Monday, May 30, 2016

TENTANG AKHIRAT

Neraka pun 'Diakses' dari Bumi.

Sebagaimana Surga, Neraka juga berada di Bumi. Namun demikian, efek yang terjadi bukan hanya di langit pertama (Dunia), melainkan sampai ke langit ke tujuh (Akhirat). Karena itu, Neraka juga digambarkan bertingkat-tingkat, sesuai dengan besar kecilnya dosa seseorang. Sesuai dengan kemampuan mengakses langit-langit yang lebih tinggi itu.

Beberapa ayat Al Qur'an menegaskan bahwa Neraka memang 'berada' di Bumi. Diantaranya digambarkan dalam keadaan-keadaan sebagai berikut.

1. Neraka adalah tempat yang rendah, dan digambarkan sebagai jurang yang banyak mengandung kobaran api, yang mengandung leburan leburan batu sangat panas seperti lava pijar gunung-gunung berapi. QS. At Tahriim (66) : 6 “Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api Neraka, yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.”

QS. Al Furqaan (25) : 13
"dan apabila mereka dilemparkan ke tempat yang sempit di Neraka itu dengan dibelenggu; mereka di sana mengharapkan kebinasaan."

QS. Shaad (38) : 59
"(Dikatakan) : ini adalah suatu rombongan yang masuk berdesak-desak bersama kamu (ke Neraka)..."

2. Disana juga digambarkan ada oksigen. Sehingga mereka menarik dan mengeluarkan nafas di dalamnya.

QS. Huud (11) : 106
"Adapun orang-orang yang celaka tempatnya di dalam Neraka, di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas".

3. Di wilayah Neraka itu terdapat pohon yang tumbuh dan dasarnya, yang disebut sebagai pohon Zaqqum. Pohon tersebut berduri dan tidak mengenyangkan saat dimakan.

QS Ad Dukhaan (44) : 43 – 46
"Sesungguhnya pohon zaqqum itu makanan orang yang banyak dosa. Bagaikan kotoran minyak yang mendidih di dalam perut, seperti mendidihnya air yang sangat panas."

4. Mereka juga membutuhkan air. Tapi ternyata airnya sangat panas, mendidih. Namun demikian ternyata di Neraka juga ada air yang sangat dingin. Dan azab lain yang serupa itu.

QS. Shaad (38) : 56 – 58
"Neraka jahannam, yang mereka masuk ke dalamnya, maka amat buruklah jahannam itu sebagai tempat tinggal. Inilah, biarlah mereka merasakannya, air yang sangat
panas dan air yang sangat dingin. Dan azab lain yangserupa itu berbagai macam."

5. Ada angin yang sangat panas, air mendidih dan asap
hitam yang tebal.

QS. Al Waqi’ah (56): 42 – 43
“Dalam angin yang amat panas dan air panas yang mendidih. Dan dalam naungan asap yang hitam.”

6. Mereka tinggal di sana berabad-abad lamanya
QS. An Naba' (78) : 23
"mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya"

Begitulah gambaran Neraka, dimana semua bakal terjadi di permukaan Bumi. Di antaranya disana digambarkan betapa Neraka itu tempat tinggal yang buruk. Bagaikan jurang yang berisi api, air mendidih, asap hitam yang tebal, dan angin yang sangat panas.

Namun, demikian juga digambarkan bahwa di sana mereka masih bisa bernafas, meskipun terasa berat. Bahkan mereka juga masih mencari makan dan minum. Sayangnya, makanan yang tersedia cuma pohon Zaqqum yang berduri dan mendidihkan isi perut mereka. Sedangkan minumannya, air mendidih atau air yang sangat dingin. Rupanya, wilayah Neraka adalah wilayah yang sangat ekstrim kondisi alamnya.

Yang menarik, ternyata antara penduduk Surga dan penduduk Neraka bisa melakukan interaksi atau setidak-tidaknya saling berkomunikasi. Misalnya, ternyata penduduk Neraka bisa meminta air kepada penduduk Surga.

QS. Al A’raaf (7) : 50
“Dan penghuni Neraka menyeru penghuni Surga: “limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah dirizkikan Allah kepadamu”. Mereka (penghuni Surga) menjawab: "Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu atas orang-orang kafir”

Sebaliknya, penduduk Surga sering membicarakan keadaan orang-orang yang tersiksa di dalam Neraka itu. Bahkan digambarkan meninjau salah seorang temannya (di dunia) yang kini masuk Neraka karena kekafirannya.

QS. Ash. Shaffat (37) : 54 – 55
"Berkata pulalah ia : maukah kamu meninjau (temanku itu)? "Maka ia meninjaunya, lalu dia melihat temannya itu di tengah-tengah Neraka menyala-nyala."

QS. An Naba' (78) : 21 – 23
“Sesungguhnya Neraka jahannam itu ada tempat (untuk) pengintai. Lagi menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas. Mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya.”

Dan lebih menarik lagi, ternyata 'wilayah' Surga dan Neraka itu memiliki batas tertentu. Selain keduanya terpisah, ada lagi satu wilayah di luar Neraka dan di
luar Surga.Tempat itu disebut sebagai Araaf Atau tempat yang tinggi di antara Surga dan Neraka.

Orang-orang yang berada di A’raaf ini adalah orang yang tidak (Atau belum) masuk ke Surga Atau ke Neraka. Sebab memang masuk ke Surga maupun ke Neraka itu tidak
dalam waktu yang bersamaan. Mereka 'digiring' dalam kelompok-kelompok besar. Ada yang lebih dulu sampai, ada juga yang lebih akhir.

QS. Al A’raaf (7) : 46
“Dan di antara keduanya (penghuni Surga dan Neraka) ada batas, dan di Atas A'raaf itu ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan
tanda-tanda mereka. Dan mereka menyeru penduduk Surga:" Salaamun 'alaikum" Mereka belum lagi memasukinya, sedang mereka ingin segera (memasukinya).

QS. Al A’raaf (7) : 47
"Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni Neraka, mereka berkata: "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang yang zalim itu"

QS. Az Zumar : 71 – 72
“Orang-orang kafir dibawa ke Neraka jahannam berombong-rombongan. Sehingga apabila mereka sampai ke Neraka itu, dibukakanlah Pintu-pintunya dan berkatalah kepada mereka penjaga penjaganya:…” “Dikatakan kepada mereka, masukilah pintu-pintu Neraka jahannam itu, sedang kamu kekal di dalamnya. Maka Neraka jahannam itulah seburuk buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri”

QS. Shaad (38) : 59 – 60
“(Dikatakan kepada mereka): "Ini adalah suatu rombongan (pengikut pengikutmu) yang masuk berdesak-desak bersama kamu (ke Neraka)". (Berkata
pemimpin-pemimpin mereka yang durhaka): "Tiadalah ucapan selamat datang kepada mereka karena sesungguhnya mereka akan masuk Neraka” "Pengikut-pengikut mereka menjawab: "Sebenarnya kamulah. Tiada ucapan selamat datang bagimu, karena kamulah yang menjerumuskan kami ke dalam azab, maka amat buruklah Jahannam itu sebagai tempat menetap".

QS. Shaad (38) : 64
“Sebenarnya yang demikian itu pasti terjadi, (yaitu) pertengkaran penghuni Neraka.”

Begitulah kondisi Neraka. Secara fisik digambarkan sebagai tempat yang mengerikan. Namun, tingkat kengerian itu sebenarnya semakin besar diakibatkan oleh hati mereka yang telah 'terbuka' untuk bisa mengakses tingkatan langit yang lebih tinggi, tetapi dalam skala negatif.

Alam semesta ini berpasang-pasangan. Ada siang ada malam. Ada Atas ada bawah. Ada baik ada buruk. Maka, dalam pernahaman.Neraka dan Surga ini, kita juga mengenal hal seperti itu. Surga adalah pasangan Neraka. Surga melambangkan kondisi positif. Sedangkan Neraka adalah kondisi negatif. Jika keduanya dipertemukan dalam satu titik, maka segala eksistensi ini bakal lenyap.

Surga menempati langit positif, sedangkan Neraka di langit negatif. Keduanya bisa diumpamakan sebagai deret bilangan. yaitu, di bagian kiri adalah deret bilangan negatif menuju pada tak berhingga. Di sebelah kanannya adalah deret bilangan positif juga menuju pada tak berhingga. Sedangkan, di tengah antara keduanya adalah bilangan Nol alias 'kosong'.

Deret bilangan negatif adalah 'alam Neraka'. Sedangkan deret bilangan positif adalah 'alam Surga'. Namun secara fisik, mereka tetap berada di permukaan Bumi, ‘terikat’ pada wilayah Surga dan Neraka. Secara kejiwaan manusia bisa melihat, mendengar dan merasakan sekaligus, dengan 'indera' hati terhadap alam negatif dan alam positif tersebut.

'Penglihatan' lewat hati inilah yang meningkatkan kualitas Neraka dan kualitas Surga yang diterima seseorang pada hari Akhir. Sehingga Allah mengatakan, bahwa Neraka itu akan naik sampai ke hati mereka.

QS. Al Humazah (104) : 5 – 7
"Dan tahukah kamu apa Huthamah itu? Api Allah yang dinyalakan. Yang sampai ke hati."



ALAM FANA DAN ALAM BAQA

Secara umum kita mengenal 2 macam alam, yaitu Alam Fana danAlam Baqa. Alam Fana digambarkan sebagai alam Dunia, yang suatu ketika akan mengalami kehancuran. Sedangkan Alam Baqa adalah alam yang kekal abadi, tidak akan pernah mengalami kehancuran lagi.

Pendapat ini berkembang sudah sedemikian lama, sehingga seakan-akan sudah dianggap sebagai kebenaran dan kenyataan. Akan tetapi dalam hal ini ada beberapa bagian yang 'janggal' dan kurang bisa dipertanggungjawabkan secara logika ilmiah.

Untuk itu, saya mencoba membahasnya dari dua sisi. Yang pertama dari sisi logika agama Islam, yang bersumber pada Al Qur'an. Dan yang kedua, adalah logika ilmiah, yang bersumber pada pernahaman empiris ilmu Astronomi. lnsya Allah keduanya akan.memberikan pemahaman yang lebih komprehensif.

(Sebenarnya saya kurang 'senang' menggunakan istilah logika agama dan logika ilmiah, karena seakan-akan Agama kita tidak ilmiah, dan sebaliknya ilmu-ilmu pengetahuan tidak agamis. Bagi saya, sebenarnya keduanya adalah satu kesatuan yang menggambarkan ke-ESA-an Allah. Akan tetapi, karena kebanyakan kita terkutub ke pemikiran seperti itu, maka saya 'terpaksa, mengikuti pola tersebut. Tetapi Insya Allah keduanya akan bermuara sama dalam pembahasan ini.)

LOGIKA AGAMA

Ada beberapa logika yang perlu kita kembangkan untuk memahami persoalan Akhirat. Logika-logika ini kita kembangkan dengan bersumber pada pemikiran Islam sendiri. Karena itu saya menyebutnya sebagai logika agama. Padahal, sebenarnya Allah tidak membeda-bedakan cara berpikir dalam memahami eksistensiNya. Dari sudut pandang mana pun kita berpikir, selama kita jujur untuk mencari Allah, maka kita pasti akan 'bertemu' denganNya.

Dari sisi penciptaan, kita mengenali bahwa eksistensi ini hanya bisa dikelompokkan ke dalam dua pihak. Pihak pertama adalah Pencipta alias Khaliq. Dan pihak kedua adalah Makhluk alias 'yang diciptakan'.

Nah, dalam konteks Alam Akhirat ini kita juga bisa membaginya ke dalam dua 'kutub' itu. Sebagai Pencipta pastilah Allah adanya. Karena logika agama kita tidak memberikan alternatif lain dalam memahami masalah penciptaan ini.

Dan kemudian, karena Allah adalah Sang Pencipta, maka 'Alam Akhirat' mau tidak mau adalah makhluk ciptaan Allah. Ini sebagai konsekuensi bahwa Sang Pencipta hanya satu, yaitu Allah saja.

Inilah konsep ketauhidan di dalam agama kita. Adalah tidak masuk akal kalau ada dua Pencipta. Mereka pasti akan 'berebut' ciptaan. Dan sangat boleh jadi akan ‘bertengkar’ untuk menonjolkan ciptaan masing-masing. Karena itu, Allah berfirman di dalam Al Qur'an tentang hal itu.

QS. Anbiyaa' (21) : 22
"Sekiranya ada di langit dan di Bumi Tuhan-Tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai Arsy daripada apa yang mereka sifatkan."

Jadi, menurut logika tauhid kita, hanya Allah saja yang layak menjadi Sang Pencipta. Selebihnya adalah makhluk. Siapa dan apa sajakah makhluk yang diciptakan Allah itu? Tentu saja, semuanya. Pokoknya, yang selain Allah.

Manusia ciptaan Allah. Jin dan malaikat juga ciptaan Allah. Setan, Surga dan Neraka pun ciptaan Allah. Alam dunia dan alam Akhirat, ya ciptaan Allah. Ruang, waktu, sistem nilai sosial, politik dan seluruh tatanan hukum di alam semesta ini tidak lain adalah ciptaan Allah.

Nah, karena semua itu ciptaan Allah, maka suatu ketika di zaman dulu, mereka itu pernah tidak ada. Kemudian diadakan olehNya. Dan karena pernah tidak ada, maka logika agama mengatakan bahwa suatu ketika kelak, mereka juga akan kembali tidak ada, alias lenyap. Inilah yang di dalam agama kita dikenal sebagai sifat Fana alias bisa rusak, dan suatu ketika akan lenyap. Lawannya adalah Baqa alias kekal dan tidak bisa rusak.

Problemnya, adalah ketika kita berbicara tentang Akhirat. Begitu banyaknya ayat Al Quran menyatakan bahwa kehidupan Akhirat adalah kekal abadi di antaranya adalah ayat-ayat di bawah ini. Padahal, kita meyakini kalau Akhirat tersebut adalah makhluk. Dan, sebagai makhluk, pastilah ia fana alias tidak kekal. Yang kekal tidak bisa lain hanya Allah saja.

QS. Al Baqarah (2) : 25
“Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan Surga-Surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam Surga-Surga itu, mereka mengatakan: "Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu." Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan Mereka kekal di dalamnya.”


QS. Al Baqarah (2) : 39
"Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni Neraka; mereka kekal di dalamnya."

QS Ali Imran (3) : 107
"Adapun orang-orang yang putih berseri mukanya, maka mereka berada dalam rahmat Allah (Surga); mereka kekal di dalamnya.

QS At Taubah (9) : 100
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka Surga-Surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.

QS. Huud (11) : 23
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh dan merendahkan diri kepada Tuhan mereka, mereka itu adalah penghuni-penghuni Surga mereka kekal di dalamnya."

Dan masih banyak lagi ayat tentang kekekalan Surga, Neraka, Atau Ahirat itu. Tak kurang dari 110 ayat yang menggambarkan, betapa Akhirat, Surga dan Neraka itu kekal.

Di sinilah muncul kontradiksi. Kenapa Akhirat sebagai makhluk kok dikatakan kekal abadi. Yang manakah yang salah? Apakah pemahaman kita yang salah Ataukah informasi tersebut yang keliru.

Dalam hal ini, pasti kita tidak akan mengambil kesimpulan nomor dua. Tidak mungkin informasi Al Qur'an salah. Jadi, hanya ada satu kemungkinan saja, yaitu pemahaman kitalah yang keliru atau setidak-tidaknya kurang tepat.

Dimanakah kurang tepatnya, padahal secara eksplisit Al Qur'an jelas-jelas mengatakan bahwa Akhirat itu kekal selama-lamanya?

Kondisi ini, sebenarnya mirip dengan informasi tentang Kiamat. Ketika Allah mengatakan bahwa Kiamat itu sudah dekat, maka kita langsung saja mengambil kesimpulan bahwa yang dimaksud dekat itu pasti tinggal beberapa tahun saja.

Padahal sebagaimana kita ketahui, dan telah kita bahas di depan bahwa sejak zaman rasulullah sampai sekarang, waktu sudah berjalan hampir 1.500 tahun, tetapi kiamat itu belum juga terjadi. Maka, dimanakah kesalahan pernahaman kita? Hal ini sudah saya jelaskan di depan bahwa ternyata ada relativitas waktu yang harus kita perhitungkan dalam proses penafsiran kita.

Selain, itu agar kita tidak terjebak kepada pemahaman sebagian, Atau parsial, maka sebaiknya kita jangan menafsirkan ayat-ayat tersebut hanya dari satu atau dua ayat saja. Sebisa mungkin kumpulkan ayat sebanyak-banyaknya. Sebab, meskipun banyak ayat mengatakan A, jika ada salah satu ayat lainnya mengatakan B, maka kita harus membuat pertimbangan yang lain. Dengan demikian, kita bisa membuat penafsiran secara menyeluruh dan komprehensif. Karena itu, dalam kajian ini saya sengaja mengutip demikian banyak ayat-ayat Al Qur'an. Tak kurang dari 250 ayat!

Begitulah, ketika kita berbicara tentang pemahaman Akhirat. Marilah kita kumpulkan ayat -ayat yang terkait sebanyak-banyaknya. Dan ternyata dari sekian banyak ayat tentang 'kekekalan' Akhirat itu ada yang memberikan 'tanda-tanda' berbeda. Di antaranya adalah yang terdapat di surat Huud.

QS. Huud (11) : 106 – 108
"Adapun orang-orang yang celaka, maka tempatnya adalah di dalam Neraka, di dalamnya mereka menarik dan mengeluarkan nafas."
"Mereka kekal di dalamnya selama ada Langit dan Bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki"
"Ada pun orang-orang yang bahagia tempatnya adalah di dalam Surga, mereka kekal di dalamnya selama ada Langit dan Bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain), sebagai karunia yang tiada putus putusnya.”

Ayat di Atas bercerita tentang keadaan penduduk Neraka dan penduduk Surga. Dikatakan oleh Allah, bahwa mereka itu akan kekal di dalam Surga Atau Neraka, selama ada langit dan Bumi.

Informasi ini, sungguh sangat menggelitik logika kita. Kenapa demikian? Sebab ternyata kekekalan Surga dan Neraka itu menurut ayat ini tergantung kepada kondisi lainnya, yaitu keberadaan langit dan Bumi alias alam semesta.

Dengan kata lain, Akhirat itu akan kekal jika langit dan Bumi Atau alam semesta ini juga kekal. Sehingga, kalau suatu ketika alam semesta ini mengalami kehancuran, maka alam Akhirat juga bakal mengalami hal yang sama, kehancuran.

Tentu, hal ini membuat kita agak shock. Sebab ini telah ‘menggoyang’ apa yang sudah kita pahami selama ini. Bahwa yang namanya Akhirat itu adalah alam baka. Alam yang kekal abadi, dan tidak akan pernah mengalami kiamat lagi. Dan itu telah dikatakan berulang-ulang di dalam Al Qur'an.

Akan tetapi, apakah kita tidak percaya kepada firman Allah di Atas, bahwa Surga dan Neraka itu kekalnya adalah sekekal langit dan Bumi? Tentu saja, kita juga nggak berani untuk tidak percaya, sebab kalimat-kalimat di Atas demikian gamblangnya : Khaalidiina fiiha maadaamatis samaawati wal ardhi... (kekal di dalamnya selama ada langit dan Bumi... ).

Alam semesta ini -menurut perhitungan astronomi- memang tidak kekal. Sebagaimana saya ceritakan di bagian depan, alam semesta ini dulu pernah tidak ada, dan suatu ketika bakal tidak ada tagi. Meskipun, hal itu akan terjadi dalam kurun waktu yang masih sangat sangat lama, sekitar 18 miliar tahun lagi.

Justru di sinilah kunci pemahamannya. Pertama, bahwa Akhirat tersebut sesungguhnya memang tidak kekal. Akan tetapi, ketidak kekalan itu bukan berarti 'meringankan' arti dari informasi-informasi sebelumnya yang mengatakan: Khaalidiina fiiha... (kekal di dalamnya…). Dan di ayat yang lainnya lagi seringkali ditambahkan kata ‘abada’ (abadi, selama-lamanya). Miliaran tahun!

Karena Kekal yang dimaksudkan tersebut memang bukan kekal yang tidak berbatas. Akhirat adalah makhluk. Karena itu ia pasti memiliki awal dan memiliki akhir.

Dan, yang kedua, sesuai dengan pembahasan di depan, bahwa Alam Akhirat memang berada di dalam alam semesta. Bukan di luar alam semesta. Karena itu, ia bergantung sepenuhnya kepada keberadaaan alam semesta itu sendiri.

Langit yang ketujuh, dimana alam Akhirat berada, adalah suatu alam yang satu paket dengan alam semesta. Langit Dunianya ada di langit yang pertama, sedangkan Alam Akhiratnya berada di langit ke tujuh.

Seluruh eksistensi ciptaan Allah yang diceritakan di dalam Al Qur’an adalah eksistensi di dalam alam semesta tersebut. Tinggal pilih langit pertama, atau kedua, atau ketiga dan seterusnya sampai ke tujuh. Sehingga, dalam perjalanan Isra' dan Mi'raj, Rasulullah saw, melihat Surga dan malaikat Jibril itu di langit yang ke tujuh. Itulah langit yang tertinggi. Dan di sanalah letak alam Akhirat.

Jadi, sangatlah jelas sekarang, alam Akhirat berada di langit ke tujuh. Dan, langit ke tujuh itu berada di dalam alam semesta. Dan, alam semesta itu suatu ketika akan mengalami kehancurannya.

Maka, menjadi logis bahwa Akhirat yaitu Surga dan Neraka keberadaannya bergantung pada keberadaan alam semesta. Jika alam semestanya, lenyap, maka lenyap pulalah alam Akhirat tersebut. Tentu saja, berikut Surga dan Nerakanya. Itulah informasi yang terkandung di dalam QS. Huud (11) : 106 – 108!

Kesimpulan tersebut menjadi lebih mantap, kalau kita menggunakan logika ketiga. Saya khawatir, di kalangan kita ada, yang berpendapat bahwa Alam Akhirat itu 'ada terus' bersama Allah. Artinya, jangan-jangan kita berpikir bahwa Allah itu berada di dalam Alam Akhirat.

Kesan ini saya tangkap dari berbagai kalangan, disebabkan oleh pemahaman yang parsial. Misalnya, ada kesan bahwa Allah itu 'hanya bisa' kita temui di Akhirat nanti. Saya juga khawatir, pengertian semacam itu dipengaruhi oleh konsep agama lain yang mengatakan bahwa Allah itu berada di dalam Surga. Dan Surga itu berada di alam Akhirat.

Sehingga tanpa kita sadari kita terpengaruh, dan menganggap bahwa Allah swt itu bertempat tinggal di dalam Akhirat. Bahkan tinggal di Surga. Dan sebagian lagi, juga berpendapat mirip itu, dengan mengatakan 'Arsy Allah' itu juga terdapat di alam Akhirat.

Ini sungguh sebuah pemahaman yang keliru. Dan berakibat fatal terhadap persepsi kita kepada Akhirat. Kita memandang alam Akhirat itu lantas identik dengan keberadaan Allah. Padahal, sama sekali tidak! ALLAH TIDAK BERADA DI ALAM AKHIRAT. Apalagi di dalam Surga. Sungguh Surga dan alam Akhirat terlalu kecil untuk 'mewadahi' eksistensi DZAT Nya.

Salah persepsi tentang Allah dan Alam Akhirat inilah yang kemudian membuat kita menganggap bahwa alam Akhirat itu kekal adanya. 'jika tidak kekal dan Surganya juga lenyap nanti Allah bertempat tinggal dimana?!! "Begitulah kira-kira pikiran kita. Sungguh, ini sangat konyol…!

Allah tidak berada di Surga Atau pun alam Akhirat. Demikian besarnya Dzat Allah itu, sehingga justru Surga, Neraka, dan alam Akhirat itulah yang terdapat di dalam Allah.

Kalau kita masih juga ragu untuk mengatakan bahwa alam Akhirat itu tidak kekal. Atau dengan kata lain, masih juga berpendapat bahwa Akhirat adalah kekal adanya, maka marilah kita melakukan test terakhir, yaitu menguji pendapat tersebut dengan pertanyaan berikut ini : kekal manakah Alam Akhirat dengan Allah?

Pertanyaan tersebut 'memaksa' kita untuk memilih salah satu. Ini konsekuen dengan pembahasan kita sebelumnya, bahwa Allah bukanlah Akhirat, dan Akhirat bukanlah Allah. Allah adalah Sang Pencipta, sedangkan Akhirat adalah yang diciptakan. Karena itu, tidak bisa ada kedua-duanya selama-lamanya.

Maka, jawaban kita cuma satu, yaitu : Pastilah Allah lebih Kekal. Jawaban tersebut memberikan kesimpulan yang tuntas. Seberapa pun hebatnya Alam Akhirat. Dan seberapa pun lamanya kehidupan Akhirat, suatu ketika ia akan berakhir juga. Kapankah itu? Nah, disinilah logika-logika ilmu pengetahuan yang bersifat empiris berperan untuk mengkaji dalam melakukan rekonstruksi lebih lanjut ...


LOGIKA SAINS

Sebagaimana logika agama, logika ilmiah juga berkesimpulan bahwa alam semesta ini bakal lenyap. Ada dua hal yang menyebabkan lenyapnya alam semesta. Yang pertama adalah bertemunya 'langit positif' dan 'langit negatif'. Sedangkan yang kedua, adalah 'menciutnya' alam semesta setelah mengalami kondisi berkembang selama 15 miliar tahun, sehingga lenyap di pusat alam semesta.

Telah saya singgung di depan, bahwa alam semesta ini memiliki pasangan- pasangan. Dan Allah menciptakan eksistensi langit juga secara berpasangan. Secara umum, dikatakan bahwa alam terbentuk dari materi dan energi.

Materi bisa berubah menjadi energi, dan energi bisa berubah menjadi materi, sebagaimana telah dirumuskan oleh Einstein. Sehingga seakan-akan materi adalah pasangan energi. Sesungguhnya tidak demikian. Materi bukanlah pasangan energi, meskipun keduanya bisa saling berubah.

Energi memiliki pasangannya sendiri, yaitu energi positif dan energi negatif. Yang satunya diserap oleh struktur alam, sedangkan yang lainnya dipancarkan. Sedangkan materi, memiliki pasangan yang disebut antimateri.

Energi positif jika dipertemukan dengan energi negatif akan menjadi nol. Demikian pula, materi jika dipertemukan dengan antimaterinya akan menjadi nol. Jadi yang disebut pasangan adalah jika keduanya dipertemukan akan menjadi nol atau 'setimbang'. Seperti Atas Bawah, Siang Malam, Kiri Kanan, Dulu dan Masa depan, dan lain sebagainya.

Maka Surga dan Neraka adalah sebuah pasangan. Satunya berada di langit positif dan lainnya berada di langit negatif. Surga memancarkan energi, sedangkan Neraka menyerap energi. Surga berada di alam 'materi' dan Neraka berada di alam 'anti materi'.

Karena itu, Kebahagian Surga selalu digambarkan sebagai kehidupan yang 'penuh pemberian'. Berupa apa saja yang menyebabkan rasa bahagia dalam kehidupan kita di alam Akhirat. Apa saja yang kita inginkan, di sana tersedia.

Sebaliknya, Neraka digambarkan sebagai kehidupan yang penuh kesengsaraan dan 'memakan' energi. Demikian banyak siksaan yang mengerikan. Dan semuanya 'menghabiskan' energi.

Kenapa, bisa demikian? Ternyata ini ada kaitannya dengan aktivitas kita selama di dunia. Jika kita berbuat baik, maka kita terus memancarkan energi positif selama di dunia. Memang berat, karena kita harus menghasilkan energi positif terus-menerus. Akan tetapi ini, ternyata menyebabkan terakumulasinya energi positif di langit positif yang menjadi wilayah Surga.

Dan pada saat hidup di alam Akhirat nanti, energi positif itu memancar untuk kita. Kenapa? Sebab hukum alam telah berjalan terbalik. Jika di dunia kita banyak memberi, maka di Akhirat nanti kita akan banyak menerima.

Sebaliknya, kalau di dunia kita banyak menyerap energi positif alias menghasilkan energi negatif. Maka, pada saat di Akhirat nanti kita bakal banyak 'menyerap' energi negatif berupa 'siksaan-siksaan', yang setimpal dengan energi dosanya.

Itulah yang terjadi pada saat kita di Neraka. Bayangkan, selama di dunia. kita banyak 'mengambil' hak (menyerap energi) orang lain : berupa harta, kekuasaan, seksualitas, dan lain sebagainya. Maka, ketika alam berjalan terbalik (di Neraka Akhirat) kita harus mengembalikan energi itu secara berlipat ganda.

Itulah yang. digambarkan oleh Allah di dalam Neraka orang yang banyak dosanya harus dibakar habis-habisan. Kenapa? Supaya dia memperoleh energi positif, untuk melunturkan energi negatif yang 'ngendon' di dalam dirinya, baik secara fisik maupun secara kejiwaan.

Semakin besar dosa-dosanya, maka semakin besar pula energi negatifnya. Sehingga dia membutuhkan energi dari api Neraka yang semakin besar, untuk menetralkannya. Maka adalah benar adanya ketika Allah mengatakan bahwa dosa-dosa yang kita perbuat selama di dunia ini sebenarnya adalah beban bagi kita ketika berada di Akhirat.


QS. Thahaa (20) : 101
"mereka kekal di dalam keadaan itu. Dan amat buruklah dosa itu sebagai beban bagi mereka di hari kiamat ".

QS. Al Ankabuut (29) : 13
“Dan sesungguhnya mereka akan memikul beban (dosa) mereka, dan beban-beban (dosa yang lain) di samping beban-beban mereka sendiri, dan sesungguhnya mereka
akan ditanya pada hari kiamat tentang apa yang selalu mereka ada-adakan.”

Nah, beban itu harus 'dilepaskan' satu per satu, selama di Neraka tersebut. Hal itu berlangsung sampai dengan lunturnya dosa-dosa. yang telah di perbuatnya. Maka suatu ketika dosa-dosa, itu akan menjadi Nol, seiring usia Akhirat. Akan tetapi mereka tidak akan pernah bisa keluar dari Neraka itu. Seperti difirmankan Allah di bawah ini.

QS. Al Infithaar (82) : 16
“Dan mereka sekali-kali tidak dapat keluar dari Neraka itu.”


Sebaliknya orang-orang yang di Surga, mendapatkan balasan energi positif terus-menerus. Jumlahnya berlipat-lipat dibandingkan dengan apa yang diperbuatnya selama di dunia. Itu disebabkan oleh efek 'bunga berganda' yang dimiliki alam semesta. Sampai kapankah? Sampai energi positif yang dihasilkannya sebagai 'pahala' menjadi Nol., Dan mereka juga tidak akan dikeluarkan dari Surga itu.

QS. Al Hijr (15) : 48
“Mereka tidak merasa lelah di dalamnya dan mereka sekali-kali tidak akan dikeluarkan daripadanya.”

Jadi, orang yang berada di Neraka akan selamanya di Neraka. Sedangkan yang di Surga akan selamanya di Surga. Tidak ada satu ayat pun yang mengatakan bahwa orang yang di Neraka, suatu ketika bisa pindah ke Surga ke jika dosa-dosanya sudah habis. Pemahaman ini agaknya cuma berupa 'harapan' semata. Allah mengatakan bahwa mereka akan kekal selama-lamanya, baik yang di Surga maupun yang di Neraka. Sampai dosa dan pahala mereka menjadi nol.

Kapankah pahala dan dosa mereka itu menjadi nol'? Ketika.alam semesta sudah tidak memiliki selisih energi lagi. Dalam konteks ini, artinya, Langit Positif (Surga) dan Langit Negatif (Neraka) telah bertemu di satu titik. lbarat deret bilangan, angka-angka positif maupun negatifnya telah ditarik bersatu menuju pusatnya : titik Nol.

Itulah saat-saat kita semua kembali kepada 'Ketiadaan Mutlak'. Atau sebaliknya, menjadi 'Keber-Ada-an Mutlak'. Pada waktu itu, segala urusan telah kembali kepada KehendakNya semata, seperti firmanNya di QS. 11: 106 - 108. (khaalidiina fiiha maadaamatis samaawati wal ardhi illa bimaasyaa’).

Tetapi dalam logika Sains, berapa lamakah kehidupan Akhirat bakal berlangsung? Akhirat akan berlangsung selama langit dan Bumi masih ada! Akan tetapi, apakah
alam semesta akan ada terus? Tidak, karena pada periode Akhirat itu alam semesta sedang bergerak menciut menuju pusatnya!

Maka Allah mengatakan, pada waktu itu Dia menggulung langit Atau alam semesta ini seperti menggulung lembaran-lembaran kertas menuju kejadian semula. Artinya, bertitik tolak dari tempat yang sama, dulu Allah menggelar lembaran-lembaran itu, dan kini menggulungnya kembali menuju titik yang sama pula.

QS. Anbiyaa’ (21) : 104
"yaitu pada hari Kami menggulung langit bagaikan menggulung lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama begitulah Kami akan mengulangnya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati. Sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakan."

Berapa lamakah proses penggulungan langit itu terjadi? Diperkirakan sekitar 15 miliar tahun, yaitu selama periode Akhirat. Logika yang dipakai adalah : jika alam semesta berkembang dari kondisi awal (Big Bang) sampai berhenti membutuhkan waktu 15 miliar tahun, maka waktu yang diperlukan untuk menciut dari kondisi berhenti menuju titik awal juga selama 15 miliar tahun.

Sungguh sebuah periode yang bukan main lamanya. Karena itu, sangat masuk akal kalau Allah sangat sering menggunakan kata 'Kekal' dan 'Abadi' untuk menggambarkan lamanya periode Akhirat itu. Kalau dibandingkan dengan kehidupan manusia yang Cuma puluhan tahun di dunia, memanglah kehidupan Akhirat yang miliaran tahun itu bagaikan sebuah kehidupan yang Kekal dan Abadi.

Tapi toh demikian, Allah terus menggulung alam Semesta, bergerak menuju pusatnya. 'Ruang' dan 'Waktu' terus mengecil, mengecil, dan mengecil. Sehingga pada suatu saat nanti, sekitar 18 miliar tahun dari sekarang, alam semesta ini akan lenyap kembali seperti awal mulanya. Yang Ada hanya Allah, Sang Maha Perkasa Sumber Segala Kedamaian di Alam Semesta ...

QS. Al Qashash (28) : 88
"Janganlah kamu sembah disamping Allah, Tuhan apa pun yang lain. Tidak ada Tuhan melainkan Dia. Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali WajahNya (saja). Baginyalah segala penentuan, dan hanya kepadaNya lah kamu dikembalikan."

Saturday, May 28, 2016

DIMANA ALLAH

Alqur'an didalam mengungkapkan suatu masalah yang konkrit, misalnya hukum rajam, hukum jinayat, hukum waris, hukum syariat mu'amalat, dijelaskan Dengan kalimat yang bukan majaz ... yaitu muhkamat artinya sudah jelas, tidak perlu ditafsirkan lagi.seperti shalatlah kamu, dan bayarlah zakat , dst...

Akan tetapi kalau sudah mencakup persoalan ghaib ... tentang Allah, syurga, dan neraka, ... serta perasaan, maka Alqur'an menggunakan kalimat perumpamaan ... metafora ... yang biasa disebut mutasyabihaat..

Ada kelemahan bahasa manusia jika mengungkapkan rasa, sehingga Rasulullah ketika menjelaskan masalah syurga-pun tidak menjelaskan keadaan sebenarnya ... beliau hanya memberikan gambaran bahwa syurga itu indah dan nikmat, dibawahnya ada air susu dan madu mengalir, ada buah-buahan ,korma, anggur dan arak....setelah itu beliau memberikan penjelasan ... keadaan syurga itu tidak pernah terdengar oleh telinga ... tidak bisa terbayangkan oleh Pikiran ... dan tidak pernah terlintas dihati. Artinya bukan seperti apa yang digambarkan oleh Rasulullah ... (lihat gambaran syurga dalam surat Yaasin ayat:55-57)

Bagaimana Rasulullah akan menjelaskan sesuatu, atau keadaan yang didunia Ini tidak ada. Bagaimana beliau akan memperbandingkan sesuatu yang tidak ada didunia. Apa jadinya kalau syurga itu seperti apa yang telah kita bayangkan tadi ... mirip dengan apa yang kita rasakan ... Hal ini juga terjadi kepada kita, ketika dihadapkan persoalan ungkapan rasa misalnya, hatiku telah bersemi lagi ... mendidih rasa hatiku tatkala melihat orang kafir itu membantai kaum muslim Bosnia ... perampok itu tergolong pembunuh berdarah dingin .... dan banyak lagi ungkapan rasa yang tidak tertampung dan terwakili oleh kosa kata bahasa verbal ....

Namun demikian, kita sudah memahami maksudnya tanpa harus menafsirkan kalimat tersebut, sebab kalau kita mencoba menafsirkan ungkapan itu maka akan terjadi kesalah fahaman yang pasti akan menyimpang, sehingga wajarlah Rasulullah tidak pernah menafsirkan atau memberikan keterangan hal tersebut berupa 'foot note' dalam Alqur'an, sebab para sahabat sudah mengerti Maksudnya tanpa harus bertanya apa maksudnya. Misalnya ada orang berkata " saya mau pergi ke rumah sakit" pasti anda tidak akan mengernyitkan mata karena bingung..khan ? Jangan ditafsirkan dengan mengatakan "rumah kok sakit"

Begitu pula tentang keberadaan Allah bahkan wujud Allah ... Allah Mempergunakan kalimat mutasyabihat dalam menerangkan keadaan diri-Nya, seperti dalam firman-Nya :

" ... Allah adalah cahaya langit dan bumi" (QS. An Nur: 35)

" ... hai iblis apakah yang menghalangi kamu bersujud kepada yang telah Ku Ciptakan dengan kedua tangan-Ku ..." (QS. As Shaad:75)

"maka Allah menjadikannya tujuh langit dalam dua hari..." (QS. Al Fushilat 12)

" ... Allah meliputi segala sesuatu" (QS. Al Fushilat 54)

"Dan Dia lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari dan singgasana-Nya sebelum itu berada diatas air" (QS. Al Hud:7)

Didalam artikel  'Membuka Hijab', telah saya tulis & jelaskan tentang pertanyaan dimana, dan seperti apa Allah swt ?

Firman Allah:

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka jawablah bahwasanya Aku ini dekat ..." (QS. Al Baqarah :186)

".. dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya" (QS. Qaaf:16)

" ... ingatlah bahwa sesungguhnya Dia maha meliputi segala sesuatu" (QS. Al Fushilat 54)

" ... kemanapun kamu menghadap disitulah wajah Allah .. "(QS. Al Baqarah:115)

Sangat jelas bagi kita, bahwa ungkapan-ungkapan mutasyabihat diatas, dimengerti bukan untuk ditafsirkan, melainkan sebagai batasan fikiran melalui konsepsi manusia. Bukan hal yang sebenarnya, sebab Allah tidak bisa dibandingkan dengan sesuatu (QS. As syura: 11), bahwa Allah tidak bisa dilihat dengan mata manusia dan tidak bisa dijangkau oleh fikiran manusia akan tetapi Allah Maha Melihat segala yang kelihatan (QS. Al An'am : 102-103)

Seperti yang pernah saya katakan, bahwa Allah mentasybihkan dan meminjam kata-kata yang dimiliki manusia untuk memudahkan berdialog dan memberikan pengertian dalam bentuk bahasa manusia dan ilmu, sebab kalau kita menterjemahkan dengan kata sebenarnya maka akan ada benturan-benturan yang saling bertentangan ...

Mari kita perhatikan firman Allah dibawah ini:

"Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari dan singgasananya sebelum itu berada diatas air" (QS. Hud :7)

"Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang berada diantara mereka dalam enam hari, kemudian Dia bersemayam diatas singgasana-Nya"(QS. Sajdah :4)

Bukankah syirik, untuk memberikan tafsiran yang menggambarkan bahwa Allah memerlukan singgasana dan bahwa singgasana itu seakan-akan terapung diatas air dan juga seakan-akan Allah sesudah membuat langit dan bumi berserta isinya naik kembali ke tahta-Nya ?


Alangkah anehnya, jika dikatakan Allah dalam menciptakan langit dan bumi beserta isinya memerlukan waktu enam hari/masa ? Padahal bumi dan matahari belum tercipta! Apa yang menjadi patokan waktu, ... padahal ruang pun tidak ada. Namun demikian, saya akan sedikit berikan gambaran masalah penciptaan alam dan persoalan waktu ...

Bilamana maha ledakan (big bang) itu terjadi ? Dari pengetahuan kita mengenai kecepatan berkembangnya alam semesta, diperkirakan peristiwa itu terjadi antara sepuluh sampai lima belas miliar atau ribu juta tahun yang lalu. Kemudian, dari keliling kosmos dan umurnya, dapat dihitung kembali suhu alam semesta sesaat sesudah ledakan itu terjadi. Diperkirakan pada saat itu suhu kodmos melebihi seratus juta juta juta juta derajat, karena kerapatan materi yang sangat tinggi pula. Orang tidak pula dapat menamakan keadaan alam semesta pada waktu itu. Kerapatan tinggi pada suhu rendah membentuk benda padat, kerapatan rendah pada suhu tinggi membentuk gas, tetapi kerapatan materi yang sangat tinggi yang dibarengi dengan suhu yang sangat tinggi, ilmuwan pun tidak tahu keadaannya kecuali menamakannya sebagai "sop kosmos" suatu fluida.

Inilah yang disebut dalam ayat 7 surat Hud dengan "air". Kata-kata " singgasana-Nya berada diatas air (sebelum bumi dan langit diciptakan), oleh karena mengandung makna bahwa pemerintahan atau peraturan Allah ditegakkan atas fluida kosmos itu. Pada saat itu materi beserta ruang kosmos sudah diatur oleh Allah. dan mereka mengikuti serta tunduk pada peraturan-peraturan itu, jadi pada saat diciptakan alam semesta, Allah telah menetapkan berlakunya hukum-hukum alam sebagai sunnatullah Dengan erlakunya hukum-hukum alam ini maka semua makhluk, baik ruang kosmos, atom molekul, partikel dan seluruh materi yang tersusun sebagai benda mati atau hidup, matahari, bumi, bintang dan sebagainya, berjalan sepanjang waktu sesuai dengan ketetapan hukum-hukum tersebut, ... tidak satupun yang menyimpang kecuali izin Allah.

Kitapun dapat mengerti apa makna yang terkandung dalam surat Sajadah ayat 4, dimana dinyatakan bahwa setelah melewati fase 'sop kosmos', Allah menciptakan langit dan bumi beserta segenap isinya, dalam enam hari dan menegakkan kekuasaan atau pemerintahan-Nya sekaligus sejak awal penciptaan.

Kita semua mengetahui apa yang disebut ruang secara intuitif, yaitu suatu volume berdimensi tiga yang dapat ditempati oleh suatu benda. Tiap benda didalam ruang itu mempunyai tempat yang dalam ilmu pengetahuan alam, ditunjukkan oleh apa yang disebut koodinat ruang. Kita juga mengetahui apa yang dimaksud dengan kata-kata waktu, ... ia memberikan urutan ketika berlangsung gejala gejala di dunia ini ... "kemarin" mendahului "sekarang", dan "sekarang" lebih awal dari "besok". Didalam sains, kita mengatakan bahwa gejala-gejala itu membuat koordinat waktu. jadi semua gejala alamiah memiliki koordinat ruang dan waktu, karena mereka terjadi pada tempat-tempat dan pada urutan waktu masing-masing. Orang mengatakan bahwa gejala-gejala alam itu berjalan melalui kontinuum ruang dan waktu, sebab orang beranggapan bahwa suatu gejala diikuti oleh gejala-gejala lanjutannya dalam suatu rangkaian yang tak terputus, berlanjut atau kontinu. Kecuali itu pengertian kontinuum ruang-waktu mengandung makna, bahwa ruang dan waktu merupakan satu kebulatan yang tak terpisah satu sama lain.

Kalau dulu waktu yang lamanya satu detik 'disini' dianggap sama panjang dengan 'disana' dalam semesta ini, sekarang terbukti tidak demikian halnya. Apabila seorang astronot membawa pencatat waktu kesebuah planet diangkasa, bintang yang sangat dekat misalnya, ... atau membawanya dalam pesawat ruang angkasa yang super cepat, misalnya dengan tingkat laju yang mendekati kecepatan cahaya, maka pencatat waktu yang identik yang berada dibumi akan dapat menunjukkan dengan mudah satu detik pada astronot itu lebih lama jangka waktunya dibanding satu detik dibumi. Kenyataaan yang baru ditemukan dan dipahami para ilmuwan dalam abad ke 20, sebenarnya telah disebut dalam Alqu'an pada ayat 5 surat As Sajdah :

"Dia mengatur perintah dari langit sampai ke bumi, kemudian para malaikat naik menghadap pada-Nya dalam satu hari yang ukuran lamanya sama dengan seribu tahun menurut perhitunganmu"

Mudah-mudahan kita diberi kefahaman atas ilmu-ilmu_Nya yang tersembunyi maknanya

Untuk lebih jelasnya coba anda ulangi membaca artikel Membuka Hijab, disitu dijelaskan "dimana Allah dan apa itu zat"

Friday, May 27, 2016

ALLAH MAHA MELIPUTI

"Ingatlah bahwa sesungguhnya mereka adalah dalam keraguan tentang pertemuan dengan Tuhan mereka, ingatlah, bahwa sesungguhnya Dia meliputi segala sesuatu." (Al Fushilat:54 ) 

Saya harus berhati-hati menterjemahkan ayat ini, karena diperlukan ada ayat pendukung yang menyatakan kalimat DIA MELIPUTI SEGALA SESUATU … Karena didalam tafsir-tafsir besar, seperti Fi Dhzilalil Qur'an, Jalalain, Shafwatut Tafaasir Al Munir, dan Al Qur'anul Karim terjemahan departemen Agama , `alaa innahu bikulli syaiin muhiith' … bahwa sesungguhnya DIA maha meliputi segala sesuatu ... ditafsirkan bahwa yang meliputi segala sesuatu itu adalah ilmu-Nya, … kekuasaan-Nya, … atau kekuatan-Nya (energi-Nya)  dll. Kesimpulan dari semua tafsir-tafsir yang ada bahwa yang meliputi segala sesuatu adalah sifat-sifat-Nya, … bukan DIA (dzat), ... padahal sifat-sifat itu bergantung kepada Dzat.

Kalau dilihat dari sejarah perkembangan ilmu-ilmu islam  ... mufassirin muncul saat bersamaan adanya konflik aliran mazhab … diantaranya  empat aliran popular pada masa itu yaitu, mutakallimun, para filosof, al ta'lim dan para sufi. Dua yang pertama dalam mencari kebenaran menggunakan akal, walaupun antara keduanya terdapat perbedaan yang besar dalam prinsip penggunaan akal itu.  Golongan yang ketiga menekankan otoritas imam, dan  yang terakhir menggunakan Al dzawq (intuisi/rasa)

Faham tasawuf  berkembang dengan terkenalnya prinsip hulul atau ittihad  (bersatunya hamba dengan tuhan). Hal ini mengakibatkan para mufassir tidak berani terang-terangan menterjemahkan ayat ini dengan jelas, ... karena konflik itu hingga kini masih berlanjut. Sehingga ayat ini menjadi musytarak (banyak arti) padahal kata DIA, tidak perlu ditafsirkan lagi dengan diluar diri-Nya. yang akibatnya terlalu rancu diterjemahkan dengan arti sifat-Nya … karena takut dituduh termasuk memiliki faham yang sama dengan Al Hallaj !!  yaitu faham, Allah bersatu dengan makhluknya.  Akan tetapi mereka akan menemukan kesulitan jika hal ini tidak diterjemahkan dengan apa adanya, …sebab para mufassir lainnya juga ikut-ikutan menterjemahkan DIA dengan sifatnya yang meliputi segala sesuatu,  ... yaitu sifat ilmu, kuasa, kudrat, iradat-Nya

Padahal ayat ini menjelaskan DIA nya yang meliputi segala sesuatu  yaitu Dzat-nya atau diri-Nya yang meliputi segala sesuatu, …ialah ALLAH yang meliputi segala sesuatu, ...  bukan sifat-Nya, ... karena sifat itu sangat bergantung kepada DZAT, … seperti bergantungnya rasa manis kepada dzat (wujud) madu … manis itu tidak bisa berdiri sendiri jika tidak ada dzat yang disifati, sehingga saya lebih berani menjelaskan kesempurnaan-Nya (bikamalatihi, sifat ,asma dzat, dan af'al) yaitu Dzat Allah yang meliputi segala sesuatu sesuai dengan ayat-ayat berikut ini:

"….wallahu muhithun bil kaafirin …artinya : Dan Allah meliputi orang-
orang yang kafir"  (Al Baqarah:19)

"katakanlah : Dia-lah Allah yang maha Esa "
"Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu" ( Al
Ikhlash: 1-2)

Baiklah saya nukilkan apa yang tertera di dalam kitab suci Al qur'an, dimana setiap yang disebut wahyu itu bukanlah hanya wahyu tasysi', atau wahyu syari'at, tetapi juga wahyu ilham. Yaitu Allah memberikan perintah-perintah atau instruksi-instruksi kepada makhluqnya.

"Dan tuhanmu mewahyukan kepada lebah" ( An nahl:18)

"Dan Kami wahyukan kepada ibu Musa" ( Al Qashas:7)

"Dan ia mewahyukan kepada tiap-tiap langit itu urusan masing-masing" ( Al Fushilat:12)

Kata wahyu yang tertera dalam ayat-ayat diatas , secara tegas menyatakan bahwa Allah tidak menutup-nutupi kepada kita, bahwa bukan siapa-siapa yang membisikkan dan menggerakkan tubuh manusia, yang oleh pakar disebut alam kecil (mikrokosmos) atau gambaran mini tentang alam semesta, dan DIA lah yang bersembunyi (Al bathin) dibalik kasat mata manusia. DIA yang menggerakkan bumi, langit, bintang-bintang, matahari, ... dan mengajarkan lebah dan menuntunnya dalam membuat kontruksi bangunan rumahnya yang indah. Masing-masing dibekali wahyu dari Tuhannya untuk melaksanakan tugas-Nya tanpa membantah, sehingga jalan mereka tidak berbenturan dengan fitrah Allah yang Maha suci  

Kemudian dia mengarah kepada langit yang masih berupa kabut lalu Dia berkata kepadanya dan pada bumi ; "silahkan kalian mengikuti perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa . jawab mereka : kami mengikuti dengan suka hati" ( Al Fushilat: 11)

"Maka Allah menjadikannya tujuh langit dalam dua hari dan mewahyukan perintah-Nya pada tiap-tiap langit itu dan kami hiasi langit dunia dan pelita-pelita dan kami memeliharanya, demikian lah ketentuan yang maha perkasa lagi maha mengetahui" (Al  Fushilat:12)

Allah mengajarkan manusia apa-apa yang belum diketahuinya. Allah lah yang menuntun manusia, memberikan inspirasi, ilham dan wahyu. Tubuhnya patuh mengikuti perintah Tuhannya tidak terkecuali orang kafir. Sunnah-sunnah Allah berlaku kepada alam semesta baik yang mikro maupun yang makro .
Teori mekanika tentang kehidupan gagal menerangkan fakta-fakta biologi … Kesulitan yang nyata pada saat ini adalah anggapan yang keliru karena penggunaan bahasa, seperti kita mengatakan bahwa matahari terbit dan terbenam setiap hari, ... padahal sebenarnya matahari tidak terbit maupun tenggelam. ... juga kita selama lebih dari 2000 tahun telah mengatakan bahwa kotoran manusia itu menjijikkan, ... dan kita telah mengatakan bahwa materi sebagai wujud mati dan jiwa sebagai sesuatu yang terpisah dan memiliki eksistensi tersendiri yang abadi. Namun dikatakan bahwa setiap unsur dasar materi itu kekal … tidak ! sebenarnya tidaklah demikian!  Hal ini kita ketahui dari sesuatu yang dapat berakhir itu ada. Prinsip kekekalan meteri dan daya yang lebih tepat disebut sebagai prinsip kekekalan energi, merupakan fakta terbaik yang tidak bisa dipungkiri dari pengalaman manusia. dan untuk itu kita pantas menghargai ilmu pengetahuan. Energi merupakan entitas terakhir yang kita jumpai dimana saja. kita tidak mampu mendapatkan yang lebih dari itu. Bentuk-bentuk energi ini ialah, panas, cahaya, daya maknetis listrik, atom (sebagai energi yang masih tertidur).

Kami telah mencoba memperhatikan bahwa akal sendiri merupakan gerak, akal dan materi bukan merupakan dua realitas yang terpisah, melainkan sebagai dua realitas yang sama yang sedikit banyak bergerak. Prinsip hidup eksis dimana-mana dan segala sesuatu eksis didalamnya. Tidak ada yang dapat berwujud tanpa prinsip hidup ini.  Didalam diri manusia ada satu kombinasi gerak, oleh karenanya kami menyebut ini sebagai materi yang  berakal atau akal yang bermateri sungguh sepantasnyalah kita menciptakan sebuah istilah yang baru bagi manifestasi realitas dalam diri benda-benda yang hidup. Benda-benda itu sebenarnya diam diatas gerak …dan gerak itu diam diatas prinsip hidup … hidup itu ada pada yang wujud  ... wujud itu ada pada dzat …

Untuk memudahkan uraian diatas, ... anda perhatikan dan buatlah sebuah perumpamaan ... Ambillah sebuah benda mati (batu, misalnya) coba anda gerakkan ke kiri dan kekanan … perhatikan dengan seksama peristiwa itu …batu bergerak kekiri dan kekanan  mengikuti kemauan  anda, … yaitu kehendak yang menyelimuti batu itu … Kehendak itu timbul dari wujud anda yang memiliki kuasa, … ketetapan … batu itu mengikuti perintah anda … tunduk patuh terpaksa maupun sukarela … batu itu berislam (berserah) terhadap anda dan kenyataan sebenarnya adalah gerakan anda bukanlah gerakan batu ... karena batu itu bergantung kepada gerakan yang timbul dari gerakan kemauan anda !!!

Batu itu betul-betul tidak memiliki kuasa sedikitpun, … sehingga jika anda mengerti akan asal gerakan itu maka anda akan berkata … akulah yang menggerakkan batu itu … akulah yang memelihara batu itu … akulah yang kuasa atas batu itu … dan akulah yang meliputi batu itu  ... ilmu iradat ( kuasa ) … iradat (kemauan) … namun batu bukanlah aku !

Dalam gerakan batu itu terdapat kemauan …kekuasaan …kekuatan … ide (akal) …dan gerakan diri anda sendiri, sehingga anda menyatakan bahwa batu bergerak atas kemauan-ku ... kuasa-ku …dan gerakan itu adalah gerakanku, ... dan gerakan itu lebih tampak dari batu itu sendiri, karena batu diliputi oleh gerak-ku !! Bagi orang awam melihat peristiwa gerakan batu itu … ia menganggap yang bergerak adalah sebuah BATU, ... karena dia tidak melihat bahwa batu itu diam diatas GERAK. Begitu juga atom, electron, bergerak diatas gerakan yang Maha kekal ... maha hidup ... maha kuasa ... maha pintar ... maha tahu …dan mereka ada atas ADA nya DZAT !! Jika anda mengerti akan kejadian ini ... alangkah indahnya GERAK yang memiliki ide-ide besar ... rencana-rencana unik … dan ternyata DIA lebih tampak dari pada alam ini ….

Mudah-mudahan anda memahami ilustrasi diatas, … karena agak sulit saya menggambarkan dengan bentuk tulisan  ... atas jawaban ini. Maka tidak heran jika para sufi kesulitan mengungkapkan dengan bentuk bahasa lugas kecuali hanya berupa syair-syair yang juga sulit difahami oleh orang awam.