Thursday, June 9, 2016

RAHASIA DI BALIK MATERI

“Apa yang kita lihat dan kita rasakan adalah semu dan hanya pantulan dari keindahan Allah swt”. (seorang imam besar pada jamannya)

“Sesungguhnya Allah swt tergantung dari prasangka kita”

Proses Penglihatan

Saat kita melihat sebuah benda maka cahaya dari benda tersebut ditangkap oleh mata kita dan diubah menjadi gelombang listrik yang kemudian diterjemahkan oleh otak menjadi sebuah gambar di dalam otak kita. Jadi proses tampaknya sebuah benda atau materi oleh kita adalah melalui gelombang listrik yang ada di dalam otak kita. Proses ini terjadi juga pada semua panca indra kita. Yaitu pendengaran, perasa (lidah), peraba (kulit) dan penciuman (hidung) sehingga kita mampu untuk menidentifikasi sesuatu yang berada diluar kita.

Ada pertanyaan menarik disini, bagaimana jadinya kalau kita bisa memanipulasi gelombang listrik sebelum sampai ke otak? Kita bayangkan kalau gelombang listrik yang sampai ke otak bukan dari mata kita atau panca indera lainnya tetapi berasal dari sebuah komputer. Komputer yang mengalirkan data (gelombang listrik) tentang sebuah benda atau kejadian, maka otak kita akan merespon data tersebut sebagai benda nyata seperti yang kita saksikan melalui mata kita. Dengan kata lain selama ini yang kita lihat dan kita rasa hanya dalam bentuk gelombang-gelombang listrik yang diterima oleh otak kita.

Hal yang paling penting disini adalah ketika kita bisa melihat otak kita. Katakanlah kepala Anda sedikit dibuka kemudian anda melihatnya melalui cermin, ini berarti bahwa otak kita juga sebuah benda seperti benda-benda lainnya yang kita lihat sehari-hari atau dengan kata lain semua yang kita lihat adalah ilusi termasuk otak kita.

Lalu apakah atau siapakah sebenarnya yang sedang menyaksikan atau merasakan sesuatu dari luar diri kita melalui otak kita? Jawabannya adalah Ruh kita. Jadi sesungguhnya apa yang kita rasakan atau lihat adalah sesuatu yang tidak nyata seperti yang kita sangka selama ini. Dan ini bisa dibuktikan dengan ilmu pengetahuan sekarang ini.

Mungkin kita bertanya kenapa kita bisa merasakan semua yang ada di dunia ini seperti melihat, menyentuh, mencium dan sebagainya. Jika kita sedang bermimpi, maka kita juga bisa merasakan senang, sakit dan sebagainya seolah-olah bukan dalam dunia mimpi. Hal seperti itulah yang sebenarnya yang sedang dialami ruh kita.
Kalau kita lihat kearah bintang-bintang di langit biasanya akan muncul pertanyaan, mampukah kita menentukan batas akhir dari langit tersebut? Yang menurut perhitungan para ilmuwan masing-masing bintang itu bisa berjarak ratusan juta tahun cahaya, sedangkan satu tahun cahaya berkisar 10 trilyun km. Jumlah bintang-bintang pun tak terhitung jumlahnya. Lalu apakah yang sebenarnya yang kita lihat itu? Kenapa hanya ada satu planet (bumi) saja yang punya kehidupan? Maka sesungguhnya apa yang kita lihat dan kita rasakan adalah ilusi yang diterima oleh otak kita dan dilihat atau dirasa oleh ruh.

Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua hari dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan kami hiasi langit yang terdekat (dengan pandangan kita) dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. (Fushshilat:12)

Lalu siapa yang mampu membuat ilusi jagad raya ini dan seisinya, yang demikian hebat, besarnya dan seimbang serta terus menerus? Tidak lain adalah Allah pencipta semesta alam ini.

Yang absolut adalah Allah swt dan Ruh-Nya

Ketika ruh ditiupkan oleh Allah ke janin seorang ibu, maka pada saat itu ruh sudah bisa menerima data dari lingkungannya yang baru (dunia kita sekarang) tetapi belum bisa sepenuhnya berinteraksi dengan dunia barunya sampai dia dewasa. Hal ini bisa untuk memahami surat Al-A’raaf:172

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu“? Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi“. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan:“Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)“. (Al-A’raaf :172)

Kalau ruh belum cukup “dewasa“ bagaimana mungkin mereka bisa bersaksi tentang Tuhannya? Ini menggambarkan kalau ruh yang diciptakan oleh Allah sudah bersifat absolut dan tidak mengalami perkembangan lagi.

Untuk bisa tetap melihat dunia ini ruh juga harus mendapatkan aliran data (yang berisi tentang kehidupan ini) secara terus menerus dari sumber tertentu (Lauh Mahfudz). Kalau aliran data ini berhenti berarti ruh tersebut tidak bisa merasakan apa-apa lagi atau dengan kata lain manusia itu telah mati dan ruh berada dalam alam kesadaran yang baru yaitu alam kubur.

Ketika seseorang sudah mati ruhnya tidak langsung berada dalam alam akhirat tetapi alam kubur karena harus menunggu manusia lainnya (hari kiamat). Di mana saatnya manusia bersama-sama menyaksikan keagungan Tuhannya.
Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu (hari berbangkit) amat tajam. (Qaaf:22)

Jadi orang yang hidup bisa diasumsikan sebagai seseorang yang sedang bermimpi

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui”. (Al-A’nkabuut : 64)

Terciptanya Alam Semesta

Allah dan Lauh Mahfuzh digambarkan diluar lingkaran yang dianggap sebagai hijab antara Allah dengan makhluk-Nya.

Bumi, Surga, Neraka, Alam Kubur adalah suatu tempat dimana sudah tersedia “film” tentang masing-masing kehidupan didalamnya. Kemudian ruh dipindah-pindahkan (kalau dalam Al Quran disebut “ditiupkan”) oleh malaikat berdasarkan perintah Allah. Kami hanya menggambarkan langit-langit yang di bumi karena hanya itu yang digambarkan oleh Al Quran.

Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dia-lah yang Maha Halus lagi Maha Penyayang. (al an’aam: 103)

Lantas dari manakah kehidupan dunia ini? Untuk menciptakan kehidupan di dunia bagi ruh-ruh cukup bagi Allah dengan “menekan tombol On” di Lauh Mahfuzh, maka mengalirlah data tentang kehidupan ini dari Lauh Mahfuzh ke masing-masing alam (surga,neraka,kubur,dunia). Dan terjadilah sebuah “realitas” bagi masing-masing ruh.

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula) dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (Al An’aam : 59)

Di dalam teori Big Bang disebutkan bahwa alam semesta ini terbentuk dari ledakan besar dari sebuah masa yang sangat padat dengan volume 0! Bisakah anda membayangkan sebuah masa dengan volume nol? Ternyata yang dimaksud ilmuwan disini adalah ledakan ini berasal dari sesuatu yang tidak ada. Dengan kata lain diciptakan!

Ketika kita akan memulai bermain game di dalam komputer, maka hal pertama kali yang kita lakukan adalah menyalakan komputer dan munculah gambar dengan tiba-tiba di monitor komputer kemudian kita memainkannya, meskipun sesungguhnya ada begitu banyak proses di balik munculnya gambar secara tiba-tiba di dalam komputer (monitor). Hal ini bisa menjelaskan terbentuknya alam semesta ini, jika Lauh Mahfuzh ”dinyalakan” maka kehidupan ini akan muncul dengan tiba-tiba karena semua data sudah tersimpan di dalam Lauh Mahfuzh.

Dan sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam hari dan Kami sedikitpun tidak ditimpa keletihan. (Qaaf:38)

Lalu bagaimanakah proses transfer data dari ruh ke Lauh Mahfuzh atau sebaliknya, kita lihat ayat berikut ini:

Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.
(As Sajdah : 5)

“Dia-lah Allah yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan dia berkehendak menuju langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu”. (Al Baqarah: 29)

Ini menjelaskan bahwa proses transfer data dari ruh ke Lauh Mahfuzh dan sebaliknya mempunyai kecepatan luar biasa jika di ukur dengan gerakan kita di dunia ini. Anggaplah kita akan mengirim 2 paket ke Eropa, paket pertama dibawa dengan pesawat sedangkan paket kedua dibawa dengan jalan kaki, maka paket pertama diterima dalam sehari kemudian paket kedua diterima dalam waktu jauh lebih lama, katakanlah 1000 tahun.

Professor Howkins mengatakan, kalau saja jagat raya ini terjadi kesalahan dalam perhitungan sedikit saja katakanlah 1 per juta-juta detik, maka jagad raya ini akan hancur berantakan. Dengan penjelasan yang sederhana sebagai berikut, jika kita di jalan raya yang padat dengan kendaraan kemudian masing-masing kendaraan melaju dengan kecepatan 1000 km per jam, apakah yang terjadi jika masing-masing pengemudi tidak mempunyai perhitungan dan respon yang super cepat? Hancur berantakan!

Ini bisa menjelaskan bahwa Lauh Mahfuzh merupakan “computer” super canggih sehingga mampu mengontrol semua proses kehidupan ini (Allah berkuasa atas segala sesuatunya). Tentu sangat mudah bagi Allah untuk menciptakan atau mematikan segala sesuatu di dunia yang sedang kita saksikan ini.


Mari kita pahami ayat dibawah ini,

Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!”maka terjadilah ia. (Yaasiin: 82)

Jadi cukup bagi Allah hanya dengan “merubah data” di Lauh Mahfuzh, maka berubahlah apa yang disaksikan oleh manusia di dunia ini.

Demikian juga ketika kita berdoa, seorang ulama besar mengatakan bahwa semua cobaan hidup didunia ini telah menggantung di langit menunggu diturunkan kepada setiap manusia hanya doa-lah yang bisa merubahnya. Karena semua data sudah tersimpan di Lauh Mahfuzh dan terus menerus mengalir ke ruh-ruh manusia untuk dipersaksikan sebagai kehidupan ini, maka jalan satu-satunya adalah meminta kepada Allah supaya merubah data yang ada sehingga menghasilkan gambar yang berbeda.

Terjadinya Hari Kiamat dan Berbangkit
Bagaimana halnya dengan hari kiamat dan berbangkit?

Maka apabila bintang-bintang telah dihapuskan . (al mursalaat : 8)
Dan apabila langit telah dibelah . (al mursalaat : 9)
Maka dibukalah lagit, maka terdapatlah beberapa pintu. (an naba : 19)

Cukuplah bagi Allah dengan “menekan tombol Off”, maka terjadilah kiamat karena film kehidupan dunia sudah selesai. Demikian juga halnya dengan hari berbangkit, dengan mudah Allah memutar film berbangkit di alam dunia kemudian mengirim ruh-ruh yang berada di alam kubur masuk ke alam dunia lagi, maka sekali lagi ruh-ruh tersebut mengalami kehidupan di alam dunia. Dan dengan mudah bagi Allah memutar ulang apa saja yang telah dilakukan ruh-ruh di kehidupan sebelumnya untuk dipersaksikan kepada masing-masing ruh karena semua data tersimpan di dalam Lauh Mahfuzh.

  • Maka sesunguhnya kebangkitan itu hanya dengan satu teriakan saja, maka tiba-tiba mereka melihatnya. (ash shaaffaat: 19)
  • Maka dengan serta merta mereka hidup kembali di permukaan bumi. (an naazi’aat: 14)
  • Dan apabila langit dilenyapkan. (at takwiir: 11)
  • Dan apabila neraka jahim dinyalakan. (at takwiir: 12)
  • Dan apabila surga ditampakkan. (at takwiir: 13)
  • Yaitu hari ketika manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam. (at takwiir: 11)
  • Dan apabila ruh-ruh dipertemukan (ditemukan dengan tubuhnya). (at takwiir:7)
  • Yaitu pada hari bumi terbelah-belah menampakkan mereka (lalu mereka keluar) dengan cepat. Yang demikian itu adalah pengumpulan yang mudah bagi kami. (qaaf:44)
  • Pada hari ketika ruh dan para malaikat berdiri bershaf-shaf, mereka tidak berkata-kata kecuali siapa yang diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pemurah dan ia mengucapkan kata yang benar. (an naba':38)

Seperti dijelas di beberapa ayat alquran, ketika hari berbangkit nanti manusia diberi buku catatan. Buku digunakan di dalam ayat ini untuk memberi gambaran kepada manusia kalau rekaman kehidupan sebelumnya bisa diputar ulang, hanya dengan mengalirkan kembali data mereka masing-masing dari Lauh Mahfuzh, karena ketika alquran diturunkan belum ada televisi atau monitor computer yang ada hanyalah buku. Sehingga benda yang bisa menjelaskan kepada manusia pada waktu itu adalah buku dan buku akan tetap dikenal oleh manusia sampai kapanpun.

Dan terang benderanglah bumi (padang mahsyar) dengan cahaya (keadilan) Tuhannya, dan diberikanlah buku (perhitungan perbuatan masing-masing) ….... (az zumar: 69)

Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.
(al-a’nkabuut : 64)

“Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap, dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorangpun yang dapat menahan keduannya selain Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun”.
(Faathir: 41)

“Dan sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu makhluk yang melatapun, akan tetapi Allah menangguhkanmereka sampai waktu tertentu; maka apabiladatang ajal mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya”. (Faathir: 45)

No comments :

Post a Comment