Wednesday, June 29, 2016

MEMPRODUKSI UANG

Internet merupakan sumber penghasilan terbesar dan tercepat. ada banyak peluang usaha yang bisa menghasilkan uang melalui media internet. seperti Jual Beli barang atau jasa lewat internet, membuat blog, menulis untuk website, membuat video youtube dan masih banyak yang lainnya. kali ini saya akan menawarkan kepada pembaca sekalian, sebuah peluang untuk mendapatkan uang, dengan cara menulis untuk blog ini.

pembaca cukup membuat tulisan yang berhubungan dengan Zikir atau Doa, bisa berupa artikel, pengalaman atau mungkin sebuah tips. setiap tulisan yang tampil di Blog ini akan di bayar.

caranya cukup mudah. pembaca bisa menulis melalui Komputer, atau Handphone, kemudian tulisan tersebut di kirim ke saya, melalui :

1. Email saya : arismanmaknur@gmail.com

2. Fans Page Pacebook : Kekuatan Zikir & Doa

3. di Line ID : @Animisme

====================================================================

inilah salah satu bentuk aplikasi dari Al-Qur'an surat Ar-Rad ayat 11. kita berzikir dan berdoa, kemudian kita berusaha secara nyata, maka Allah akan mengubah nasib kita. nah usaha nyata kita adalah salah satunya dengan membuat tulisan.

saya tunggu tulisan dari para pembaca sekalian.

Tuesday, June 28, 2016

AMALAN MEMPERLANCAR REJEKI





Ada banyak sekali amalan yang di ajarkan guru-guru kita untuk memperlancar rejeki. misalnya rutin membaca surat Al Waqiah tiap malam, kemudian memperbanyak zikir menyebut asma Allah, memperbanyak Shalawat nabi, memperbanyak istighfar, dll.

kali ini saya akan membagikan amalan untuk memperlancar rejeki sehari-hari dengan mengamalkan surat At Taubah ayat 128 - 129.





SURAT AT-TAUBAH ayat 128-129


لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ (١٢٨
فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ (١٢٩


LA QAD JAAKUM RASUULUN MIN ANFUSIKUM 'AZIIZUN 'ALAIHI MAA 'ANITTUM HARIISUUN 'ALAIKUM BIL MU'MINIINA RA'UFUN RAHIIM

FAIN TAWALLAW FAKUL HASBIYALLAAHU LAA ILAAHA ILLA HUWA 'ALAIHI TAWAKKALTU WA HUWA RABBUL ARSYIL 'ADZIIM

=====================================================================

Amalkan surat At Taubah ayat 128-129, setiap Habis Shalat Fardhu, di baca sebanyak 7 kali. kemudian rutinlah bersedekah di setiap hari jum'at.

bagi yang berdagang, setiap membuka dagangan, baca sekali ayat di atas.

bagi yang berkantor, setiap mau masuk kantor, di baca sekali.

mudah-mudahan bermanfaat untuk kita semua.

Monday, June 27, 2016

KEMBALI PERAWAN, BISAKAH ?

Cara supaya bisa perawan kembali seperti semula tetap mungkin bagi siapa saja yang secara tidak sengaja mengalami hal yang tak diinginkan. Agar dapat perawan lagi maka tak ada jalan lain selain harus diatasi, bukan ditangisi , walau harus anda pahami bahwa sudah semestinya perbuatan anda dimasa lalu itu mesti disesali dengan penyesalan yang teramat dalam. Manusia di dunia memang tak ada yang sempurna, semua orang pernah melakukan kesalahan walau tingkat dan jenis kesalahan yang dilakukan tentu saja berbeda beda, termasuk juga kesalahan menyerahkan keperawanan kepada orang yang belum punya hak apa apa.

Semua kesalahan akibat ketidak hati hatian manusia memang tak pernah direncanakan, ketika nafsu telah menguasai diri maka hampir tak ada lagi pikiran penyesalan di kemudian hari. Ada banyak jenis penyesalan akibat nafsu yang tak terkendali. Tetapi yang paling fatal akibatnya adalah tidak mampunya seseorang dalam mengendalikan nafsu birahi hingga tak ingat apa apa lagi. Yang ada hanya rasa enjoy, rasa percaya kepada pasangan yang statusnya belum jelas dan belum sah secara agama. Jauh dalam lubuk hati, sebelum seorang wanita menyerahkan keperawanan, sebenarnya hatinya merasa khawatir, tetapi rasa khawatir ini kemudian ditepis dan ditekan sedalam dalamnya hingga terjadilah perbuatan yang merenggut perawan istimewanya.

Saat hubungan baru dilakukan satu kali mungkin wanita tadi belum merasakan kenikmatan yang sesungguhnya, ia mungkin saja hanya merasa sakit, meski ada sebagian wanita yang bisa langsung merasakan kenikmatan layaknya orang yang sudah berkeluarga. Ketika hubungan telah selesai dan keperawannya hilang, tak terasa air matanya menetes begitu derasnya, tapi bak seorang pengeran pacarnya kemudian menguatkan dia kalau kelak akan dijadikan istri .Waktu pun berlalu, hari juga berganti, di hari yang lain saat wanita tadi diajak hubungan lagi dengan status sudah tak perawan, dia pun terjerumus dan melakukan hubungan yang terlarang ini untuk kedua kalinya, begitu seterusnya hingga pengkhianatan terjadi karena pacarnya sudah merasa bosan.

Luka yang demikian perih pasti dirasakan oleh wanita, ia ditinggalkan dengan bekas noda hitam yang tak mungkin dapat dilupakan seumur hidupnya. Hari harinya hanya dipenuhi dengan tangisan, menyesal, menyesal dan terus menyesali apa yang telah terjadi. Inilah fakta yang terjadi pada sebagian wanita, sebuah kenyataan yang ada dalam kehidupan ini .Terus apakah dampak seriusnya ketika wanita kehilangan keperawanan, haruskah mereka berputus asa dan bunuh diri saja ? Bunuh diri bukanlah sebuah solusi, sebab dosa akan kian bertambah, sengsara di dunia dan akan makin sengsara di akhirat. Wanita yang telah
kehilangan keperawanan tak sepatutnya mengakhiri hidupnya dengan cara yang menyedihkan. Ingatlah selalu bahwa tangisan dan penyesalan tak akan dapat mengubah keadaan anda kembali menjadi perawan.

Lalu apakah solusi yang tepat agar dapat kembali perawan, apakah masih ada kemungkinan seorang wanita bisa perawan lagi, jika iya bagaimana caranya? Ada kemungkinan dan ada caranya baik yang sifatnya medis ataupun yang non medis. Untuk yang sifatnya medis bisa melalui operasi asal anda rela mengeluarkan biaya yang tak sedikit, bisa sampai puluhan juta rupiah, tetapi ada peluang terkena efek samping dan tidak cocok untuk semua orang. Dan untuk yang non medis bisa melalui jalur alternatif, biaya jauh lebih murah dan sangat terjangkau jika dibandingkan dengan manfaat yang akan diperoleh.

==================================================================

Dan untuk anda yang ingin mencoba cara non medis, saya akan membagikan tips yang pernah saya dapatkan dari berbagai sumber. Berhasil tidaknya tergantung usaha anda. tidak ada ruginya mencoba, toh sekaligus sebagai bahan untuk Muhasabah.

1. Tidak sedang datang bulan / berhalangan untuk beribadah.
2. Ambil Air Wudhu
3. Shalat Taubat 12 Rakaat, tiap 2 Rakaat di tutup Salam.
4. Membaca Surat Maryam, 3 Kali Khatam
5. Baca Shalawat 100 x ( Allahumma Shalli 'ala Sayyidina Muhammad wa ala aalihi wa sahbihi wasallam )
6. kemudian ambil sikap duduk bersila, punggung tegak, kepala jangan menunduk.
7. pejamkan mata, dan rasakan apa-apa yang ada dalam kepala.
8. ketika muncul kedutan / denyutan di dahi, rasakan denyutan tersebut dan tetaplah disitu.
9. niatkan apa yang menjadi keiginan anda ( satu kali saja ).
10. lakukan sikap ini selama 15 - 20 menit.
11. setelah selesai, lanjutkan dengan Shalat sunat Syukur 2 Rakaat.

=================================================================

lakukan ikhtiar ini di malam hari antara pukul 20.00 - 03.00 . lakukan setiap malam sampai anda mendapatkan apa yang anda inginkan.

Saturday, June 25, 2016

KAYA DI BULAN RAMADHAN

Bulan Ramadhan adalah bulan yang sangat ditunggu-tunggu kehadirannya. Bulan Suci Ramadhan merupakan bulan puasa yang penuh dengan keberkahan. Saking berkahnya, bahkan yang tidak puasa pun ikut merasakannya. Apalagi yang puasa. Apalagi yang ibadahnya khusyu.

Banyak sekali amalan sunnah yang bisa kita lakukan di bulan Ramadhan. Mulai dari dzikir, doa, shalat sunnah, sedekah dan umroh. Semuanya dinilai ibadah. Oleh karena itu, bulan puasa merupakan saat yang tepat untuk mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa. Kalau sudah dekat, apa pun kebutuhan yang kita minta kepada-Nya, pasti Allah berikan. 

Baiklah. Berikut ini adalah amalan-amalan Sunnah di Bulan Ramadhan:


1. Dzikir
2. Shalat Tarawih
3. Membaca Al Quran
4. Membaca Al Waqiah
5. Membaca Surat Al Mulk
6. Shalat Dhuha
7. Shalat Tahajjud
8. Sedekah
9. Umroh
10. Membaca Shalawat
11. Bekerja/Mencari Nafkah
Semua amalan di atas berpotensi mendatangkan rezeki yang lebih banyak, lebih berkah, lebih berlimpah. Efek sampingnya adalah anda akan merasakan nikmatnya waktu (tidak dikejar-kejar waktu), penghasilan meningkat, keuangan rumah tangga aman, hubungan rumah tangga harmonis, hidup tenang, bebas pikiran dan hutang cepat lunas. Agak aneh memang. Tapi, begitulah kenyataannya. Kenyataan bagi yang sudah melakukan amalan tersebut.


=========================================

kali ini, admin akan membagikan amalan khusus buat para pembaca yang mungkin berniat memperbaiki perekonomiannya, atau mungkin ingin lepas dari jerat hutang. amalan ini harus di sertai dengan amalan lahiriah yaitu Sedekah.

TIPS DARI ADMIN :
1. Ambil air wudhu
2. Shalat sunat taubat
3. Shalat Sunat hajat 2 Rakaat
4. Selesai Shalat sunat, lanjutkan dengan membaca Surat Al-Waqiah sebanyak 3 kali Khatam
5. Kemudian lanjutkan dengan Zikir : Ya Rahman, Ya Rahiim ( sebanyak-banyaknya )
6. Keesokan Harinya, bersedekahlah berapapun kemampuan Anda.

lakukan tips ini mulai dari malam ke - 21 sampai malam 30. Mudah-Mudahan Allah meridhoi Riyadah yang kita lakukan. Berkah Ramadhan akan terasa. Amin.

Thursday, June 23, 2016

MENJEMPUT LAILATUL QADR

Bagaimana tips menjemput Lailatul Qadr ? kali ini saya akan berbagi tipsnya kepada para pembaca sekalian. Terlebih dahulu saya akan memeaparkan sedikit bagaimana malam Lailatul Qadr itu. 

Bulan Ramadan telah berjalan lebih dari setengah. Artinya, dalam beberapa waktu lagi Ramadan akan berakhir.

Di masa menjelang akhir Ramadan dianjurkan untuk meningkatkan ibadah dan amal saleh. Ini karena hari-hari terakhir Ramadan, tepatnya sepuluh hari terakhir, keberkahan tersebar dengan begitu banyak.

Ada kebiasaan yang dilakukan Rasulullah Muhammad SAW dalam sepuluh hari terakhir. Rasulullah kerap lebih memfokuskan diri pada peningkatan ibadah.
Ini karena dalam masa sepuluh hari terakhir Ramadan akan ada satu malam khusus yaitu Lailatul Qadar. Kebiasaan Rasulullah ini dituturkan oleh Aisyah ra.

"Nabi Muhammad SAW ketika memasuki sepuluh malam terakhir bulan Ramadan memilih fokus beribadah, mengisi malamnya dengan dengan ibadah, dan membangunkan keluarganya untuk ikut beribadah," (HR Al Bukhari).

Hadits ini menjelaskan kebiasaan Rasulullah semakin banyak beribadah pada sepuluh malam terakhir Ramadan. Sebagian ulama mengatakan Rasulullah Muhammad SAW meningkatkan kesungguhannya beribadah pada sepuluh malam terakhir dibandingkan dengan malam-malam yang lainnya.

Menurut Ibnu Bathal, malam lailatur qadar akan jatuh pada setiap sepuluh malam terakhir Ramadan. Oleh sebab itu, Rasulullah selalu lebih banyak beribadah di waktu tersebut.

Setiap muslim pasti menginginkan malam penuh kemuliaan, Lailatul Qadar. Malam ini hanya dijumpai setahun sekali. Orang yang beribadah sepanjang tahun tentu lebih mudah mendapatkan kemuliaan malam tersebut karena ibadahnya rutin dibanding dengan orang yang beribadah jarang-jarang.
Edisi kali ini kita akan melihat keistimewaan Lailatul Qadar yang begitu utama dari malam lainnya.
1- Lailatul Qadar adalah waktu diturunkannya Al Qur’an
Ibnu ‘Abbas dan selainnya mengatakan, “Allah menurunkan Al Qur’an secara utuh sekaligus dari Lauhul Mahfuzh ke Baitul ‘Izzah yang ada di langit dunia. Kemudian Allah menurunkan Al Qur’an kepada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- tersebut secara terpisah sesuai dengan kejadian-kejadian yang terjadi selama 23 tahun.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 14: 403). Ini sudah menunjukkan keistimewaan Lailatul Qadar.
2- Lailatul Qadar lebih baik dari 1000 bulan
Allah Ta’ala berfirman,
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al Qadar: 3). An Nakho’i mengatakan, “Amalan di lailatul qadar lebih baik dari amalan di 1000 bulan.” (Lihat Latho-if Al Ma’arif, hal. 341). Mujahid, Qotadah dan ulama lainnya berpendapat bahwa yang dimaksud dengan lebih baik dari seribu bulan adalah shalat dan amalan pada lailatul qadar lebih baik dari shalat dan puasa di 1000 bulan yang tidak terdapat lailatul qadar. (Zaadul Masiir, 9: 191). Ini sungguh keutamaan Lailatul Qadar yang luar biasa.
3- Lailatul Qadar adalah malam yang penuh keberkahan.
Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ
Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.” (QS. Ad Dukhon: 3). Malam penuh berkah ini adalah malam ‘lailatul qadar’ dan ini sudah menunjukkan keistimewaan malam tersebut, apalagi dirinci dengan point-point selanjutnya.
4- Malaikat dan juga Ar Ruuh -yaitu malaikat Jibril- turun pada Lailatul Qadar.
Keistimewaan Lailatul Qadar ditandai pula dengan turunnya malaikat. Allah Ta’ala berfirman,
تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا
Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril” (QS. Al Qadar: 4)
Banyak malaikat yang akan turun pada Lailatul Qadar karena banyaknya barokah (berkah) pada malam tersebut. Karena sekali lagi, turunnya malaikat menandakan turunnya berkah dan rahmat. Sebagaimana malaikat turun ketika ada yang membacakan Al Qur’an, mereka akan mengitari orang-orang yang berada dalam majelis dzikir -yaitu majelis ilmu-. Dan malaikat akan meletakkan sayap-sayap mereka pada penuntut ilmu karena malaikat sangat mengagungkan mereka. (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 14: 407)
Malaikat Jibril disebut “Ar Ruuh” dan dispesialkan dalam ayat karena menunjukkan kemuliaan (keutamaan) malaikat tersebut.
5- Lailatul Qadar disifati dengan ‘salaam’
Yang dimaksud ‘salaam’ dalam ayat,
سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْر
Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar” (QS. Al Qadr: 5) yaitu malam tersebut penuh keselamatan di mana setan tidak dapat berbuat apa-apa di malam tersebut baik berbuat jelek atau mengganggu yang lain. Demikianlah kata Mujahid (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 14: 407). Juga dapat berarti bahwa malam tersebut, banyak yang selamat dari hukuman dan siksa karena mereka melakukan ketaatan pada Allah (pada malam tersebut). Sungguh hal ini menunjukkan keutamaan luar biasa dari Lailatul Qadar.
6- Lailatul Qadar adalah malam dicatatnya takdir tahunan
Allah Ta’ala berfirman,
فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ
Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah” (QS. Ad Dukhan: 4). Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya (12: 334-335) menerangkan bahwa pada Lailatul Qadar akan dirinci di Lauhul Mahfuzh mengenai penulisan takdir dalam setahun, juga akan dicatat ajal dan rizki. Dan juga akan dicatat segala sesuatu hingga akhir dalam setahun. Demikian diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar, Abu Malik, Mujahid, Adh Dhohak dan ulama salaf lainnya.
Namun perlu dicatat -sebagaimana keterangan dari Imam Nawawi rahimahullah­ dalam Syarh Muslim (8: 57) bahwa catatan takdir tahunan tersebut tentu saja didahului oleh ilmu dan penulisan Allah. Takdir ini nantinya akan ditampakkan pada malikat dan ia akan mengetahui yang akan terjadi, lalu ia akan melakukan tugas yang diperintahkan untuknya.
7- Dosa setiap orang yang menghidupkan malam ‘Lailatul Qadar’ akan diampuni oleh Allah
Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 1901)
Ibnu Hajar Al Asqolani mengatakan bahwa yang dimaksud ‘iimaanan’ (karena iman) adalah membenarkan janji Allah yaitu pahala yang diberikan (bagi orang yang menghidupkan malam tersebut). Sedangkan ‘ihtisaaban’ bermakna mengharap pahala (dari sisi Allah), bukan karena mengharap lainnya yaitu contohnya berbuat riya’. (Lihat Fathul Bari, 4: 251)[1]
====================================================================
TIPS DARI ADMIN :
1. Ambil air wudhu
2. Shalat sunat taubat
3. Selesai Shalat sunat, lanjutkan dengan membaca Surat Al-Kahfi
4. Kemudian lanjutkan dengan Zikir : Laa Ilaha Illaa Anta, Subahanaka Inni Kuntu Minaz Zhaalimin ( sebanyak-banyaknya )

lakukan tips ini mulai dari malam ke - 21 sampai malam 30. Mudah-Mudahan Allah meridhoi Riyadah yang kita lakukan.

Wednesday, June 22, 2016

KEKUATAN SHALAWAT NABI




Shalawat adalah  doa atau seruan kepada Allah.Membaca shalawat untuk Nabi, memiliki maksud mendoakan atau memohonkan berkah kepada Allah swt untuk Nabi.sholawat  salah satu bagian dari keimanan  seorang muslim / muslimat.












ALLAH SWT berfirman:

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُواتَسْلِيْمًا

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah untuk Nabi dan ucapkanlah salam kepadanya.” (Al-Ahzab: 56)
Yang dimaksud dengan Allah SWT bershalawat kepada Nabi adalah bahwa Allah SWT memberinya rahmat. Dan rahmat itu adalah kasih sayang yang selalu mendampingi beliau.
Sedangkan makna para malaikat bershalawat kepada nabi adalah memintakan ampunan.
Sedangkan bila shalawat itu dari orang mukmin maka maknanya adalah doa supaya beliau diberi rahmat dan kasing sayang.yang nantinya rahmat,ampunan ,dan doa akan kembali ke si pengamal sholawat tersebut.
faedah dan kehebatan shalawat :
RASULALLAH SAW BERSABDA :
“Bacalah kamu sekalian shalawat kepada-Ku, maka sesungguhnya bacaan Shalawat kepada-Ku itu menjadi penebus dosa dan pembersih bagi kamu sekalian dan barang siapa membaca Shalawat kepada-ku satu kali, Allah SWT membalas kepadanya sepuluh kali  (RIWAYAT IBNU ABI ‘ASHIM DARI ANAS bin’ MALIK)
“Barang siapa membaca Shalawat kepada-KU tiap hari 100 kali, maka Allah SWT mendatangkan 100 macam hajatnya, yang 70 macam untuk kepentingannya di akhirat, dan yang 30 macam untuk kepentingannya di dunia ”
‘Barang siapa membaca Shalawat kepada-Ku tiap hari seribu kali, dia tidak akan mati sehingga dia melihat ,tempatnya di surga”. (DARI ANAS bin MALIK).
“Barang siapa yang merasa sulit/ sukar menempuh sesuatu, maka sesungguhnya Sholawat itu akan membuka kesulitan dan menghilangkan kesusahan”.
kali ini saya akan membagikan tips kepada semua pembaca, bagaimana mengatasi masalah keuangan yang menimpa kita dengan mengamalkan shalawat.
1. ambil air wudhu
2. shalat sunat dua rakaat
3. baca surah yasin 1 kali
4. baca shalawat sebanyak-banyaknya : Allahumma Shalli 'ala sayyidina muhammad, wa alaa alihi wasahbihi wasallam.
5. kemudian apabila di dahi sudah terasa ada kedutan yang muncul, maka berhentilah. 
setelah itu, silahkan menunggu keajaiban yang akan di datangkan Allah SWT kepada kita.

Untuk Fadilah lainnya, silahkan lihat artikel " BERBAGI ILMU RAHASIA ", Atau langsung klik  DI SINI

Tuesday, June 21, 2016

WAJAH ALLAH

pertanyaan Umum yang biasa muncul :

Agar kita tidak salah arah, maka terlebih dahulu kita harus tahu persis Allah kita. Kita harus tahu Wajah-Nya. Karena dalam shalat kita katakana: “Ku hadapkan wajahku kepada Wajah Dia yang menciptakan langit dan bumi, lurus, tidak syirik kemana-mana”. Kalau tidak begini, maka saat kita memanggil Allah tersebut kita sedang mengarah kepada siapa…?, Saat kita mengucapkan subhanallah, alhamdulillah, laa ilaha illaallah, allahu akbar kita menghadap siapa??.

Maksud dan cara atau indikator tentang tulisan berhuruf tebal. Wajah-Nya kemana??? Kami belum paham karena bayangan kami masih bentuk materi.

=================================================================================

Jawaban :

Pertanyaan seperti di atas adalah sebuah pertanyaan paling fundamental sekali, the ultimate fundamental question, yang selalu ingin dicari jawabannya oleh seluruh umat manusia. Sebab setiap orang pastilah ingin menyandarkan kesadarannya kepada “Wajah Sesuatu” yang dianggapnya lebih dari apapun juga. Sebab tak peduli siapapun juga dia, maka pastilah dia punya alamat tempat dimana dia meletakkan kesadaran terakhirnya.

Mari kita lihat satu persatu.

Atheis…

Orang athies bisa saja tengah meletakkan kesadaran terakhirnya kepada “wajah” dirinya sendiri, bahwa hanya dirinya sendiri yang dia anggap punya kemampuan dalam segala hal di dalam hidupnya, sehingga dia merasa tidak perlu lagi, atau tepatnya menghambat kesadarannya, untuk bergerak kepada sesuatu diluar dirinya. Begitu juga saat seorang atheis melihat alam semesta ini, dia tidak mampu pula beranjak dari hanya kesadaran terhadap dirinya sendiri. Alam semesta itu tidak mampu menurunkan keangkuhannya terhadap keakuan dirinya sendiri. Bahkan dengan melihat alam semesta itu dia tidak sedikit pun mampu mengurai kesadarannya menuju Dzat Yang Meliputi alam semesta itu. Nah…, kesadaran yang seperti ini disebut sebagai kesadaran atheis.


Kepercayaan Serba Benda …

Kemudian mari kita lihat orang yang tidak atheis, dimana arah kesadarannya mulai beranjak dari hanya berpusat pada dirinya sendiri menuju kepada sesuatu yang bukan dirinya, diluar dirinya. Dengan kesadaran seperti ini, pada setiap ada kejadian yang menimpanya, maka seseorang akan mencari sandaran kesadarannya kepada, misalnya, pohon beringin yang sangat besar, kepada gunung, kepada kepada laut, kepada bulan, kepada matahari dan sebagainya. Jadi pada “suasana” seperti ini, ada perpindahan kesadaran bahwa sebuah kejadian disebabkan oleh pengaruh dari sesuatu di luar dirinya sendiri. Lalu sesuatu itu dihormati, dipuja, disembah, dan dimintai pertolongan oleh mereka.

Tidak jarang pula orang-orang seperti ini membuat sesuatu bentuk atau bangunan (OBJEK FIKIR) yang tujuannya adalah untuk mengangkat kesadarannya dari dirinya menuju sesuatu diluar dirinya. Candi Barobudur, candi INCA (untuk rakyat Indian Amerika), dan piramida di Mesir adalah beberapa contoh dari adanya bangunan tua dan megah yang dijadikan orang untuk mengantar kesadarannya keluar tubuhnya sendiri. Begitu mereka memandang, menyadari, dan menarok kesadarannya pada bangunan-bangunan itu, sebagai objek fikirnya, maka dia merasa seperti bisa melepaskan diri dari persoalan-persoalan hidup yang menimpanya. Setiap ada masalah, setiap ada permintaan, setiap ada kesulitan, maka dia mengarahkan kesadarannya kepada objek fikir yang dia pegang teguh itu, sehingga dia seperti punya pegangan untuk bersandar. Begitu orang bisa merasa punya tempat sandaran, maka dia akan mulai merasakan ketenangan. Dan luarbiasanya, siapapun yang mampu masuk dan berada pada wilayah ketenangan (hati dan fikiran), dimana mereka tidak was-was dan takut lagi, maka secara perlahan dan pasti mereka akan menemukan jalan-jalan keluar dari masalah mereka dengan sangat mengejutkan. Sehingga semakin kuatlah dia mengikatkan diri kepada objek fikir berupa candi, bangunan, ataupun fenomena-fenomena alam lainnya.

Kalau ada orang yang melarang, ataupun menyalahkan orang-orang dengan objek fikir seperti ini, maka mereka akan melawannya mati-matian. Sebab yang disalahkan dan dilarang adalah objek fikir dimana mereka bisa merasa tenang. Satu-satunya cara untuk melarang dan menyalahkan orang ini adalah dengan cara mengenalkan mereka dengan objek fikir yang lebih dari objek fikir yang telah pernah mereka punyai. Begitu objek fikirnya berubah kepada sesuatu yang baru, maka seketika itu pula orang itu telah meninggalkan objek fikirnya yang lama. Biarpun kita masih mengenalkan mereka dengan objek fikir mereka yang lama, maka itu sudah berpengaruh kecil kepada perasaannya. Karena dia sudah punya objek fikir baru yang lebih membuat otaknya ekstasis dan mengeluarkan enzim-enzim yang mengaliri pusat-pusat rasa nikmat yang berpengaruh keseluruh tubuhnya.

Kepercayaan Immaterial…

Pada tingkat yang lebih tinggi, ada orang yang merasa bahwa mengarahkan kesadaran kepada objek fikir berupa benda-benda itu ternyata sudah tidak cukup lagi baginya untuk memberinya rasa tenang dan terlepas dari segala permasalahan hidupnya. Oleh sebab itu dia mulai mencoba untuk mengarahkan kesadarannya kepada sesuatu yang bukan materi. Maka kemudian lahirlah konsep agama-agama dengan mengenalkan adanya “Suatu Dzat” yang mengendalikan seluruh alam semesta ini dan diri seluruh umat manusia. Sesuatu itu dikenal orang dengan sebutan Tuhan, yang dalam berbagai bahasa bisa saja dibaca dengan ungkapan God, Yohevah, Brahman, Tao, Bapa Di Syurga, Manitou, dan sebagainya. Di dalam agama islam dan kristen disebut juga dengan sebutan ALLAH (walau cara pengucapannya dalam islam dan kristen sangat berbeda).

Dari sekian banyak nama dan panggilan untuk Tuhan itu tadi, ada satu KONSEP yang sama yang untuk memaknai Tuhan itu, yaitu ciri-ciri dari Wajah Tuhan itu adalah bahwa “DIA tidak sama dengan apapun juga, Dia tidak di barat dan tidak di timur, Dia Esa, Dia tempat segala sesuatu bergantung dan bersandar”. Sebuah definisi yang sangat universal saja sebenarnya untuk menggambarkan sesuatu yang Immaterial, sesuatu yang tidak bisa dibayangkan dan dipersepsikan. Sampai disini masih tidak ada masalah sedikitpun tentang makna Tuhan bagi seluruh umat manusia. Semua mempunyai definisi yang sama tentang Tuhan, walau dengan nama yang berbeda-beda. Makanya Al qur’an mengatakan bahwa apabila kita tanya umat manusia itu, siapa Tuhannya, maka jawabannya adalah Tuhan Yang Esa…, dengan ciri-ciri seperti diatas.

Akan tetapi masalah besar baru muncul saat seseorang mau mengarahkan dan menarok kesadarannya kepada Tuhan yang tidak sama dengan apapun juga itu. Begitu dia merasa punya masalah, saat dia merasa khawatir dan takut, saat dia menginginkan jalan keluar dari problematika hidupnya, sehingga dia butuh tempat berpegang dan tempat bergantung, maka dia merasa kesulitan. Sebab alamat tempat dia berpegang itu adalah sesuatu yang IMMATERIAL. Sebuah ALAMAT yang tidak bisa dibayangkan. Padahal tidak bertemunya tempat kita berpegangan saat kita punya masalah adalah sebuah problem baru yang tidak kalah dahsyatnya. Kita bisa megap-megap, kita bisa kelabakan, kita bisa seperti layangan putus. Sehingga tidak jarang orang yang bermasalah seperti ini ada yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Tidak kuat menanggung derita soalnya…

Kalau sudah begini, walaupun seseorang sudah mempercayai adanya Tuhan, maka dia kemudian akan mencari-cari objek fikir baru yang lebih mudah. Dan itu biasanya adalah sesuatu yang bisa dia bayangkan. Sebab sesuatu itu berguna untuk menarok kesadarannya soalnya. Maka kemudian objek fikir immaterial itu berubah menjadi objek fikir MATERI. Adanya konsep ANAK TUHAN yang dilekatkan kepada YESUS KRISTUS di dalam agama kristen adalah buah dari kesulitan diatas. Jadi dengan memandang wajah dan wujud Yesus Kristus yang kemudian dipersonifikasikan dengan patungnya yang sedang disalib mampu membuat umat kristen menyandarkan segala permasalahan hidupnya kepada sebuah alamat yang dianggapnya sebagai Tuhan.

Begitu umat kristen punya masalah, lalu mereka ingin lari ke Tuhan, maka saat mereka menyebut nama Tuhan itu, fikiran dan kesadarannya berhenti di patung Yesus. Apapun yang disebutkannya tentang Tuhan, misalnya yang rahman, yang rahim, yang quddus, yang salam, maka kesadarannya akan terhenti diwajah Yesus Kristus yang memang dibuat begitu memelas dan menimbulkan rasa hiba dan hormat umat kristiani.

Nah…, kalau fikiran sudah berhenti, kalau kesadaran sudah diletakkan pada suatu alamat yang tetap, maka siapapun juga akan merasakan kedamaian dan ketenteraman. Dan orang yang merasa damai akan mudah pula mendapatkan hasil karya yang lebih dari orang-orang yang fikirannya kacau balau dan kesadarannya tak menentu. Makanya tidak jarang umat kristen, di acara-acara TV, bisa sembuh seketika dari sakitnya saat dia berdo’a atau di do’akan oleh seorang pendeta dihadapan patung yesus.

Begitu juga…, sangat mudah bagi umat kristiani untuk bisa menangis saat mereka melakukan kebaktian dan do’a di gereja. Apalagi kalau fikiran sudah berhenti di patung yesus, dan kesadarannya sudah dibawa untuk merasakan kesengsaraan Yesus dalam mengorbankan dirinya untuk umat manusia, ditambah lagi dengan adanya irama nyanyian paduan suara gereja dan piano yang melengking-lengking, maka tangis adalah sebuah keniscayaan saja sebenarnya. Sungguh sebuah pemandangan yang sakral sekali kalau kita melihat acara-acara do’a umat kristiani di TV-TV.

Begitu juga dengan agama-agama lain yang ada di dunia ini. Kesulitan umat Hindu dalam meletakkan kesadarannya kepada Brahman yang tidak bisa dibayangkan, mereka alihkan dengan menarok kesadarannya kepada sifat-sifat dari Brahman itu. Paling tidak ada tiga sifat Sang Brahman yang dipersonifikasikan oleh Umat Hindu, yaitu Syiwa, Wisnu, Brahma, yang merupakan sifat-sifat Tuhan yang merusak, memelihara, dan mencipta alam semesta dengan segala isinya. Lalu nama-nama dan sifat itu dibuatkan MATERI-nya berupa patung-patung sesuai dengan sifat-sifat tersebut. Dan kepada patung-patung itulah umat Hindu meletakkan kesadarannya kepada Tuhan saat mereka ingin keluar dari masalah kesehariannya dan saat berdo’a.

Umat budha pun demikian. Untuk menarok kesadarannya kepada Tuhan yang Immateril, maka mereka membuat personifikasi Shidarta Gautama (Budha) sebagai personifikasi Tuhan yang Material. Dan kepada patung budha inilah umat budha menarok kesadarannya ketika mereka beribadah. Seperti juga dengan umat kristiani dan umat hindu, dan umat-umat beragama lain yang punya cara yang sama dalam mempersinifikasikan Tuhan. Misalnya personifikai Tuhan dalam bentuk dewa-dewi, seperti dewi Kwan Im, Dewa Hujan, Dewa matahari dan sebagainya.

Jadi bagi agama-agama seperti diatas ada sebuah proses “perantara” sebelum umatnya bisa mengenal dan mencapai Tuhan. Sebab Tuhan tidak bisa dijangkau dengan fikiran, maka untuk menjangkau Tuhan itu lalu dilakukanlah sebuah “proses antara” yaitu dengan mereka mengarahkan kesadarannya kepada materi (patung-patung) yang dipersonifikasikan sebagai Tuhan. Namun disinilah kesulitan hebat mulai muncul. Umat-umat beragam diatas tidak akan pernah bisa menjangkau Objek Fikir Immaterial tersebut sampai kapanpun juga, tanpa adanya objek fikir lain yang melebihi objek fikir material tersebut yang mereka pegangsaat ini. Begitu umat kristen menyebut Tuhan, maka yang muncul adalah personifikasi Yesus sebagai Tuhan. Bagi umat hindu menyebut Bhrahman, maka yang muncul adalah Syiwa, Wisnu, Brahma sebagai personifikasi Barahman. Dan begitu umat budha menyebut Tuhan, maka wujud budha lah yang terpampang dalam kesadarannya. Walau semuanya itu berada dalam kesadaran naluri atau bawah sadar mereka, tetap saja itu membekas sangat dalam di dalam kesadaran mereka.

Lalu posisi kesadaran kita umat islam ini berada dimana…??.

Pertanyaan ini kalau dijawab secara verbal atau tertulis akan mudah. Bahwa umat islam tidak diperkenankan untuk memakai proses antara ketika kita ingin meletakkan kesadaran kita kepada Tuhan saat kita punya berbagai problem kehidupan. Kita diminta untuk langsung menghadapkan diri kita kepada Tuhan tanpa perantara apapun juga. Bahwa Tuhan kita adalah Allah yang tidak sama dengan apapun juga, yang sangat dekat, yang meliputi segala sesuatu. Gampang sekali definisi Tuhan umat islam ini. Bahkan definisi tentang Tuhan ini sama saja dengan definisi Tuhan pada agama-agama lainnya diatas.

Namun dalam praktek ibadah yang sesungguhnya muncullah masalah yang hampir sama dengan masalah umat-umat beragama lainnya tadi itu. Yaitu bagaimana caranya kita menghadapkan kesadaran kita kepada SESUATU yang tidak bisa dipersepsikan dengan apapun juga. Di dalam shalat, misalnya, umat islam diminta untuk melakukan proses “Ku hadapkan wajahku kepada Wajah Dia yang menciptakan langit dan bumi, lurus, tidak syirik kemana-mana”. Ada wajah kita yang menghadap Wajah Tuhan. Lalu Wajah Tuhan yang meliputi segala sesuatu itu seperti apa…?. Kita mulai bingung pula.

Makanya kemudian ada pula yang memakai proses yang sebenarnya mirip dengan proses yang terjadi pada pemeluk-pemeluk agama kristen dan agama lainnya diatas, yaitu adanya sebuah atau beberapa proses antara dalam usaha kita mengenal Tuhan.

Contohnya…, dalam dunia tarekat pada umumnya, seorang salik akan menarok kesadaran dan fikirannya terlebih dahulu kepada guru mursyidnya sebelum dia melakukan perubahan kesadarannya menuju kepada Allah (dzikrullah). Makanya seseorang dianggap tidak bisa bertarekat tanpa adanya seorang guru mursyid yang membimbingnya. Seseorang dianggap baru bisa mengenal Tuhan sampai makrifat kalau dia sudah masuk kedalam sebuah tarekat. Kalau tidak, maka jangan harap. Karena ilmu ma’rifat itu dianggap orang sebagai sebuah ilmu RAHASIA yang sangat tinggi dan sulit didapatkan tanpa dibantu oleh peran seorang guru mursyid tertentu. Hanya guru-guru mursyid yang punya SILSILAH ILMU sampai ke Rasulullah sajalah yang bisa menguasai ilmu Ma’rifat tersebut. Tanpa masuk kedalam lingkaran guru mursyid tersebut dengan cara berbai’at kepadanya, maka kita akan tidak pernah bisa mengenal Allah sampai tingkat ma’rifat.

Hambatan secara KEJIWAAN seperti inilah sebenarnya yang menghalangi seseorang untuk mampu mengarahkan kesadarannya kepada Allah. Setiap akan mencoba mengarahkan kesadarannya kepada Dzat yang tidak sama dengan apapun juga, maka jiwanya terhalang oleh rasa tidak bisanya, rasa sulitnya akibat dari dogma-dogma beragama yang kita dapatkan. Bahwa tidak mungkinlah kita meletakkan kesadaran kita kepada Allah. Itu adalah tingkatan untuk Rasulullah dan wali-wali Allah saja. Orang kebanyakan seperti kita ini tidak akan pernah bisa tanpa berbai’at kepada wali-wali Allah atau guru mursyid tertentu. Makanya, begitu kita mau berbai’at kepada seorang guru mursyid, maka kita seperti punya sarana untuk mengenal Tuhan. Dan saat itulah sebenarnya kita mulai sebuah proses ANTARA dalam mengarahkan kesadaran kita kepada Tuhan.

Sebelum berdzikir, seorang SALIK diminta dulu “membayangkan” wajah guru mursyid tertentu (proses washilah). Dengan cara itu, maka kita disugesti bisa terhubung dengan guru dari guru mursyid tersebut, seterusnya sambung menyambung sampai ke Rasulullah dan kemudian barulah ke Allah. Kalau afirmasi dan sugestinya sudah begini, maka sangat mudah sekali bagi seorang salik untuk jadi menangis, histeris, dan bahkan meronta-ronta dan tergetar dengan hebat.

Kenapa bisa…?. Karena begitu sang salik mulai membayangkan wajah guru mursyidnya, maka seketika itu juga kesadarannya “bergerak” dari segala problem dan kesulitannya sendiri menuju ke “wajah” sang guru mursyid tersebut. Secara otomatis pula, kesadarannya, walau hanya dalam bayangan sang salik saja, hanya tertuju kewajah sang guru mursyid. Dan dengan sentuhan kalimat kalimat dzikir yang memang punya daya yang sangat besar, sang salik bisa menangis histeris dengan hebat.

Lalu sejak saat itu semakin terikatlah jiwa seseorang dengan guru mursyid tersebut dalam perjalanannya mengantarkan kesadarannya kepada Allah. Dia tidak akan pernah bisa langsung mengarahkan kesadarannya kepada Allah tanpa melalui proses antara dengan membayangkan wajah guru mursyidnya. Artinya sebelum dia mengantarkan kesadarannya kepada alamat yang sebenarnya, yaitu Allah yang Immaterial, maka dia harus terlebih dahulu melalui proses antara dengan mengarahkan kesadarannya kepada wajah gurunya yang material dan terbayangkan. Jadi prosesnya mirip sekali dengan proses yang dilakukan oleh umat kristiani, hindu, dan budha seperti diatas.

Makanya kemudian ada aliran-aliran lain yang punya Objek Fikir Perantara pula dalam mengarahkan kesadarannya untuk mendapatkan kekhusyu’an dalam beribadah kepada Tuhan. Kelompok Ahmadiah, misalnya, punya foto-foto Mirza Ghulam Ahmad sebagai sarana untuk mengantarkan kesadarannya kepada Tuhan. Kelompok EDEN punya “sarana hidup” untuk mengarahkan kesadarannya kepada Tuhan, yaitu Lia Aminudin sendiri yang mengaku sebagai Malaikat Jibril. Ada juga kelompok-kelompok lain yang sengaja meletakkan foto guru mereka diruangan tempat mereka beribadah, sehingga dengan mudah mereka bisa mengarahkan kesadarannya keluar dari tubuhnya sendiri, sehingga dengan mudah bisa membuat mereka menangis dan khusyu’.

Yang lebih halus adalah kelompok syi’ah, yang punya objek perantara yang sangat unik dalam mengantarkan kesadaran mereka kepada Tuhan. Objek itu adalah Ahlul Bait Rasulullah SAW dengan segala penderitaan yang beliau-beliau itu hadapi. Dengan menyandarkan kesadaran kepada ahlul bait tersebut, penganut syi’ah mampu menaikkan kesadaran mereka sehingga seorang Syah Reza Fahlevi yang begitu kuatnya dapat tumbang dengan mudah ketika berhadapan dengan kekuatan masa syi’ah yang begitu solid. Pada tingkat yang ekstrim, umat syi’ah memperingati penderitaan Ahlul Bait tersebut dengan memukuli tubuh mereka sampai berdarah-darah sambil berjalan dan berzikir ramai-ramai di jalan raya. Ritual ini biasanya dilakukan untuk memperingati hari ‘Asyura, yaitu hari dimana cucu dan keluarga Nabi dibantai oleh sahabat-sahabat Nabi sendiri yang berseberangan politik dengan Ali Bin Abi Thalib Ra.

Untuk masalah proses antara ini, penganut syi’ah punya objek perantara lainnya yang tak kalah dahsyatnya, yaitu sebuah harapan yang sangat besar untuk kemunculan kembali IMAM MAHDI yang saat ini dipercayai mereka sedang GHAIB KUBRO. Imam Ahlul Bait ke 12 ini bersama-sama dengan Nabi Isa, dipercayai penganut paham Syi’ah dan sebagian penganut paham Sunni akan muncul kembali diakhir zaman nanti untuk memenangkan islam ketika terjadinya prahara sebelum kiamat. Penganut syi’ah sangat mempercayai bahwa Imam Mahdi saat ini tengah memainkan peran belaiu sebagai sosok yang sedang mengalirkan Rahmat Allah ke persada bumi ini. Berkat adanya Imam Mahdi inilah Allah masih mau memberkati bumi ini. Tapi walaupun begitu, ya sah-sah saja bagi siapapun juga untuk memakai paham yang seperti ini.

Selain dari semua itu, saat inipun sangat banyak bermunculan berbagai metoda untuk memudahkan seseorang dalam mengarahkan kesadarannya dari hanya sekedar ketubuhan saja ke kesadaran immaterial, yang dinamakan Tuhan. Sebutlah misalnya, dzikir bersama-sama, dzikir untuk pengobatan, do’a-do’a yang menghibakan dan menyentuh hati, metoda menggiring kesadaran orang dengan audio visual dan irama-irama musik yang mendayu-dayu berikut dengan dentuman suara bass yang sangat menggetarkan dada, sehingga banyak yang sampai bisa menangis tersedu-sedu. Namun dari berbagai macam cara itu, ada sebuah kesamaan yang samar untuk kesemuanya itu, yaitu adanya sebuah “proses antara” berupa “sentuhan emosional” yang kuat dari para pembimbingnya. Sentuhan emosional itu bisa berupa mengarahkan kesadarannya kepada dosa-dosa yang pernah dilakukan seseorang, atau kepada penderitaan ibunya yang membesarkannya, atau kepada keindahan alam, atau kepada seseorang yang pernah dia sakiti dulunya, atau kepada sakit yang telah dia derita sekian lamanya, dan sebagainya. Sungguh tak terhingga banyaknya proses antara yang bisa digunakan untuk memutar arah dari kesadaran seseorang keluar dari tubuhnya.

Nanti…, begitu kesadaran seseorang sudah tertuju kepada “objek fikir antara” berupa sentuhan emosional seperti itu tadi, lalu kemudian ditambahkan dengan untaian kalimat-kalimat thayyibah seperti tahmid, tahlil, takbir, dengan irama yang melengking tinggi maupun dengan menghiba-hiba, maka ribuan orang bisa dibuat menangis serempak. Saat menangis itulah seseorang akan merasa sangat dekat dengan Tuhan. Dia lalu akan berdo’a agar segala kesulitannya bisa berubah menjadi kemudahan, agar sakitnya bisa sembuh, agar perilaku buruknya berubah menjadi baik, agar segala problekatika hidupnya bisa terjawab setelah itu. Dan luarbiasanya lagi akibat adanya efek placebo yang menyentuh otaknya, seseorang seperti bisa mendapatkan apa yang dia inginkan. Penyakitnya sembuh, dadanya tenang dan bahagia, dan dia seperti merasa menjadi seseorang yang sangat dekat sekali kepada Tuhan. Dia merasa seperti telah berubah menjadi seorang yang sangat baik dihadapan Tuhan. Ya…, dia telah merasa menjadi seorang spiritualis sejati. Sungguh menakjubkan…

Lalu dengan cara seperti semua diatas, pertanyaan tentang Wajah Tuhan seperti apa dan berada dimana, tempat kemana kita harus mengarahkan kesadaran kita saat kita shalat dan dalam keseharian kita sudahkah terjawab…?. Bisakah semua proses diatas tadi membawa kita kealamat yang tepat tanpa syirik dan tanpa ada berbagai proses antara sedikitpun…?.

Untuk menjawabnya mari kita lanjutkan pembahasan ini sedikit lagi…

Wajah Tuhan itu ternyata adalah sangat sederhana sekali. Sebuah realitas saat mana semua “objek fikir antara” itu bisa kita buang jauh-jauh-jauh menjadi tiada, laa ilaha illallah…, dan seketika itu pulalah:

Wajah Tuhan MENYATA (AZH ZHAAHIRU),
Wajah Tuhan DISINI (Laa Syarkiyyah wala Gharbiyyah)
Wajah Tuhan SAAT INI (Tidak Ada awal Tidak Ada Akhir).
Lalu pancarkanlah semua sembah puja, do’a, dan harapan kita ke Wajah-Nya…

Kalau tidak begini, kalau masih ada “objek fikir antara” itu yang menghalangi, maka seketika itu pulalah:

Wajah Tuhan TERSEMBUNYI dan TERHIJAB (AL BATHIIN))
Wajah Tuhan DI ARASY (Dilangit ketujuh)
Wajah Tuhan NANTI (di Akhirat)

Namun HATI-HATILAH, karena saat Wajah Allah menjadi Tersembunyi (al Bathin), maka kita akan SANGAT MUDAH SEKALI menjadi TERSASAR (Syirik). Ya…, kita mudah sekali tersasar, sehingga semua sembah puja, do’a, dan harapan kita mampir dan tersasar dulu ke wajah sebuah objek fikir perantara…, walau pada saat yang sama kita masih menyebut Nama Allah….

Pilih yang mana…????. Semua sungguh tergantung kepada kita belaka dalam memilihnya…!!!, dan dengan pasti, seketika itu pula Allah akan mendorong kita untuk menjalani pilihan kita itu, destiny kita…!. Sehingga segala akibatnyapun kita sendiri pula yang akan menanggungnya dan merasakannya.

Wallahu a’lam

Monday, June 20, 2016

TENTANG IMAN

Berbicara tentang iman, percaya, dan istilah-istilah lainnya itu saya kira dulu itu adalah sebuah istilah yang sangat baku dalam agama Islam. Kalau iman itu secara doktrinasi ya begitu itu, kita paham atau tidak, maka kita dipaksa untuk beriman kepada sesuatu yang wajib kita imani itu. Misalnya beriman kepada Allah, beriman kepada Malaikat, dan seterusnya. Karena dipaksa, maka seringkali iman kita hanya sekedar iman ikut-ikutan saja.

Tapi sekarang pemahaman saya tentang iman kepada Allah itu menjadi sangat sederhana

Sunday, June 19, 2016

PENGKHIANAT TUHAN ( Bag 2 )

Kalau digambarkan "pergerakan" itu kira-kira adalah sebagai berikut:
AKU
(punya kehendak)
¯
GERAK TUNGGAL
(yang membawa kehendak : hidup, melihat, mendengar, merasa, tahu)
¯
Ujung Materi
¯
Unsur-Unsur, Partikel, Saripati Tanah
¯
Diri (Nafs)
(punya tubuh, indra, otak)
¯

Friday, June 17, 2016

PENGKHIANAT TUHAN

Sebagai orang yang punya sikap belajar dan berketuhanan, maka dari para patrapist diharapkan muncul wacana pemikiran yang menyegarkan. Wacana patrapist ini tidak harus sepi, karena sebuah wacana pada hakekatnya adalah sesuatu yang baru, sesuatu pemikiran yang tidak hanya jadi pengekor pemikiran masa lalu, akan tetapi juga menggambarkan kebaruan bahkan kemasadatangan ide. Karena pemikiran masa lalu bukanlah dikatakan sebuah wacana, akan tetapi lebih kepada paparan sejarah saja. Jadi wacana ini seharusnya diisi dengan pemikiran apa saja yang bisa melepaskan kita dari belenggu pemikiran masa lalu yang sempit (kejumudan pemikiran) menuju pemikiran yang universal. Kita hidup saat ini, dengan kondisi saat ini yang sungguh sangat kompleks.
Tugas kita apa...?.
Tugas kita adalah bagaimana agar kita bisa TAKLUK (patuh, tunduk, ISLAM) terhadap SUNNAH (kehendak hukum-hukum Tuhan, sunatullah) pada zaman kita sekarang ini, sebagaimana takluk dan patuhnya Rasulullah terhadap kehendak alamiah (sunatullah) di zaman Beliau. Artikel ini akan memuat secara berseri pengertian-pengertian tentang ISLAM, SUNNAH, AL QURAN, sehingga mudah-mudahan akan mampu memberikan gambaran UTUH tentang ajaran yang dengan susah payah ditegakkan oleh Rasulullah, akan tetapi kita ternyata tidak mampu untuk memeliharanya.
Pertama saya ingin menyampaikan sebuah renungan panjang saya tentang Islam dari masa ke masa. Bahwa yang ada di dunia Islam masa-masa lalu, bahkan juga untuk saat ini, boleh dikatakan belum ada yang mampu untuk memberikan sebuah gambaran UTUH tentang ISLAM. Karakter macam apa sebenarnya yang bisa mewakili kata ISLAM itu. Aliran-aliran besar yang ada, sebut saja: Syiah; Ahlusssunnah; Sufiah; atau gerakan-gerakan pemikiran yang berkembang saat ini seperti: NU, Muhammadiah, Hizbut Tahrir; Salafi; Tarbiyah; Jamaah Tablikh; LDII; dan puluhan gerakan-gerakan pemikiran lainnya, masih sangat jauh untuk dikatakan sebagai yang bisa mewakili KARAKTER ISLAMI yang diinginkan oleh Al Qur'an. Yang muncul dan yang ada saat ini adalah gerakan-gerakan yang keberadaannya diawali dengan pencomotan ayat Al Qur'an ataupun Al Hadits di sana sini, lalu comotan-comotan itu dijadikan sebagai landasan untuk membentuk sebuah jamaah. Jadi yang ada hanya sekedar aliran atau praktek-praktek keagamaan yang DIWARNAI oleh potongan-potongan ayat Al Qur’an dan Al Hadits.
Jadi Syiah bukanlah manifestasi dari ISLAM KAFFAH, begitu juga Sunni, dan Sufiah, apalagi kalau hanya sekedar Hizbut Tahrir, Salafi, Tarbiyah, Jamaah Tablikh, LDII, NU, dan Muhammadiah. Atau paling tidak semua ajaran, aliran, atau sekte itu SECARA SENDIRI-SENDIRI belumlah pantas untuk dikatakan sebagai manifestasi dari ISLAM secara KAFFAH. Karena Islam itu begitu indah dan sederhana, dan mendunia, dan merahmati seluruh alam semesta. Akan tetapi semenjak Rasulullah Muhammad SAW wafat sampai sekarang, belum ada lagi generasi penerus Beliau yang mampu mewujudkan dan membuktikan kesempurnaan Islam itu secara mendunia.
Di lain sisi, semuanya tahu akan keberadaan ayat yang menerangkan bahwa masuk ke dalam ISLAM itu harus secara KAFFAH (keseluruhan, totalitas). Akan tetapi sayangnya sampai saat ini diantara aliran-aliran yang ada itu belum ada yang mampu untuk memberikan gambaran karakter ISLAM KAFFAH itu secara utuh pula. Akan tetapi saat ditanya tentang bagaimana kaffah itu, maka jawabannya hanya nyaris berupa gumaman, atau suara galau dengan bunyi tak sedap seperti kita sedang berada dalam sebuah pasar tradisional. Suara tak sedap itu sebenarnya cukup mengganggu orang-orang yang berada di dalam pasar itu sendiri, apalagi bagi orang luar yang tersasar berada dalam lingkungan pasar itu. Kios-kios yang ada saling berlomba untuk menyetel lagu sekeras mungkin dan dengan berbagai irama pula, yang katanya untuk menarik pengunjung. Sungguh ramai, meriah sekali, namun sayangnya orang yang seharian berada di dalam pasar itu, bahkan besar di pasar itu, tidak sadar bahwa mereka sebenarnya sedang saling membuat bising dan ribut. Karena memang mereka sudah bersatu dengan suara bising dan ribut itu. Karena mereka sendirilah sebenarnya sang pembuat suasana tak nyaman itu.
Akan tetapi bagi orang-orang baru yang suatu saat tersasar ke pasar tradisional itu, mungkin secara tidak sengaja, maka besok-besoknya mereka tidak akan respek lagi untuk masuk kedalamnya, mereka akan menceritakan kepada teman-temannya bahwa pasar tradisional di lokasi A sangat hiruk pikuk, ribut, bau, dan serba tidak teratur. Sehingga lama-lama melalui kabar berantai (media masa), akan muncul penilaian masyarakat bahwa pasar tradisional itu adalah sebuah tempat yang tidak nyaman untuk dimasuki, apalagi kalau di dalam pasar itu banyak berkeliaran orang yang suka ngamukan. Akhirnya mereka meninggalkan pasar tradisional itu dan beralih memasuki pasar yang lebih teratur, misalnya toserba M atau R.
Karakter seperti di pasar tradisional inilah mungkin yang paling tepat untuk menggambarkan kondisi umat Islam yang ada pada saat ini...
Allah Pamer
Pada awalnya, lewat persaksian dan kesepakatan Manusia dengan Allah, Allah secara khusus telah meminta komitmen manusia atas “kepemilikan” Allah terhadap si manusia: “Bukankah Aku ini Tuhan-mu??”. Lalu dengan tergopoh-gopoh dan mantap si manusia menjawabnya: “benar ya Tuhan, saya bersaksi”. Sejak itulah sebenarnya si manusia siap untuk menyandang predikat DUTA ISTIMEWA Tuhan dan siap pula untuk menjalan tugasnya sebagai WAKIL TUHAN (khalifah) di tempat yang telah dipersiapkan, yaitu di bumi berikut dengan alam semesta yang mengitarinya.
Setelah itu Allah pamer kepada Malaikat tentang Duta Istimewa-Nya ini:
“Hai para makaikat, ini lho Duta Istimewa Ku untuk Ku jadikan sebagai WAKIL-KU dalam memakmurkan, mengelola dunia”.
Dan Allah meminta kepada para malaikat untuk menghormat sujud kepada Sang Duta Istimewa. Dengan melihat sosok duta ini, pada awalnya malaikat agak ragu dengan kualitas Duta Istimewa ini, jangan-jangan Sang Duta berkhianat seperti berkhianatnya Duta sebelumnya yang senang bersimbah darah satu sama lain. Sang Duta terdahulu lebih sering mengumbar bencana ketimbang memakmurkan dan mengelola lingkungannya. Akan tetapi keraguan malaikat ditepis dengan sentuhan lembut tetapi tegas kedalam wilayah pengertian malaikat:
“Aku lebih tahu apa-apa yang tidak kamu ketahui…”.
Tiada lain yang dapat dilakukan oleh malaikat selain patuh dan tunduk kepada perintah Tuhan. Malaikat dengan RELA lalu tunduk dan sujud kepada Adam, Sang Duta Istimewa.
Seiring dengan pengukuhan Adam Sang Duta Istimewa (manusia), untuk menyandang Tugas kekhalifahan di muka bumi, maka Allah telah melengkapi sang manusia dengan perangkat yang nyaris sama dengan milik Allah Sang Pengutus itu sendiri. Dengan perangkat yang diberikan itu, sang manusia bisa mencipta, berkreasi, mengatur, mengolah, menumbuhkan, menghancurkan, mematikan…, segala sesuatu yang berada dalam objek kekhalifahannya. Disamping itu, perangkat melihat, mendengar, merasa, dan mengetahui juga difasilitasi Allah kepada Sang Duta Istimewa dengan sangat mengagumkan dan dengan fungsi yang nyaris tidak terbatas pula. Dengan segala sifat, tindakan, dan kemampuan yang difasilitasi itu, maka Sang Duta Istimewa mulai secara gradual menciptakan kebudayaan demi kebudayaan yang berkembang dari tingkat yang sangat sederhana sampai dengan tingkat yang sangat mengagumkan saat ini, dan bahkan masih akan berlanjut untuk masa-masa yang akan datang.
Setidak-tidaknya ada sekian puluh sifat-sifat “Sang Presiden” yang bisa di sandang dan dipakai pula oleh Sang Duta Istimewa. Semua sifat, laku dan pekerti itu sebenarnya hanyalah sebagai mandat yang diberikan kepada Sang Duta Istimewa, dan untuk sementara pula, untuk mewakili Sang Presiden di wilayah tempat mana dia dikirim. Setiap saat Sang Duta harus melaporkan, mempertanggung-jawabkan setiap pemakaian sifat Presiden yang dia lakukan. Setiap saat dia harus lapor diri kepada Presiden atas apa-apa yang telah dia perbuat, dia lakukan, dia hancurkan, dan sebagainya. Secara regular Sang Duta harus berterima kasih atas kepercayaan yang telah diberikan oleh Presiden kepadanya. Secara kontinu, Sang Duta sudah sewajarnya membesarkan nama Presiden yang memberinya kesempatan untuk mewakili Sang Presiden.
Berbilang zaman kemudian berlalu dengan cepat. Dan dengan cepat pula Sang Duta Istimewa (seluruh manusia secara kolektif) mulai berkhianat terhadap Sang Presiden yang mengangkatnya. Satu persatu sifat Sang Presiden mulai “diaku” oleh Sang Duta Istimewa sebagai miliknya sendiri. Sifat-sifat Sang Presiden yang selalu menjaga dua sifat yang berbeda berada dalam keseimbangan, misalnya panas dan dingin, baik dan buruk, Im dan Yang, mulai di acak-acak oleh Sang Duta Istimewa. Padahal bagi sang pemilik sifat itu sendiri, yaitu Presiden, ke 99 sifat itu berada dalam suasana dan kondisi yang sangat-sangat seimbang. Keseimbangan inilah yang telah membuat alam semesta ini selalu bergerak dan berkembang dalam keharmonian. Dan dengan nyata kemudian, masa demi masa protes malaikat terhadap pengutusan duta istimewa dulu itu seperti terbukti dengan sangat meyakinkan. Sang Duta Istimewa memang berkhianat. Sang Duta Istimewa lalu lebih cocok dipanggil sebagai Sang Pengkhianat Tuhan, dibandingkan dengan Khalifah Tuhan (duta istimewa Tuhan). Adalah sebuah hal yang logis saja kalau Sang Pengkhianat lalu di hukum oleh Sang Pengutusnya. Dan siksa dan hukuman itulah yang kini sedang dialami oleh hampir semua umat manusia, kecuali bagi duta-duta yang tidak berkhianat.
Duta macam apakah yang tidak berkhianat itu….?,
Apa sebenarnya sumber dari pengkhianatan itu…?.
Genderang pengkhianatan duta-duta istimewa Tuhan, yaitu manusia, berlanjut dengan mulus tanpa hambatan. Tidakkah dengan pengkhianatan ini praduga malaikat terbukti bahwa saat Allah memperkenalkan duta istimewa pertama-Nya yaitu Adam, nanti Sang Duta ini akan berkhianat dan melenceng dari tugas kekhalifahan menjadi tugas pengkhianat dan penumpah darah…?.
Gerangan apakah penyebabnya sehingga Sang Duta-Duta Istimewa itu terjerumus ke dalam jurang pengkhianatan itu…?.
Untuk mencari akar penyebab pengkhianatan itu, maka mari kita bongkar dan urai point demi point dengan santai saja…!.
Sang Pengkhianat Tuhan
Nah dengan segala fasilitas yang sangat sempurna sebagaimana telah diuraikan pada bagian sebelumnya, maka Sang Duta Istimewa mulai lupa, bahwa semua itu hanyalah amanah yang dipinjamkan sementara kepada Sang Duta Istimewa. Yang namanya amanah, ya nggak boleh diaku sebagai miliknya sendiri. Tetapi itulah……!!:
Saat Sang Duta berhasil mencipta dan berkreasi, maka dia dengan angkuh mulai mengaku: “Ini ciptaan dan kreasiku..”.
Saat Sang Duta berhasil mendapatkan sesuatu, maka dia dengan jumawa mulai mengaku: “Ini milikku…”.
Saat Sang Duta merasa terganggu, maka dengan garang dia mulai meradang: “Kau melawanku, maka kau ku hancurkan…”.
Saat Sang Duta betah menikmati kekuasaannya, maka dia mulai berteriak angkuh: “Ini kekuasaanku… ini kerajaanku…, ini perusahaanku…,
Saat Sang Duta mampu melihat, mendengar dan mengetahui, merasakan segala sesuatu, maka dengan pongah dia mulai mengaku: “Ini penglihatanku…, ini pendengaranku…, ini pengetahuanku…, ini perasaanku…,
Lengkap sudah pengakuan itu…, semua diaku sebagai milik dari Sang Duta itu sendiri.
Padahal…!!!! :
Hakikinya penciptaan dan kreatifitas itu adalah proses yang dilakukan oleh Sang Pengutus, Allah, itu sendiri yang dialirkan-Nya melalui otak Sang Duta Istimewa,
Sebenarnya segala sesuatu itu adalah milik Sang Pengutus itu sendiri yang dialirkan-Nya melalui otak Sang Duta Istimewa,
Seyogyanya segala kekuasaan, kerajaan, perusahaan adalah milik Sang Pengutus itu sendiri yang dialirkan-Nya kepada otak dan diri Sang Duta Istimewa,
Sebenar-benarnya segala penglihatan, pendengaran, tahu, dan perasaan adalah kepunyaan Sang Pengutus yang dialirkan-Nya melalui otak, mata, telinga, dan dada Sang Duta Istimewa.
Sebutlah apa saja yang bisa dinikmati oleh Sang Duta Istimewa…, maka pada hakikatnya semua itu adalah milik Sang Pengutus, Allah, yang dialirkan-Nya kepada diri (nafs) Sang Duta Istimewa. Jadi Sang Duta Istimewa hanyalah SEAKAN-AKAN, SEPERTINYA saja memiliki semuanya itu. Karena dia memang hanyalah sebagai wakil, sebagai wali, sebagai sarana bagi terlaksananya segala kreativitas dan keramaian yang diciptakan oleh Sang Pengutus bagi setiap ciptaan dan kreasi-Nya.
Karena sebenarnya yang terjadi adalah, bahwa Allah mengalirkan segala sifat dan pengetahuan-Nya ke dalam otak manusia untuk misalnya, menciptakan pesawat terbang, kapal laut, pabrik baja, dan sebagainya. Allah bermain sepak bola, golf, dsb., lewat aliran keinginan dan gerak ke dalam otak manusia.
Begitu juga untuk membangun, merangkai, menyusun, bahkan untuk menghancurkan kebudayaan manusia melalui aliran tahu dan sifat-Nya ke dalam otak manusia itu sendiri. Misalnya, Allah menghancurkan Irak, Afghanistan, Al Qaeda melalui aliran otak Bush beserta konco-konconya, dan otak Saddam Husein, Hikmatiar, Osama Bin Laden sendiri. Allah menghancurkan penganut agama Islam pasca Rasulullah melalui otak Ali, Usman, Aisyah, Umaiyyah, dan sahabat-sahabat lainnya serta umat Islam sendiri dari dulu sampai sekarang. Ungkapan ini sepintas seperti membingungkan, akan tetapi nanti pada bagian lain akan dibahas lebih detail, bahwa kehancuran umat Islam pasca Rasulullah adalah karena mereka tidak pernah mau mengikuti maunya Al Qur’an dan Sunnah. Padahal dengan semangat 45 semboyan umat Islam itu adalah “selalu berpedoman kepada Al Qur’an dan Sunnah” itu sendiri. Nanti akan saya bahas pada bagian berikutnya tentang sumber kekeliruan pemahaman yang sudah sangat kronis ini.
Mari kita kembali dulu kepada serba serbi Sang Pengkhianat Tuhan…
Setelah duta istimewa (manusia) ini melakukan pengkhianatan kepada Tuhan, dimana Sang Duta sudah tidak menyadari lagi, bahkan sudah tidak mampu lagi untuk mengembalikan kesadarannya, bahwa apa-apa yang dia miliki sebenarnya (hakikinya) hanyalah gerak Tuhan, pengetahuan Tuhan, tahu Tuhan, milik Tuhan, penciptaan Tuhan, maupun penghancuran Tuhan melalui ALIRAN dari-Nya ke dalam otak manusia untuk membangun peradaban di dunia ini, maka proses sunnah pun berlangsung tanpa bisa dihentikan lagi. Akibatnya, segala sesuatu tindakan Sang Duta Istimewa lalu cenderung mengarah kepada pembentukan suasana ketidak-keseimbangan dalam hukum-hukum Tuhan (sunnah) dan sebagai konsekwensinya dia pasti terkena libasan dahsyat sunnah itu sendiri.
Maka jadilah manusia itu tidak mampu lagi memanfaatkan mandatnya untuk memakai sifat-sifat Tuhan sebagai duta istimewa untuk mewujudkan kemakmuran dan kemajuan dirinya sendiri. Sifat-sifat dan tindakan-tindakan Tuhan yang seharusnya bisa membuat keseimbangan antara penciptaan dan penghancuran, penghukuman dan kasih sayang, memelihara dan merusak, menyempitkan dan melapangkan, memuliakan dan menghinakan, penyiksa dan pemaaf, pemberi derita dan pemberi manfaat, dan sebagainya, lalu mengalir melalui otak manusia dalam suasana timpang dan tidak seimbang lagi.
Saat manusia berkuasa, misalnya, akan tetapi pada saat itu dia berada dalam posisi pengkhianat kepada Tuhan, maka ketika itu dia akan cenderung hanya bisa menerima aliran sifat dan tindakan Tuhan melalui otaknya yang mengarah kepada situasi penghancuran, merusak, menyempitkan, menghinakan, mematikan, penyiksa, pemberi derita dan perilaku negatif lainnya. Sedangkan perilaku dan sifat-sifat sebaliknya yang positif seperti memelihara, melapangkan, memuliakan, pemaaf, pemberi manfaat menjadi tenggelam ke dalam hati kecilnya yang terdalam. Hati kecilnya itu hanya bisa megap-megap seperti kehabisan nafas dan tak mampu berbuat apa-apa untuk membalik keadaan agar bisa menjadi mengarah kepada kebaikan.
Apa akibatnya?
Akibatnya adalah :
Saat dia berkuasa dalam sebuah rumah tangga, maka rumah tangga itu akan menjadi neraka kecil dalam kehidupannya.
Saat dia berkuasa pada sebuah perusahaan, maka perusahaan itu akan runtuh dan tinggal nama dalam beberapa waktu lagi.
Saat dia berkuasa pada sebuah negara atau wilayah, maka wilayah itu akan bisa dipastikan menjadi hancur dan menyedihkan bagi rakyat yang di bawah perintahnya.
Ketidakpatuhan Kolektif
Disamping pengkhianatan kepada Tuhan dalam bentuk PENGAKUAN atas kepemilikan Tuhan oleh Sang Duta Istimewa, masih ada lagi sebuah pengkhianatan lainnya dalam bentuk KETIDAKPATUHAN KOLEKTIF manusia atas SUNNAH atau hukum-hukum Tuhan (sunnatullah). Pengkhianatan dalam bentuk ketidakpatuhan kolektif ini lebih disebabkan oleh gagalnya manusia memahami makna sunnatulah seperti apa adanya dan apa yang seharusnya. Kesalahan pemahahaman manusia ini lebih disebabkan oleh paradigma berpikir yang keliru dalam mengartikan sunnah yang tercantum dalam kitab-kitab suci yang diturunkan kepada manusia itu sendiri, sehingga sunnah itu menjadi sempit dan kadaluarsa dimakan perputaran zaman.
Dalam agama Islam, misalnya, sunnah yang terkumpul dalam bentuk Al Qur’an dan Aal Hadits, telah dipahami oleh hampir sebagian umat Islam sebagai dua sumber hukum yang sangat tinggi tingkatannya sebagai pedoman bagi manusia dalam menjalankan fungsi kekhalifahannya di muka bumi ini. Sampai disini sebenarnya tidak ada yang salah. Akan tetapi dalam pemahaman dan kenyataannya, dari masa ke masa sunnah itu seperti TUMPUL dan tidak mampu menjawab tantangan peradaban dizamannya. Bahkan berbilang zaman, pemahaman sunnah itu seperti tidak mampu membangun peradaban yang katanya “ya’luu walaa yu’laa alaihi” bahwa agama dan peradaban Islam itu tinggi dan tidak ada yang menandingi ketinggiannya. Slogan manis ini hampir-hampir saja menjadi ungkapan kosong yang tak terbukti (utopia) dalam kehidupan nyata bagi pemeluknya. Jauhlah panggang dari api…
Kenapa bisa begini…?
Apakah Al Qur’an dan Al Hadits itu sudah tidak sesuai lagi dengan Sunnatullah….?. Astagfirullahal adhiem…, ini tentu sebuah ungkapan yang mengerikan.
Akan tetapi, kalau tidak begitu kenapa hasilnya seperti tidak ada ….???.
KEMUNGKINAN PENYEBABNYA
Dalam aliran pengertian dan informasi yang masuk ke dalam otak saya, ternyata sumber semuanya itu adalah karena telah terjadinya kerancuan paradigma berfikir bagi penganut agama Islam terhadap kedua sumber hukum tadi yaitu Al Qur’an dan Al Hadits yang sudah sedemikian lamanya dan turun temurun serta diwariskan pula kekeliruan itu dari waktu ke waktu. Artinya telah terjadi ketidakpatuhan kolektif mayoritas umat Islam terhadap pemahaman dan pelaksanaan sunnah yang mereka agung-agungkan sendiri itu.

Diantaranya adalah:
1. Pemahaman-pemahaman tentang problematika kekinian peradaban
Umat selalu mau dibawa dan ditarik kembali menuju peradaban sederhana kalau tidak mau dikatakan primitif di zaman Rasulullah, sahabat, dan salafus shalih dahulu kala. Kalau tidak ada contoh dari zaman-zaman Nabi dan salafus shalih tersebut, maka sebuah senjata pamungkas yang menakutkan kemudian dikeluarkan: “Itu adalah BID’AH, setiap BID’AH adalah sesat, dan setiap kesesatan imbalannya adalah NAARRRR (NERAKA)”. Cerdas benar orang yang telah memelintir senjata yang sebenarnya sederhana ini menjadi sebuah senjata pamungkas sehingga perkembangan umat Islam menjadi mandeg dalam segala hal. Sehingga umat Islam lalu menjadi bulan-bulanan atas ketakutan mereka sendiri untuk menjalankan kekinian yang sangat jauh berbeda dengan zaman salafus shalih dulu itu.
Padahal makna Bid’ah yang diganjar dengan neraka itu, kalau masih mau dipakai, hanyalah sebatas yang berhubungan dengan ritual ibadah seperti shalat, haji, puasa, dan pada taraf tertentu adalah mengenai harta. Sedangkan untuk membangun sebuah kebudayaan, maka boleh dikatakan semua asesorisnya adalah baru, BID’AH. Jadi untuk membangun kebudayaan itu, maka boleh dikatakan semuanya adalah BID’AH, karena nyaris semuanya tidak ada contohnya di zaman Nabi dan salafush shalih dulu.
Bagaimana mungkin sebuah BUDAYA (dengan segenap asesorisnya) di zaman kosmopolitan seperti sekarang ini mau ditarik mundur menuju peradaban sederhana di zaman Nabi dan salafush shalih itu…??. Kalau pun ada yang mengatakan itu bisa, maka hasil yang akan didapatkan adalah sebuah peradaban yang menjadi tontonan orang banyak karena keanehannya.
Disamping itu, bagaimana mungkin budaya umat Islam yang berasal dari berbagai bangsa dengan budaya dan peradaban yang berbeda mau dibawa dan ditarik menjadi sebuah budaya berbau ARAB, misalnya keislaman seseorang masih mau ditandai dengan atribut-atribut seperti memakai gamis, bersorban, dengan tasbih di tangan, dan siwak menempel di mulutnya pula. Pada aliran-aliran tertentu malah, seorang ulama, Kyai Haji, ustadz akan merasa belum afdhal kalau dia belum terlihat seperti figur WALI SONGO dalam sinetron di TV. Padahal dulunya Abu Jahal, Abu Lahab, dan pembesar-pembesar Quraisy penentang Nabi juga memakai gamis dan bersorban pula. Apa bedanya kalau begitu, kalau masih terpaku dengan atribut lahiriah belaka..?. Bahkan baju gamis yang dianggap sebagai ciri khas kelompok-kelompok tertentu di Indonesia ini ternyata di Pakistan dan Afghanistan sana juga dipakai oleh tukang sampah dan petani-petani untuk ke sawah.
Banyak lagilah kerancuan umat Islam dalam pemahaman kata BID’AH dan perubahan kebudayaan ini, sehingga terlihat benar bahwa sebagian besar umat Islam lalu menjadi serba salah, serba kikuk, serba terbata-bata, dan gagap budaya.
Tentang BID’AH ini, ada hal lain yang menarik, yaitu mengenai praktek-praktek yang sangat lazim di masyarakat Indonesia, yang meliputi fenomena keparanormalan dengan segala variannya. Masyarakat awam boleh dikatakan sangat menikmati dan mempercayai sensasi-sensasi mistis di dunia paranormal ini. TV pun berlomba-lomba menampilkan acara-acara yang bagi penggemarnya selalu ditunggu-tunggu walaupun ulama dan da’i sampai serak berteriak-teriak di mimbar khotbah mengatakan bahwa semua itu adalah BID’AH, SYIRIK, HARAM. Cap bid’ah ini juga diberikan terhadap acara-acara budaya atau kebiasaan masyarakat seperti ziarah kubur, pengobatan alternatif dengan segenap macamnya (ulama mengkategorikannya sebagai perdukunan), kepercayaan tentang roh-roh gentayangan, sihir, mantra-mantra, dan praktek-praktek lainnya yang bersinggungan dengan praktek budaya dan praktek ibadah agama Budha dan Hindu. Walaupun telah dimasyarakatkan oleh MUI (sebagai wakil formal ulama) bahwa semua itu adalah BID’AH, akan tetapi tetap saja masyarakat umum secara mayoritas mengakuinya, mempraktekkannya walau kadangkala dengan malu-malu kucing. Sehingga ada kesan bahwa loyalitas dan kepatuhan masyarakat terhadap ulama sudah sangat lemah. Ulama berkata apa, umatnya prakteknya lain lagi.
Bahkan ada yang lebih aneh lagi, praktek dzikir ustadz Arifin Ilham, Aa Gym, ustadz Haryono dan beberapa praktek serupa seperti dalam tasawuf (tarekat) juga ada yang membid’ahkannya, sehingga yang bingung ya…. umat sendiri, yang akhirnya mereka rancu sendiri…, nggak tahu mana yang benar.
Kenapa sampai begini…?.
Jawabannya sangatlah sederhana, bahwa umumnya masyarakat sudah tidak mampu lagi untuk merasakan kelezatan cita rasa beragama. Tegasnya agama itu tidak ada rasanya lagi. Yang ada hanya ketakutan demi ketakutan atas hukuman Tuhan akibat paradigma yang menjadikan agama hanya sebatas kepatuhan terhadap perintah dan larangan Tuhan dan Nabi (yang dalam khotbah-khotbah dijadikan sebagai definisi TAQWA). Dan juga yang dicari dalam beragama itu pada umumnya hanyalah sebatas pahala dan syurga, tetapi dimensinya untuk di akhirat nanti. Di dunia ini…?, ya utopia saja sudah cukuplah. Dan biasanya orang-orang utopia inilah yang lebih banyak bingungnya, lebih banyak menyalah-nyalahkan orang lain dengan semangat 45 pula.
Akibatnya mana mungkin sebuah bentuk praktek agama yang hasilnya hanya sebatas utopia bisa menggantikan suatu praktek budaya atau ritual keagamaan yang ada RASA-nya…???. Tidak mungkinlah…!!!.
Ditingkat rasa inilah sebenarnya para pemraktek ritual mistis keagamaan lebih banyak berada (kalau tidak mau dikatakan semuanya), seperti dzikir berjamaah, tasawuf, paranormal dan fenomena sejenisnya. Praktek aliran SYI’AH-pun berada diwilayah ini, yaitu dengan menimbulkan rasa cinta yang sangat dalam dan pekat terhadap Ahlul Bait, bahkan untuk generasi terkini masuk juga seorang Khomeini didalamnya. Apalagi pengagungan dan pemujaan berlebihan penganut Syi’ah ini terhadap Rasulullah, sungguh menakjubkan sekali. Sampai-sampai pernah ada yang mencoba MEMBANDINGKAN Muhammad SAW dengan Nabi yang lainnya dan kesimpulannya adalah bahwa Nabi Muhammad is the best among them. Disamping itu, walaupun misalnya penganut Syi’ah di Indonesia belum pernah bertemu dengan Ahlul Bait ataupun dengan Imam Khomeini ini, penganutnya bisa menangis histeris walau hanya dengan “mengingat-ngingat” atau membaca riwayat penderitaan, kegagahan, kegigihan dan pemikiran beliau-beliau itu.
Ada RASA di dalam kecintaan itu…!!!
Ada tangis disitu…!!!
Ada ekstasis disitu…!!!
Sehingga para pencari rasa dalam beragama akan ketagihan untuk mendapatkan dan mendapatkan lagi sensasi RASA itu. Kalau mereka sudah merasakan RASA itu, maka pengamalnya akan mencarinya kemana pun dan kapan pun agar rasa itu bisa muncul lagi. Efek ketagihannya hampir sama dengan ketagihan orang terhadap rokok ataupun narkotik. Dan akibatnya jadilah mereka penganut aliran yang terikat kuat dengan alirannya itu. Dilarang-larang…?? Woou mereka bisa membunuh orang yang melarangnya itu…!!!.
Fenomena apakah ini…??
Apakah ini salah atau benar…??.
Mari kita bahas sedikit lebih detail.
Rasa, tangis, histeris, dan bahkan bergemuruhnya dada serta bergetarnya tubuh, ternyata barulah sebatas sensasi FISIK dan EMOSI saja. Untuk mendapatkannya maupun efek serta pengaruh yang muncul bagi pemrakteknya hampir-hampir tidak ada bedanya sama sekali diantara penganut agama-agama yang ada. Semua bisa merasakannya, tak terkecuali orang atheis sekali pun. Siapa pun yang berhasil menahan gejolak badai fikiran di otaknya dan menujukan arah fikirnya hanya kepada suatu objek saja, maka dengan memberikan sedikit sentuhan irama dan kata-kata yang menghiba-hiba ataupun yang membahagiakan, maka hampir pasti orang itu akan menangis bahkan bisa sampai taraf histeris. Emosional saja sebenarnya sifatnya.
Akan tetapi sekarang, baru sampai pada taraf menangis ini sudah diartikan oleh banyak orang sebagai sebuah PERISTIWA SPIRITUAL. Dan orang sudah bangga dengan itu…!!!
Ooo…., saya sudah bisa menangis dengan melakukan praktek dzikir ini-itu…
Aduh… hati saya menjadi damai setelah dzikir di tempat anu dan saya bisa menangis disitu…!!!.
Selama rasa itu masih ada, maka selama itu pula orang itu akan merasa sangat beragama, sangat merasa bertaqwa, merasa imannya sedang naik, dan merasa menjadi orang baik.
But…, sssttt… let me tell you a little secret…..

Biasanya orang yang sedang menikmati sensasi rasa ini mukanya kelihatan KUYU, tidak bersemangat, maunya duduk mojok dan bersunyi-sunyi diri (mirip Rabiah Al Adawiyah, seorang sufi perempuan yang terkenal dengan kecintaan Beliau kepada Tuhan dan menyebabkan Beliau selalu mengurung diri d ikamar dan menangis terus dan tidak mau nikah seumur hidup Beliau). Dan … believe it or not, biasanya setelah itu, tak lama kemudian, rasa itu akan hilang kembali. Akibat rasa ini kendor atau malah bisa hilang sama sekali, maka orang yang baru sampai di wilayah rasa ini, akan merasakan imannya seperti sedang turun, ketaqwaannya sedang di uji, sehingga dia akan kembali mencari rasa itu kemana pun dan kapan pun. Sensasi turun naiknya rasa ini kemudian dalam istilah agama disebut sebagai terbolak-baliknya hati, atau turun naiknya iman yang lokasi keberadaannya adalah di dada. Istilah populer untuk lokasi tempat terjadinya proses ini adalah QALBU (hati).
Makanya lalu muncul istilah-istilah seperti Manajemen Qalbu, pembersihan hati, dan yang sejenisnya. Intinya adalah bagaimana menjaga dan mengatur agar RASA tadi tidak lagi bolak balik. Akan tetapi disinilah muncul masalahnya, bagaimana kita akan bisa mengelola dan mengatur sebuah SIFAT (QALBUN) yang memang telah disiapkan sejak awal oleh Allah untuk terbolak-balik seperti itu, seperti telah disiapkannya sifat panas dan dingin, gelap dan terang, tetapi tetap selalu berada dalam sebuah harmoni kehidupan…
Salahkah rasa ini…?.
Cukupkah beragama itu hanya sampai pada sebatas pencapaian RASA itu saja…??. Lalu bagaimana… ?.
Tidak ada yang salah dengan adanya sensasi RASA dalam beragama ini. Karena rasa itu adalah sesuatu pengalaman yang sangat empiris, sama empirisnya dengan benda-benda NYATA seperti air, tumbuhan, udara, dan sebagainya. Akan tetapi mungkin hanya sedikit orang yang bisa menyadari bahwa dalam beragama tidak cukup hanya sebatas pada pencarian RASA. Rasa itu perlu, akan tetapi pada wilayah rasa ini pulalah tempatnya jebakan yang sangat memabokkan penikmatnya. Rasa itu adalah sebuah wilayah yang penuh dengan seribu macam jebakan yang sangat mengganggu. Dengan rasa orang bisa mencintai “suatu objek” tempat mengalirnya rasa cinta itu mulai dari kadar yang sederhana seperti mencintai benda-benda seni, binatang peliharaan, tumbuh-tumbuhan hias, sampai dengan kadar yang sangat pekat seperti mencintai anak, istri, suami, atau pacar.
Bahkan ada juga rasa cinta dengan kadar yang sungguh mengagumkan dan nyaris tanpa reserve kepada objek cintanya seperti yang diperlihatkan oleh penganut suatu aliran dalam mencintai Nabi Muhammad dan imam-imamnya seperti ungkapan berikut:
“Imam adalah inti dan jantung dunia wujud. Tanpa keberadaannya, dunia akan hancur dan sirna. Oleh karena itu, keberadaan imam kendati ghaib adalah lazim dan merupakan sebuah keharusan. Sebagaimana manusia dapat mengambil manfaat dari matahari yang bersembunyi di balik awan, begitu juga manusia dapat merasakan anugrah wujud ghaib beliau. Di samping itu, pada masa ghaib tidak sedikit orang yang memiliki kebutuhan dan hajat yang terlaksana berkat uluran tangan dari wujud Imam as. Begitu juga wujud Imam merupakan penyebab tumbuhnya harapan manusia, sekaligus faktor penting dalam mensupport manusia dalam pembersihan jiwa dan persiapan untuk kemunculan beliau as.”(SAL, Aqidah Syiah, hal 102).
Dengan kadar cinta yang sangat luar biasa seperti ini, maka sudah tidak jelas lagi BEDA ARAH OBJEK RASA CINTA antara mana yang cinta kepada ALLAH, mana yang kepada Muhammad, mana yang imam-imamnya. Semuanya bersatu berpilin-pilin kusut dalam sebuah laku syariat yang dipraktekkan oleh penganut aliran tersebut. Dan hari-hari para pencinta ini akan di isi dan dikendalikan oleh rasa cinta terhadap objek itu yang bagi orang lain mungkin terlihat aneh dan berlebih-lebihan.
Pada bagian sebelumnya sudah diulas secara singkat tentang ada pula orang, kelompok atau aliran yang mencoba mengalirkan rasa cintanya hanya kepada ALLAH seperti yang diperlihatkan oleh sufi wanita Rabiah Al Adawiyah. Dengan rasa cinta yang membara kepada Allah, maka sang sufi hanya asyik masyuk dengan “pendekatannya” kepada Allah dan di lain pihak meninggalkan fungsi kekhalifahannya untuk membangun dan menjadi rahmat bagi alam semesta.
Dengan rasa pulalah orang bisa membenci, memusuhi, menyiksa, bahkan sampai membunuh orang lain, serta menghancurkan sebuah kebudayaan atau bangsa. Saat muncul sebongkah rasa tidak senang seseorang atau sekelompok orang atau aliran terhadap orang lain karena orang lain itu menghalangi munculnya rasa enak dan ekstasis pada dirinya melalui sebuah praktek agama atau kejiwaan, maka saat itu pulalah sebuah power yang sangat dahsyat mulai diciptakan dan siap untuk dimuntahkan kepada lawannya. Dunia Islam sudah sangat kenyang dengan pengalaman membanjirnya darah merah akibat penganut aliran-aliran atau sekte-sekte di dalam agama Islam saling terjebak dengan sensasi RASA ini (nanti pada bagian tersendiri akan ditambah dengan uraian terjebaknya aliran-aliran ini dalam INTELEKTUALITAS tentang pemahaman Al Qur’an dan Al Hadits).
2. Sejarah Hitam …
Awal sejarah hitam ini telah dimulai oleh sahabat-sahabat Nabi tak lama setelah wafatnya Nabi. Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Ai’syah, dan Mu’awiyah, adalah sedikit nama dari ratusan bahkan ribuan nama-nama lainnya yang telah menorehkan tinta merah dalam sejarah perjalanan Islam dengan terciptanya dua aliran utama (mainstream) di dalam Islam yaitu Ahlussunnah (Sunni) di satu sisi dan Syi’ah di sisi lainnya, yang masing-masing mengklaim bahwa yang MURNI ISLAM itu HANYALAH kelompok mereka. Masing-masing sisi mencap sisi lawannya sebagai KAFIR. Syi’ah menganggap penganut Sunni sebagai KAFIR, SESAT, TERLAKNAT, dan darah pembelotnya pun halal untuk ditumpahkan (lihat … Mengapa saya keluar dari Syiah, hal X, Sayyid Husain Al Musawi). Dipihak lain, Sunni pun mencetak label KAFIR, SESAT kepada aliran Syi’ah ini dan darahnya halal untuk ditumpahkan (lihat… Sikap Syi’ah terhadap Al Qur’an, hal 53, Ahmad bin Abdullah Al-Hamdan).
Dan yang sangat mengagumkan lagi, varian dari dua aliran besar inipun bermunculan dengan pesat. Jumlahnya mungkin sampai ratusan varian yang membuat kebesaran ISLAM, AL QUR’AN, Muhammad SAW, menjadi hanya sebatas pengertian pihak Sunni saja, atau pihak Syi’ah saja, atau pengertian dari pihak varian aliran-aliran yang muncul bak cendawan di musim hujan. Karena Islam itu TELAH menjadi kecil terkotak-kotak dan tersayat-sayat, maka ISLAM itu dengan cepat menjadi seperti lentera yang kehabisan minyak, dan dengan mudah dikalahkan oleh bangsa-bangsa lainnya. Islam telah terkapar tak berdaya akibat tingkah penganutnya sendiri.
Aneh bin ajaibnya, “semangat” penorehan tinta darah itu sepertinya mau dipertahankan dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Saat inipun generasi penerus penoreh tinta merah itu exist bergerak dengan sangat intens, dan tetap akan tetap exist selama tidak adanya niat diantara mereka untuk melakukan “REKONSTRUKSI BERFIKIR” terhadap ISLAM itu sendiri.
Kalau begitu, adakah JALAN KELUAR (MAKHRAJA) dari dahsyatnya pengaruh JEBAKAN RASA ini…???. Jawabannya adalah …, ADA….!!!.
Untuk bisa terbebas dari jebakan RASA ini, maka jalan satu-satunya adalah dengan KELUAR dari WILAYAH RASA itu yang berada di DADA (SUDUR, QALB). Wilayah dada ini adalah sebuah wilayah yang disebut juga TUNGKU PERAPIAN, TUNGKU PENYIKSAAN, dan sekaligus juga adalah RUANGAN PEMBEKU buat manusia di dunia ini. Di tungku inilah adanya ruangan panas dan dingin, ruangan benci dan rindu, ruangan iman dan kufur, yang akan selalu muncul silih berganti mendera setiap manusia. Kalau tidak mau terjebak dalam ketidaktetapan sifat ini, maka keluarlah dari sana. Karena kalau hanya sekedar di manajemeni, di bersih-bersihkan, ditekan-tekan, maka yang akan mucul selalu sebuah sifat yang terbolak-balik, suasana rasa yang turun-naik antara baik dan buruk. Suasana yang menyiksa diri sendiri
3. Kebingungan Spiritual…
Nah…, perjalanan keluar dari tungku perapian inilah yang disebut dengan peristiwa SPIRITUALITAS, yaitu sebuah proses PERJALANAN (MI’RAJ) untuk menemukan wilayah DIRI Universal (Muthmainnah):
“Diri yang tidak terpengaruh lagi oleh gejolak dan prahara tungku perapian. Diri yang selalu menerima pencerahan. Dan Diri itu lalu…, selalu mengarah kepada sang Penciptanya”.
Diri dengan ciri seperti inilah yang disebut sebagai diri yang tenang, Diri yang tahu memanfaatkan tungku perapian itu untuk “memasak” dunia (tanpa dia sendiri ikut terbakar didalamnya), sehingga peradaban di dunia itu menjadi berkembang dari waktu kewaktu dengan sangat menakjubkan. Akan tetapi Diri itu sekaligus juga bisa mendinginkan dan membekukan dunia (tanpa dia ikut membeku di dalamnya).
Ya…, diri yang tenang ini seperti terpisah dari prahara akibat panas dan dingin yang berlebihan dari proses pembentukan peradaban itu. Sehingga peradaban itu berubah menjadi sebuah hidangan lezat untuk dinikmati. Sebuah peradaban yang tidak panas dan tidak dingin, peradaban yang bisa mengalir membelah zaman membawa muatan yang merupakan realitas dari PAHALA atau umpan balik buat sang DIRI itu di dunia ini, saat ini juga.
Banyak orang yang masih bingung dengan istilah spiritualitas ini. Ada yang menganggapnya hanya sekedar ucapan dan gerak anggota tubuh saja dalam sebuah praktek ibadah dalam bingkai agama. Ada juga yang menganggapnya sebagai sebuah peristiwa bertangis-tangisan akibat syahdunya lantunan do’a dan dzikir yang mendayu-dayu. Bahkan ada yang mengangapnya sebagai hal yang baru dan tidak ada contohnya di zaman Nabi (BID’AH). Padahal peristiwa spiritualitas ini tanpa disadari oleh mereka, sebenarnya sedang terjadi pada diri manusia itu sendiri. Spiritualitas itu sedang mengalir dalam diri manusia tanpa tertahankan sedikitpun, yaitu “proses kejadian manusia” dari waktu ke waktu.
Manusia pada awalnya tiada, lalu ia diciptakan dari saripati tanah (unsur karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen, dll.) dalam bentuk air mani dan ovum yang dipersatukan, lalu ada gerak tumbuh di dalam rahim, lalu dilahirkan, lalu tumbuh dari kecil menjadi besar kemudian tua, lalu mati…!!.