengan baik. Sehingga apapun hasilnya sahabat-sahabat tidak keliru lagi dalam mengucapkan terima kasihnya. Sebab semua saat itu sudah berada dalam ruangan yang tepat untuk memulai segala aktifitasnya, yaitu Ruangan yang dekat dengan Tuhan (Ruang Spiritual atau Ruhani).

Namun sayang sekali, tidak lama setelah Beliau wafat, banyak diantara sahabat-sahabat Beliau mulai keluar dari Ruang Spiritual tersebut. Akibatnya sungguh ramai sekali. Ramai dengan pendapat, ramai dengan klaim, ramai dengan persepsi. Dan setiap keramaian itu lalu dijadikan BAJU oleh masing-masingnya. Maka akhirnya sahabat-sahabat dan penerus-penerus Beliau saling bangga dengan bajunya masing-masing. Ada baju Syiah, ada baju Sunni, ada baju jabariyah, qadariyah, ada baju Syafi’iyah , Hambaliyah, Malikiyah. Sungguh baju yang sangat beragam…

Alhamdulillah…, ternyata dengan hanya mengamati peristiwa banjir di Jakarta tersebut, Allah telah mengalirkan kepahaman yang sangat mengejutkan saya tentang perjalanan sunatullah air dan juga sejarah perjalanan sunatullah umat Islam secara ringkas.

Subhanallah…, ternyata pula Allah tidak akn pernah berhenti untuk mengajari umat manusia ini. Sebenarnya tugas kita sudah menjadi sangat sederhana, yaitu masalah mau atau tidaknya kita menerima pengajaran Tuhan.

No comments :

Post a Comment